TVRINews - Odense, Denmark

Christian Eriksen kolaps lagi saat bermain, seperti lima tahun lalu. Sebuah peringatan bagi sisi medis pemain menjelang Piala Dunia 2026.

Denmark memang bukan partisipan di Piala Dunia 2026. Namun, kejadian yang menimpanya perlu mendapat perhatian dunia, termasuk menjadi peringatan untuk turnamen empat tahunan beberapa hari lagi.

Dalam partai persahabatan melawan Ukraina di Odense pada Minggu (7/6/2026), gelandang senior Denmark, Christian Eriksen, jatuh pingsan pada menit ke-65. Laga dihentikan, dan Eriksen dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Odense. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mencari tahu penyebab Eriksen kolaps. 

Pemain kelahiran Middelfart itu sebenarnya sudah siuman setelah perawatan di lapangan. Christian Eriksen bahkan dapat berjalan untuk meninggalkan lapangan atas seizin tim media.

Berita yang lebih melegakan muncul beberapa jam kemudian. Pada Senin pagi, di situs Asosiasi Sepak Bola Denmark (DBU), Dokter Timnas Denmark, Morten Boesen, mengabarkan bahwa kondisi Christian Eriksen berangsur membaik.

"Saya telah berbicara dengan Christian pagi ini. Kondisinya baik-baik saja. Ia tengah bersama keluarga dan berada dalam kondisi yang baik," ucap Boesen seperti dikutip dari The Guardian

Boesen menjelaskan pula keyakinannya bahwa alat pacu yang ditanamkan di jantung Christian Eriksen telah mengirimkan sinyal saat kejadian nahas tersebut. 

"Kami terus berkomunikasi dengannya dan para dokter di rumah sakit. Namun, Christian dalam keadaan baik, dan dia meminta saya untuk menyapa semua pemain dan memberi tahu mereka bahwa dia baik-baik saja," kata Boesen. Sang dokter memperkirakan Eriksen akan segera diizinkan pulang dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya.

Kengerian di Odense ini tak pelak segera mengirim ingatan penggemar sepak bola kepada peristiwa serupa hampir lima tahun silam. Pada 12 Juni 2021, ketika Denmark melakoni laga fase grup Euro 2020 melawan Finlandia di Kopenhagen, Eriksen tersungkur di tengah laga karena mengalami serangan jantung. 

Setelah perawatan pertama yang intensif dan menegangkan di lapangan, nyawa Christian Eriksen berhasil diselamatkan dan dilarikan ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, eks gelandang Tottenham itu dipasangi defibrillator atau perangkat kejut di jantungnya. Eriksen dapat meneruskan kariernya atas izin media dokter ketika itu.

Christian Eriksen masih tercatat sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Timnas Denmark. Partai menghadapi Ukraina di Odense merupakan laga ke-151 eks pemain Man United dan Brentford yang kini berusia 34 tahun itu.


Pengujung Karier

Peristiwa yang dialami Eriksen di Odense itu mendapat perhatian sekaligus kekhawatiran. "Doa dan dukungan tulus saya untuk Christian Eriksen dan semua pihak di sekitarnya. Ini sungguh kejadian yang menakutkan. Dan merupakan kelegaan besar kondisinya cukup baik mengingat situasi yang terjadi," tulis Mette Frederiksen, Perdana Menteri Denmark, di media sosial Facebook.

Musim ini, Eriksen gagal mengangkat Wolfsburg. Klub itu mesti terdegradasi dari Divisi 1 Bundesliga.

Pada akhir Maret silam, Danish Dynamite terbilang tinggal sedikit lagi tampil di Piala Dunia ketujuh mereka. Denmark tersingkir secara menyakitkan, melalui adu penalti, dari Republik Ceko, di final play-off Eropa Jalur D. Di semifinal, Pierre-Emile Hojbjerg cs. secara perkasa mengempaskan Masedonia Utara. Eriksen tampil sebagai pemain pengganti di dua laga play-off tersebut.

Setelah kolaps lagi, Christian Eriksen disebut akan diharuskan untuk gantung sepatu. Untuk pengaruh jangka pendek yang tidak secara langsung, situasi Eriksen memunculkan perhatian di turnamen yang gagal diikuti Denmark, yakni Piala Dunia 2026 yang akan dihelat di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada 11 Juni sampai 19 Juli nanti. Setidaknya, FIFA melayangkan atensi pada kejadian Eriksen.

"Saya merasa lega mendengar bahwa Christian Eriksen sadar dan mendapatkan perawatan yang diperlukan. Saya mendoakan kepulihannya. Keprihatinan saya layangkan pula untuk keluarga dan setiap orang di Timnas Denmark. Saya ingin secara khusus memuji staf medis dan petugas pertandingan untuk respons cepat profesional mereka," ujar Presiden FIFA, Gianni Infantino, di akun media sosialnya seperti dikutip situs idman.biz.