TVRINews - Zurich, Swiss

Aturan kartu merah bagi pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes muncul setelah kontroversi besar di final Piala Afrika 2025.

Perubahan regulasi menyebutkan wasit dapat memberikan sanksi kartu merah kepada pemain mana pun yang meninggalkan lapangan permainan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit.

Pemain yang menutup mulut saat berhadapan dengan lawan atau meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit berpotensi langsung menerima kartu merah pada Piala Dunia 2026. Perubahan regulasi ini telah disetujui oleh International Football Association Board (IFAB) menjelang Kongres FIFA yang digelar di Vancouver, Kamis (30/4/2026).

IFAB memastikan bahwa protokol baru tersebut akan mulai diterapkan pada turnamen yang berlangsung pada musim panas ini. Namun, badan tersebut tidak mewajibkan kompetisi lain untuk mengikuti aturan yang sama. Penerapannya di luar Piala Dunia akan diserahkan kepada masing-masing penyelenggara kompetisi.

Aturan kartu merah bagi pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes muncul setelah kontroversi besar di final Africa Cup of Nations (Piala Afrika) 2025. Dalam pertandingan tersebut, sejumlah pemain Senegal keluar lapangan sebagai protes terhadap keputusan penalti di menit akhir. 

Penalti itu diambil oleh Brahim Diaz dari Maroko, namun gagal dikonversi menjadi gol setelah penundaan panjang. Senegal akhirnya tetap memenangkan pertandingan melalui perpanjangan waktu.

Dikutip dari The Guardian, Rabu (29/4/2026), dalam pernyataan resminya, IFAB menegaskan: “Atas kebijakan penyelenggara kompetisi, wasit dapat memberikan sanksi kartu merah kepada pemain mana pun yang meninggalkan lapangan permainan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit.” 

Pernyataan itu juga menambahkan, “Aturan baru ini juga berlaku bagi ofisial tim yang mendorong pemain untuk meninggalkan lapangan. Tim yang menyebabkan pertandingan dihentikan pada prinsipnya akan dinyatakan kalah.”

Meski demikian, aturan ini tidak lepas dari kritik, terutama dari liga-liga domestik di Eropa. Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan situasi di mana pemain meninggalkan lapangan karena menjadi korban pelecehan rasial. Dalam kasus seperti itu, pemberian kartu merah dinilai bisa menjadi tidak adil.

Isu ini makin sensitif setelah insiden yang melibatkan bintang Vinicius Junior dari Real Madrid. Ia menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, melakukan pelecehan rasial sambil menutup mulut dengan bajunya dalam sebuah pertandingan pada Februari lalu.

Sebagai tindak lanjut, UEFA menjatuhkan larangan bermain enam pertandingan kepada Prestianni setelah ia mengakui telah membuat komentar homofobik. Presiden FIFA, Gianni Infantino, kemudian menyerukan tindakan tegas terhadap perilaku serupa.

Infantino juga mendorong hukuman yang lebih berat bagi pemain yang meninggalkan lapangan setelah kontroversi di final Afcon tersebut. Menariknya, dewan banding Confederation of African Football kemudian membatalkan hasil pertandingan final dan memberikan kemenangan kepada Maroko. Namun, Senegal telah mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport untuk menantang keputusan tersebut.

Dengan aturan baru ini, Piala Dunia 2026 diprediksi akan menghadirkan pendekatan disiplin yang lebih ketat, sekaligus memicu perdebatan soal keseimbangan antara penegakan aturan dan perlindungan pemain.