TVRINews - Melbourne, Australia

Soal ilmu kepelatihan, pelatih Curacao, Fred Rutten, mengaku belajar langsung dari Guus Hiddink ketika masih di PSV Eindhoven.

Euforia kini tengah menyelimuti Timnas Curacao jelang debut bersejarah mereka di Piala Dunia. Negara kecil di wilayah Karibia itu kini berada di panggung terbesar sepak bola dunia, Piala Dunia 2026.

Curacao membawa mimpi besar yang terasa nyaris mustahil menjadi kenyataan beberapa tahun lalu. Di balik perjalanan luar biasa ini, tongkat estafet kepelatihan kini berada di tangan Fred Rutten.

Pelatih asal Belanda yang datang menggantikan kompatriotnya, Dick Advocaat, ini hadir dengan satu misi: melanjutkan keajaiban dan, kalau bisa, menciptakan kejutan baru. Di tengah kesibukannya memimpin tim mengikuti FIFA Series di Australia, media Inggris, The Guardian, mewawancarai pelatih berusia 63 tahun itu. Berikut petikannya:

Fred Rutten, bagaimana perasaan Anda setelah resmi ditunjuk sebagai pelatih Curacao?

Antusiasmenya sudah terasa sejak awal. Saya bangun dengan perasaan itu dan tidur pun dengan perasaan yang sama. Bahkan, tidak lama setelah kabar penunjukan saya keluar, kiper Eloy Room mengirim pesan: “Halo bos, selamat datang di keluarga.” Itu sambutan yang sangat hangat.

Banyak yang terkejut dengan penunjukan Anda. Apakah ini keputusan mendadak?

Tidak juga. Federasi sebenarnya sudah menghubungi saya sejak tahun 2023 sebelum kualifikasi dimulai. Saat itu saya sangat tertarik, tetapi tidak bisa menerima karena masalah kesehatan. 

Saya lalu merekomendasikan Dick Advocaat, dan dia berhasil melakukan hal luar biasa dengan membawa Curacao lolos ke Piala Dunia 2026. Ketika dia mundur, dia menyarankan nama saya, dan federasi bergerak cepat.

Bagaimana Anda melihat keputusan Dick Advocaat mundur dari tim?

Situasinya sangat menyedihkan karena alasan keluarga. Tapi dukungan darinya membuat saya lebih mudah menerima tugas ini. Saya akan melanjutkan arah yang sudah dia bangun. Akan sangat aneh jika pelatih baru datang lalu mengubah semuanya secara drastis. Dia pelatih yang sangat kompeten.

Apakah Anda sempat berdiskusi langsung dengan Advocaat sebelum mengambil alih tim?

Ya, kami bertemu. Dia menyerahkan semua informasi dengan sangat baik. Itu sangat membantu saya.

Seberapa mengenal Anda dengan skuad Curacao saat ini?

Saya sudah pernah bekerja dengan beberapa pemain, seperti Eloy Room di Vitesse, serta Armando Obispo, Jurgen Locadia, dan Shurandy Sambo di PSV. Itu tentu menjadi keuntungan.

Curacao akan menjadi negara terkecil di Piala Dunia 2026. Bagaimana Anda melihat tantangan ini?

Ini sebuah tantangan besar dan menarik. Negara ini kecil, baik dari sisi populasi maupun wilayah, tetapi kami punya ambisi untuk membuat kejutan.

Bagaimana hasil debut Anda sebagai pelatih Curacao?

Sayangnya, pertandingan pertama kami berakhir dengan kekalahan 0-2 dari Tiongkok di Accor Stadium, Sydney.

Mengapa Curacao sering menggunakan pelatih asal Belanda?

Itu cukup logis karena Curacao adalah bagian dari Kerajaan Belanda dan banyak pemain lahir di sana. Direktur Teknik Khalid Sinouh juga pernah bekerja dengan saya di PSV, jadi dia mengenal saya dengan baik.

Apa filosofi kepelatihan yang Anda pegang?

Saya belajar banyak saat di PSV bersama Guus Hiddink. Kami punya pemain dari berbagai negara seperti Brasil dan Peru yang punya kebiasaan berbeda, seperti mendengarkan musik dan menari sebelum pertandingan. 

