TVRINews - New Jersey, Amerika Serikat

Biaya transportasi publik menuju stadion diperkirakan melonjak tajam saat Piala Dunia 2026, bahkan bisa menembus lebih dari 100 dolar AS atau sekitar Rp1,6 juta sekali jalan.

Menurut laporan The Athletic, dikutip Jumat (17/4/2026), tiket kereta dari Penn Station di New York menuju MetLife Stadium diprediksi akan melampaui angka tersebut saat hari pertandingan. Padahal, tarif normal untuk rute yang sama hanya sekitar 12,90 dolar AS atau sekitar Rp206 ribu.

Gubernur New Jersey, Mikie Sherrill, mendesak FIFA untuk ikut menanggung biaya transportasi selama gelaran Piala Dunia 2026. Permintaan ini muncul setelah biaya transportasi publik menuju stadion diperkirakan melonjak tajam, bahkan bisa menembus lebih dari 100 dolar AS atau sekitar Rp1,6 juta sekali jalan.

Menurut laporan The Athletic, dikutip Jumat (17/4/2026), tiket kereta dari Penn Station di New York menuju MetLife Stadium diprediksi akan melampaui angka tersebut saat hari pertandingan. Padahal, tarif normal untuk rute yang sama hanya sekitar 12,90 dolar AS atau sekitar Rp206 ribu.

Sherrill menegaskan bahwa ia tidak ingin masyarakat New Jersey menanggung beban biaya tersebut dalam jangka panjang. Dalam pernyataannya di media sosial X, ia mengatakan, “Saya tidak akan membiarkan para komuter di New Jersey menanggung biaya ini selama bertahun-tahun ke depan. Itu tidak adil. FIFA seharusnya membayar biaya transportasi ini, tetapi jika tidak, saya tidak akan membiarkan warga New Jersey dirugikan.”

Hingga kini, harga resmi tiket kereta memang belum diumumkan. Namun, laporan menyebutkan bahwa pihak Sherrill, panitia lokal Piala Dunia, dan NJ Transit tidak membantah kemungkinan tarif akan melebihi 100 dolar AS (sekitar Rp1,6 juta).

Dalam unggahan lainnya, Sherrill mengkritik kesepakatan yang ada saat ini. “Kami mewarisi perjanjian di mana FIFA tidak menyumbang satu dolar pun untuk transportasi Piala Dunia. Sementara NJ Transit harus menanggung biaya sebesar 48 juta dolar AS (sekitar Rp768 miliar) untuk mengangkut 40.000 penonton dengan aman dari stadion ke tujuan mereka, FIFA justru menghasilkan 11 miliar dolar AS (sekitar Rp176 triliun) dari turnamen ini,” ujarnya. 

“Saya tidak akan membebani pembayar pajak New Jersey dengan biaya ini selama bertahun-tahun,” Sherrill menambahkan.

Kritik serupa juga datang dari Gubernur New York, Kathy Hochul. Ia menilai harga tersebut terlalu tinggi dan tidak sejalan dengan semangat inklusivitas Piala Dunia. “Piala Dunia seharusnya bisa diakses dan terjangkau bagi semua orang. Mengenakan biaya lebih dari 100 dolar AS untuk perjalanan kereta singkat terdengar sangat mahal bagi saya,” ujarnya.

Kontroversi ini tidak hanya terjadi di New Jersey dan New York. Di Massachusetts, biaya transportasi juga menjadi sorotan. Tiket kereta dari Boston ke Foxborough dilaporkan mencapai 80 dolar AS (sekitar Rp1,28 juta), sementara tarif bus bisa mencapai 95 dolar AS (sekitar Rp1,52 juta).

Lonjakan harga ini memicu kekhawatiran bahwa Piala Dunia 2026, yang seharusnya menjadi pesta sepak bola global, justru bisa menjadi beban finansial bagi para penggemar dan warga lokal. Kini, tekanan terhadap FIFA semakin besar untuk ikut bertanggung jawab atas aspek logistik yang krusial ini.

FIFA Kaget Kritik Gubernur Soal Transportasi Piala Dunia

FIFA akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait kritik dari Gubernur New Jersey, Mikie Sherrill, mengenai mahalnya biaya transportasi menuju stadion saat Piala Dunia 2026. Dalam pernyataan yang dibagikan kepada The Athletic, FIFA mengaku terkejut dengan sikap yang diambil oleh pemerintah setempat.

“Kami cukup terkejut dengan pendekatan Gubernur New Jersey hari ini terkait transportasi penonton,” kata juru bicara FIFA dalam pernyataan tersebut.

FIFA kemudian menjelaskan bahwa dalam perjanjian awal dengan kota-kota tuan rumah yang ditandatangani pada 2018, memang terdapat ketentuan bahwa transportasi bagi penonton harus digratiskan. 

Namun, aturan itu kemudian direvisi beberapa tahun kemudian setelah mempertimbangkan beban finansial yang harus ditanggung oleh kota tuan rumah.

“Perjanjian Kota Tuan Rumah Piala Dunia FIFA 2026 yang ditandatangani pada 2018 awalnya mewajibkan transportasi gratis bagi penonton ke semua pertandingan," lanjut pernyataan tersebut. 

"Menyadari tekanan finansial yang ditimbulkan bagi kota tuan rumah, pada 2023 FIFA menyesuaikan persyaratan tersebut di seluruh kota tuan rumah sebagai berikut: semua pemegang tiket pertandingan dan individu terakreditasi harus dapat mengakses transportasi (transportasi publik atau tambahan yang disiapkan) dengan biaya tertentu untuk menuju stadion pada hari pertandingan,” kata pernyataan itu.

Lebih lanjut, FIFA menegaskan bahwa mereka telah bekerja sama dengan berbagai kota tuan rumah selama bertahun-tahun untuk merancang sistem transportasi yang memadai selama turnamen berlangsung. Upaya ini termasuk mendorong dukungan pendanaan dari pemerintah federal.

“FIFA telah bekerja selama bertahun-tahun dengan kota tuan rumah dalam perencanaan transportasi dan mobilitas. Termasuk mengupayakan dukungan pendanaan federal senilai jutaan dolar untuk membantu kota tuan rumah dalam sektor transportasi.”

Selain itu, FIFA juga menyoroti potensi dampak ekonomi besar yang akan dihasilkan oleh turnamen ini. Mereka menilai kehadiran jutaan penggemar dari seluruh dunia akan memberikan keuntungan signifikan bagi kawasan tuan rumah, termasuk wilayah New York–New Jersey.

“Piala Dunia akan membawa jutaan penggemar ke Amerika Utara, beserta dampak ekonomi yang menyertainya. Banyak penggemar akan melakukan perjalanan ke wilayah New York–New Jersey untuk menikmati delapan pertandingan yang dijadwalkan.”

Dalam akhir pernyataannya, FIFA juga menekankan bahwa mereka tidak mengetahui adanya preseden di mana penyelenggara acara besar diwajibkan menanggung biaya transportasi penonton.

“FIFA tidak mengetahui adanya acara besar lain yang sebelumnya digelar di stadion wilayah New York–New Jersey, termasuk ajang olahraga besar maupun tur konser global, di mana penyelenggara diwajibkan untuk membayar biaya transportasi penonton.”

Pernyataan ini menegaskan posisi FIFA yang tetap pada pendiriannya, bahwa biaya transportasi bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka. Hal ini sekaligus memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara FIFA dan otoritas lokal terkait pembiayaan logistik Piala Dunia 2026.