TVRINews - Kinshasa, Republik Demokratik Kongo

Joseph Mwepu Ilunga akan diingat sebagai penyelamat rekan setimnya dari ancaman diktator pemimpin Zaire pada Piala Dunia 1974.

Joseph Mwepu Ilunga mungkin tengah tersenyum bahagia di atas sana karena mengetahui Republik Demokratik (RD) Kongo lolos ke Piala Dunia 2026. Setelah 52 tahun, akhirnya RD Kongo bermain lagi di turnamen yang menjadi impian bagi setiap negara.

Keberhasilan RD Kongo tampil di Piala Dunia 2026 ini berarti pula akan memberikan cerita baru tentang sepak bola negeri asal Afrika ini. Bukan lagi hanya tentang tendangan heroik yang dilakukan Joseph Mwepu Ilunga ketika menghadapi Brasil pada Piala Dunia 1974 lalu.

Ya, RD Kongo berhasil lolos ke Piala Dunia 2026 ini setelah menang 1-0 atas Jamaika dalam play-off inter-konfederasi Piala Dunia 2026 lewat gol yang diciptakan Axel Tuanzebe pada menit ke-100 di Stadion Akron, 31 Maret 2026 lalu.

Kini, RD Kongo siap untuk memperlihatkan kekuatan mereka sebagai salah satu tim asal Afrika. Di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni 2026, tim berjulukan Leopards ini berada di Grup K bersama Portugal, Uzbekistan, dan Kolombia.

Para pemain RD Kongo asuhan Sebastien Desabre akan menghadapi sejumlah pemain bintang kelas dunia, seperti Cristiano Ronaldo, kapten Timnas Portugal. Bahkan, laga pertama DR Kongo adalah menghadapi Portugal yang akan digelar pada 17 Juni 2026 nanti di Stadion NRG, Houston.

Namun, sebelum pertarungan di Piala Dunia 2026 ini, publik dunia akan mengingatkan kembali kisah drama tendangan Joseph Mwepu Ilunga di laga atau penampilan terakhir RD Kongo di Piala Dunia 1974, yang pada tahun itu negara ini masih dikenal dengan nama Zaire.

Momen itu terjadi pada 22 Juni 1974 di Stadion Parkstadion di Piala Dunia yang memang digelar di Jerman Barat. Dalam laga ini, Zaire kalah 0-3 dari Brasil yang membuat mereka tentu saja gagal lolos ke putaran berikutnya.

Dalam dua laga fase grup sebelumnya, Zaire juga mengalami kekalahan sangat telak, digulung Yugoslavia 0-9 dan di laga pertama takluk 0-2 dari Skotlandia. Dengan demikian, dari tiga laga fase grup, Zaire mengalami tiga kekalahan dengan kemasukan 14 gol dan tanpa mampu mencetak satu gol pun.

Namun, yang menjadi perhatian saat itu momen saat Joseph Mwepu Ilunga memutuskan untuk membuang bola tendangan bebas untuk Brasil. Saat itu, Brasil memang mendapatkan tendangan bebas yang dilakukan di dekat zona pertahanan Zaire.

Pemain Zaire kemudian membuat pagar hidup. Beberapa pemain sempat berargumen kepada wasit saat mengatur barisan pemain Zaire yang menjadi pagar hidup, termasuk Joseph Mwepu Ilunga ada di antaranya.

Sementara itu, dua hingga tiga pemain Brasil ada di sekitar bola yang di antaranya akan menjadi penembak tendangan bebas tersebut. Hanya, yang mengejutkan, sebelum pemain Brasil itu melepaskan tembakan, Joseph Mwepu Ilunga tiba-tiba berlari kencang keluar dari barisan pagar hidup sendirian ke arah bola dan menendang bola tersebut dengan keras, melambung ke luar lapangan.

Tentu saja, itu menjadi aksi yang mengejutkan khususnya bagi pemakin Brasil. Wasit pemimpin pertandingan saat itu, Nicolae Rainea beruntung hanya memberikan kartu kuning kepada Joseph Mwepu Ilunga, tidak mengusirnya dari lapangan (kartu merah).

