TVRINews - Roma, Italia

Meski ambisius, rencana ini menghadapi tembok besar karena penolakan internal dari publik sepak bola Italia sendiri.

Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Paolo Zampolli, masih belum lelah mendorong Italia untuk menggantikan Iran di Piala Dunia 2026. Bahkan ia mengklaim Gli Azzurri punya peluang 50 persen untuk berpartisipasi dalam ajang bergengsi tersebut.

Zampolli, yang merupakan seorang mantan agen model keturunan Italia-Amerika, kini memegang peranan penting sebagai utusan khusus Presiden Trump untuk kemitraan global. Di tengah kesibukannya, ia secara personal terus bermanuver mendorong FIFA agar bersedia melakukan perubahan kontroversial demi menyertakan Italia di Piala Dunia 2026.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi alasan utama di balik munculnya wacana pergantian kontestan tersebut. Saat ini, kedua negara sedang berperang sejak akhir Februari lalu. 

Kondisi tersebut memicu keraguan besar mengenai jaminan keselamatan skuad Iran jika tetap memaksakan hadir di tanah Amerika Serikat. Sampai sekarang, Team Melli masih belum mengambil keputusan untuk ambil bagian atau tidak dalam Piala Dunia 2026.

Melihat celah tersebut, Zampolli melancarkan argumen bahwa FIFA memiliki alasan kuat untuk mencoret Iran dari daftar peserta. Ia menyarankan agar posisi yang kosong tersebut diberikan kepada Italia, mengingat status mereka sebagai tim dengan peringkat FIFA tertinggi yang gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.

“Saya berani katakan ada peluang lebih dari 50 persen bagi Italia untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia,” kata Zampolli saat diwawancarai oleh RAI GR Parlamento di Italia

Keyakinan Zampolli didasarkan pada lobi-lobi tingkat tinggi yang sedang diupayakannya di balik layar diplomasi olahraga. Pertemuan strategis untuk membahas rencana ini dikabarkan segera terjadi dalam waktu dekat di sela-sela agenda olahraga lainnya. 

“Saya akan bertemu Gianni Infantino di Miami untuk GP Formula 1 akhir pekan ini,” ungkap Zampolli mengenai agendanya dengan Presiden FIFA tersebut.

Zampolli merasa esensi sebuah kompetisi dunia akan terasa hambar jika negara dengan sejarah sepak bola sebesar Italia harus absen. Mengingat, Italia merupakan negara peraih empat gelar Piala Dunia.

“Seharusnya tidak ada Piala Dunia tanpa Italia, keputusan ini sekarang berada di tangan Infantino dan Trump,” ujarnya merujuk pada pemegang kebijakan tertinggi.

Menariknya, ambisi Zampolli ini tampaknya merupakan inisiatif pribadi yang tidak mendapatkan dukungan penuh dari publik sepak bola di tanah kelahirannya. Banyak tokoh penting sepak bola Italia justru telah menyatakan mereka akan menolak jika harus masuk ke Piala Dunia menggantikan Iran.

“Saya melihat bahwa Iran masih belum dikonfirmasi partisipasinya karena perang, jadi saya bertanya kepada Infantino mengenai peluang Italia dipanggil kembali,” tuturnya.

Isu keamanan dan ketatnya birokrasi di perbatasan Amerika Serikat saat ini menjadi poin tambahan dalam argumen yang Zampolli sampaikan. Menurutnya, proses seleksi orang yang masuk ke wilayah Negeri Paman Sam kini menjadi jauh lebih ketat dari sebelumnya karena alasan proteksi nasional.

“Di atas itu semua, visa sangat sulit didapatkan sekarang dan kami tidak ingin ada orang-orang datang yang mungkin bisa melakukan hal-hal buruk. Jika Anda mengirimkan orang-orang yang tidak disambut di Amerika Serikat, maka lebih baik mereka memang tidak datang,” ujarnya.

Terkait sikap resmi dari kantor kepresidenan, Zampolli mengakui dirinya masih menunggu arahan lebih lanjut. “Saya belum berbicara dengan Trump lagi, tetapi dia sendiri juga belum memutuskan pilihannya ke arah mana pun.”

Selain itu, Zampolli menekankan meski para pemain secara individu tidak dilarang, sentimen nasionalisme tetap menjadi tolok ukur utama. Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan masyarakat Amerika Serikat dan Piala Dunia 2026.

“Pemain Iran dipersilakan, tetapi Sekretaris Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sudah sangat jelas bahwa kita tidak bisa mengizinkan masuk orang-orang yang tidak mencintai Amerika Serikat,” katanya.

“Jika Iran tidak berpartisipasi, saya tidak tahu apakah kita siap membawa tim lain, tetapi di dunia ini apa pun bisa saja terjadi,” ia melanjutkan.