TVRINews – Kirkuk, Irak

Aymen Hussein, striker yang menghancurkan mimpi Bolivia ke Piala Dunia, kembali ke tanah kelahirannya dalam suasana yang emosional sekaligus mengejutkan karena lingkungan sekitarnya.

Keberhasilan Tim Nasional Irak lolos dari kualifikasi ke Piala Dunia 2026 bukan sekadar prestasi olahraga. Sukses itu juga merupakan adegan yang sarat dengan simbolisme, emosi, dan konteks realitas kompleks yang terjadi di Irak. 

Pasalnya, kepulangan timnas Irak, dan terutama salah satu pahlawannya, terjadi di tengah latar belakang yang sulit diabaikan, yakni konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. 

Irak kembali ke Piala Dunia setelah 40 tahun—usai debut pada 1986 di Meksiko, dengan mengalahkan Bolivia 2-1 di babak play-off antarkonfederasi di Monterrey Stadium, Meksiko, pada 31 Maret lalu. 

Hasil bersejarah ini memicu perayaan di seluruh negeri dan menandai kembalinya Singa Mesopotamia—julukan timnas Irak—ke panggung sepak bola terbesar. 

Di sepanjang jalan itu, salah satu nama yang paling menonjol adalah Aymen Hussein. Seorang striker, pencetak gol penentu kemenangan Irak, dan simbol tim ini. Tetapi kisahnya jauh melampaui apa yang terjadi di lapangan.

Video yang menjadi viral dalam beberapa jam terakhir menunjukkan kepulangan Hussein ke tanah kelahirannya di Al Safra, Kirkuk, Irak di tengah operasi keamanan yang ketat. 

Senapan, tentara, pengawal, letusan senjata yang ditembakkan ke udara, dan lain-lain terlihat jelas. Kontras yang mencolok dengan kegembiraan saat itu. 

Ini bukan pemandangan umum dalam sepak bola, tetapi mencerminkan realitas sebuah negara yang porak-poranda akibat konflik selama bertahun-tahun. 

Kisah Aymen Hussein, Pahlawan Rakyat Irak

Di sinilah latar belakang Aymen Hussein berperan. Hussein bukan hanya pahlawan yang mengamankan kualifikasi melawan Bolivia. Ia juga seseorang yang terluka akibat perang. Ayahnya, Saddam, adalah seorang tentara yang tewas pada tahun 2008 oleh kelompok Al-Qaeda. 

Namun itu bukan satu-satunya pukulan. Selama masa mudanya, Hussein juga kehilangan salah satu saudara laki-lakinya—diculik oleh ISIS bertahun-tahun setelah kelompok itu menguasai kota kelahirannya—dan hingga hari ini, keberadaannya tetap tidak diketahui. 

Meskipun demikian, Hussein berhasil bertahan dalam olahraga paling populer di dunia ini. Ia berlatih dan bekerja keras hingga menjadi seorang profesional di lingkungan dengan peluang yang sangat terbatas bagi orang-orang seperti dirinya. 

Oleh karena itu, kembalinya Hussein ke tanah air bukanlah sekadar kepulangan biasa. Ini adalah kembalinya pulang seorang pemain sepak bola yang tumbuh dalam keadaan sulit dan yang kini telah menjadi simbol kegembiraan kolektif. 

Di tengah ketegangan regional dan situasi yang kompleks, sepak bola telah muncul sebagai jalan keluar bagi masyarakat Irak. 

Sejak debut bersama timnas Irak pada 26 Agustus 2015, Hussein tercatat sudah 89 kali membela Singa Mesopotamia dengan torehan 33 gol. 

Ia kini berada di posisi kelima daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Irak di bawah Hussein Saeed (78 gol), Ahmed Radhi (62), Younis Mahmoud (57), dan Ali Kadhim (36). 

Kendati sudah berusia 30 tahun, Hussein yang kini memperkuat klub Al Karma di Iraq Stars League, memang praktis belum pernah memperkuat klub di luar kawasan Timur Tengah.  

Pesta di Tengah Situasi Konflik

Irak, tim terakhir yang memastikan tempat di Piala Dunia 2026, harus berjuang hingga putaran kelima kualifikasi zona Asia (AFC). Kemenangan agregat 3-2 atas Uni Emirat Arab membuat Irak berhak mengikuti play-off antarkonfederasi. 

Kemenangan atas Bolivia sekaligus membuat Asia berhak atas sembilan tempat di turnamen yang akan berlangsung di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, itu. 

Karena itu, tidak mengherankan jika keberhasilan Singa Mesopotamia lolos ke Piala Dunia setelah perjuangan dan penantian panjang, memicu ledakan kegembiraan di jalan-jalan ibu kota Irak, Baghdad, kota terbesar kedua di dunia Arab. 

Musik, kembang api, dan bahkan tembakan senjata menandai pagi yang penuh emosi, dengan ribuan orang merayakan di jalan-jalan dan alun-alun. 

Semua itu terjadi dalam konteks yang kompleks: negara tersebut sedang mengalami konflik regional setelah pecahnya perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang juga berdampak langsung pada wilayah Irak. 

Bendera berkibar dari mobil dan truk, orang asing berpelukan. Bahkan, tidak sedikit pedagang kaki lima yang menawarkan teh gratis sebagai simbol perayaan bersama.