Penonton yang menyaksikan laga itu pun bersorak, di antara mereka tampak terhibur dengan apa yang dilakukan Joseph Mwepu Ilunga. Hingga kini, momen tersebut menjadi salah satu sisi menarik yang pernah terjadi dalam sejarah Piala Dunia.

Momen ketika tendangan itu dilakukan menjadi hal yang menghibur, lucu, tapi juga menyimpan cerita yang menarik tentunya. Joseph Mwepu Ilunga ternyata memiliki alasan mengapa dia berani melakukan aksi tersebut.

Latar belakang mengapa dia melakukannya memang masih simpang-siur, namun dari sejumlah sumber menyatakan bahwa itu sebagai bentuk protes karena Presiden Zaire ketika itu, Mobutu Sese Seko, yang dikenal sebagai seorang diktator tidak menepati janjinya untuk memberikan bonus kepada pemain Timnas Zaire saat itu.

“Saya melakukannya dengan sengaja,” kata Ilunga dalam sebuah wawancara pada tahun 2010. “Saya sadar akan peraturan sepak bola. Saya tidak punya alasan untuk terus bermain, sementara mereka yang akan mendapat keuntungan finansial duduk di tribun menonton. Saya sangat memahami peraturan, tetapi wasit cukup lunak dan hanya memberi saya kartu kuning," dia menambahkan.

Sebelum keberhasilan tampil di Piala Dunia 1974 itu, Timnas Zaire memang baru saja juara Piala Afrika 1974 yang digelar pada Maret tahun itu di Mesir. Tampaknya, bonus untuk gelar Piala Afrika inilah yang tidak diberikan oleh Mobutu Sese Seko.

Dalam pemberitaan pula, disebutkan Mobutu Sese Seko malah menjadikan keberhasilan juara Piala Afrika tahun ini sebagai alat propaganda bagi kepemerintahannya. Termasuk keberhasilan Zaire tampil di Piala Dunia 1974 ini.

Kabar lainnya, Joseph Mwepu Ilunga nekad melakukan aksi menendang bola tersebut untuk menghindari agar Zaire tidak lagi kemasukan gol. Jelang lawan Brasil, Timnas Zaire kabarnya diancam oleh Mobutu Sese Seko jika mereka kemasukan lebih dari tiga gol, mereka tidak akan bisa pulang ke Zaire.

Yang pasti, cara Joseph Mwepu Ilunga memang berhasil menghindarkan Zaire dari kekalahan telak, dan mereka tidak kemasukan lebih dari tiga gol. Meski aksi Joseph Mwepu Ilunga menjadi seperti sebuah momen yang lucu, tapi bagi publik sepak bola Zaire yang memahami perjuangan para pemain ketika itu, menempatkan Joseph Mwepu sebagai bintang dan idola.

"Bagi Joseph Mwepu Ilunga, itu bukanlah lelucon. Dia bermain untuk rakyat. Dalam ketakutan itu, tendangan Ilunga menjadi tindakan pemberontakan diam-diam, momen pembangkangan terhadap kekuasaan. Dia tidak bodoh. Dia berani. Ketika orang mengatakan jauhkan politik dari olahraga, kita harus memaksa politisi untuk bermain adil. Kekuasaan ada di tangan rakyat," demikian salah satu komentar di media sosial terkait tendangan Joseph Mwepu Ilunga tersebut.

Ilunga akan selalu dikenang karena momen di pertandingan terakhir Zaire di Piala Dunia pada 52 tahun lalu. Tindakannya yang tampak gegabah itu menjadi bahan ejekan, namun sebenarnya dimaksudkan sebagai protes terhadap keputusan pemerintah Presiden Joseph Mobutu dan tentu menyelamatkan rekan setimnya dari ancaman sang presiden.

Demikianlah kisah tendangan Joseph Mwepu Ilunga di Piala Dunia. Joseph Mwepu Ilunga sendiri sudah meninggal pada 8 Mei 2015 karena sakit yang dideritanya. Dan, kini bek yang dikenal karena tendangan tersebut tentu masih tersenyum di sana, menunggu aksi Timnas Zaire (RD Kongo) di Piala Dunia 2026 nanti.