Saya sempat bertanya apakah itu perlu dihentikan, tapi Hiddink bilang biarkan saja. Dan ternyata, saat pemanasan mereka tetap sangat fokus. Itu membuka mata saya tentang pentingnya memberi kebebasan ekspresi kepada pemain.

Seberapa penting peran Guus Hiddink dalam karier Anda?

Sangat besar. Saat saya menjadi asistennya di PSV, pemain tahu saya mendapat kepercayaan penuh darinya. Bahkan ketika dia menangani Australia saat jeda internasional, saya tetap menjalankan latihan tim.

Anda punya pengalaman melatih di banyak negara. Seberapa penting pengalaman itu?

Sangat penting. Saya pernah melatih di Jerman, Uni Emirat Arab, Israel, dan Belgia. Semua itu membentuk cara saya memahami pemain dari latar belakang berbeda.

Bisa ceritakan perjalanan Anda sebagai pemain?

Saya pindah ke Enschede saat usia 15 tahun untuk bermain di Twente, di masa sulit setelah ayah saya meninggal. Saya kemudian menjadi pemain setia di sana dan sempat sekali membela tim nasional Belanda pada 1988. Sayangnya, saya tidak masuk skuad Piala Eropa yang akhirnya dimenangkan Belanda.

Bagaimana awal karier Anda sebagai pelatih?

Saya memulai sebagai asisten di Twente sebelum menjadi pelatih kepala pada 1999. Salah satu momen terbaik adalah saat kami menjuarai Piala Belanda pada 2001 setelah mengalahkan PSV lewat adu penalti.

Ada cerita unik tentang cara Anda memotivasi pemain saat final tersebut?

Ya, saya ingin pemain merasakan dukungan fans. Sekitar 35.000 suporter datang ke De Kuip di Rotterdam. Saya bekerja sama dengan stasiun TV untuk merekam perjalanan mereka dan mengirim rekamannya dengan helikopter ke hotel tim. Saat pemain menonton video itu, ruangan menjadi sangat hening. Mereka benar-benar merasakan apa yang mereka perjuangkan.

Bagaimana pendekatan Anda dalam mengelola pemain?

Manajemen pemain sangat penting. Saya selalu mencoba memahami mereka secara personal. Itu yang membuat banyak pemain menghormati saya.

Ada cerita tentang pengaruh Anda terhadap pemain?

Patrick van Aanholt pernah mengatakan bahwa saya membantu menjaga kariernya tetap di jalur yang benar saat masa sulit di Vitesse ketika dia dipinjamkan dari Chelsea.

Bagaimana dengan isu pengaruh Chelsea terhadap Vitesse saat itu?

Memang ada hubungan, dan Chelsea berharap pemain pinjaman mereka dimainkan. Tapi saya tidak dipaksa. Saya fokus pada tim, sementara urusan lain ditangani direktur teknik.

Anda pernah hampir melatih di Inggris?

Ya, saya sempat ditawari melatih Charlton Athletic oleh Roland Duchatelet, tapi setelah menonton beberapa pertandingan mereka, saya merasa tidak banyak yang bisa dicapai.

Bagaimana dengan kesempatan bergabung ke Manchester United?

Sekitar empat tahun lalu, Erik ten Hag meminta saya menjadi asistennya di Manchester United. Saya sempat mempertimbangkannya, tapi saya ingin lebih sering bersama keluarga. Kalau saya 10 tahun lebih muda, saya pasti akan menerimanya.

Apa yang Anda lakukan sebelum menangani Curacao?

Saya kembali ke PSV sebagai asisten Ruud van Nistelrooy, membantu tim memenangkan Piala Belanda, dan memimpin tim di laga terakhir musim 2022/2023 setelah dia mundur. Selain itu, saya juga menjadi penasihat dewan di NEC Nijmegen, membantu dalam komposisi skuad dan perekrutan staf.

Bagaimana persiapan Curacao menuju Piala Dunia?

Kami akan menghadapi tim-tim kuat seperti Jerman, Pantai Gading, dan Ekuador. Ini tantangan besar.

Apa target Anda di Piala Dunia nanti?

Kami punya ambisi untuk membuat kejutan. Dalam tiga pertandingan, selalu ada tiga peluang. Jika Leicester City bisa menjuarai Premier League, maka di sepak bola semuanya mungkin. Di Piala Dunia selalu ada kejutan.