TVRINews - Amsterdam, Belanda

Belanda dikenal sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola dunia dan pencipta permainan Total Football. Namun anehnya, Tim Oranye belum pernah menjuarai Piala Dunia.

Pelatih Ronald Koeman sudah mengumumkan daftar 26 pemain Timnas Belanda yang akan berlaga di Piala Dunia 2026, 11 Juni-19 Juli mendatang di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. 

Pemilihan nama-nama itu tentu tidak sembarangan dilakukan Koeman, mengingat selama ini Belanda dikenal sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola dunia. Skuad Oranye melahirkan filosofi “Total Football”, deretan pemain legendaris, hingga generasi emas di berbagai era. 

Namun anehnya, Belanda belum pernah menjuarai Piala Dunia meski berkali-kali nyaris menyentuh trofi paling bergengsi tersebut. Selain itu, ada beberapa fakta lainnya yang membuat Belanda merasa terkekang tiap tampil di turnamen besar.

Berikut ini lima “kutukan” yang masih membayangi perjalanan Timnas Belanda hingga sekarang, dikutip dari berbagai sumber.

1. Kutukan Laga Final: Tiga Kali Masuk Final, Tiga Kali Gagal Juara

Kutukan terbesar Belanda tentu datang dari final Piala Dunia. Mereka mencapai partai puncak pada Piala Dunia 1974, 1978, dan 2010, tetapi semuanya berakhir dengan kekalahan.

Pada 1974, generasi emas yang dipimpin Johan Cruyff tampil revolusioner lewat permainan Total Football. Namun Belanda kalah 1-2 dari Jerman dalam laga final.

Empat tahun kemudian, Belanda kembali ke final Piala Dunia 1978. Kali ini mereka tumbang dari tuan rumah Argentina dengan skor 1-3 setelah perpanjangan waktu.

Luka lama kembali terbuka pada 2010 saat Belanda yang diperkuat Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Robin van Persie kalah 0-1 dari sang juara, Spanyol, lewat gol Andres Iniesta.

2. Generasi Emas yang Sering Berakhir Tanpa Trofi

Belanda hampir selalu memiliki skuad bertabur bintang. Dari era Cruyff, generasi Marco van Basten, hingga era Wesley Sneijder dan Arjen Robben, Tim Oranye kerap disebut punya materi pemain kelas dunia.

Namun sebagian besar generasi itu gagal mengangkat trofi besar. Satu-satunya gelar mayor Belanda hanyalah Piala Eropa 1988. Setelah itu, banyak generasi hebat justru kandas di semifinal atau final turnamen besar, termasuk Piala Dunia.

Hal inilah yang membuat Belanda sering disebut sebagai “juara tanpa mahkota", atau "tim terbaik yang tidak pernah juara dunia”.

3. Selalu Kandas pada Momen Krusial

Belanda punya sejarah panjang gagal saat pertandingan penentuan. Mereka sering tampil dominan sepanjang turnamen, tetapi kehilangan momentum di laga penting.

Contohnya terjadi pada semifinal Piala Dunia 1998 ketika Belanda disingkirkan Timnas Brasil lewat adu penalti. Begitu pula di Piala Eropa 2000 saat mereka gagal menaklukkan Italia meski tampil dominan dan mendapat dua penalti.

Kutukan mental dalam laga-laga besar seolah terus mengikuti Tim Negeri Kincir Angin dari generasi ke generasi.

4. Mimpi Buruk dalam Drama Adu Penalti 

Adu penalti menjadi mimpi buruk tersendiri bagi Belanda. Mereka beberapa kali tersingkir lewat drama tos-tosan di turnamen besar.

Selain Piala Eropa 2000, Belanda juga kalah adu penalti dari Argentina pada semifinal Piala Dunia 2014. Ironisnya, saat itu mereka hanya terpaut satu langkah menuju final.

Kegagalan demi kegagalan di adu penalti membuat banyak fans Oranje menganggap momen tersebut sebagai kutukan tersendiri.

5. Beban Bayang-bayang Filosofi Total Football

Belanda identik dengan sepak bola indah dan menyerang. Filosofi Total Football yang diwariskan Johan Cruyff membuat Oranye selalu dituntut bermain atraktif.

Namun di sisi lain, tuntutan itu kadang dianggap menjadi beban. Saat negara lain lebih pragmatis demi kemenangan, Belanda sering tetap mencoba bermain idealis. Akibatnya, mereka kerap dipuji karena kualitas permainan, tetapi gagal membawa pulang trofi. 

Secara historis, perdebatan antara keindahan bermain (Total Football) melawan pragmatisme hasil memang selalu menjadi dikotomi besar dalam sepak bola Belanda, terutama saat transisi ke era Bert van Marwijk (2010) atau Louis van Gaal yang lebih pragmatis.