TVRINews – Roma, Italia

Salah satu penyebab Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya beruntun adalah kegagalan Serie A berinvestasi pada pemain muda. 

Kegagalan tim nasional sepak bola Italia lolos ke putaran final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun (2018, 2022, 2026) masih menarik banyak analis dan pengamat di seluruh dunia untuk berkomentar. 

Salah satu sosok yang mengomentari kegagalan tim juara dunia empat kali (1934, 1938, 1982, 2006) itu untuk lolos ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko adalah Jurgen Klinsmann.

Mantan striker Jerman yang ikut mengantar negaranya memenangi Piala Dunia 1990 dan pernah memperkuat Inter Milan itu menilai, salah satu penyebab kegagalan Gli Azzurri dalam hampir satu dekade terakhir adalah tidak adanya kepercayaan terhadap pemain muda. 

“Mereka membayar harga dari ketiadaan pemimpin (di lapangan), pemain berbakat dari sisi teknis, dan kurangnya kepercayaan terhadap pemain muda,” tutur Klinsmann, 61 tahun, kepada RAI – perusahaan penyiaran publik terbesar milik Pemerintah Italia.

“Di Italia, Lamine Yamal dan Jamal Musiala mungkin hanya bermain di Serie B (Divisi Kedua Liga Italia) untuk mendapatkan pengalaman,” tutur mantan striker VfB Stuttgart, AS Monaco, Tottenham Hotspur, FC Bayern Munchen, dan UC Sampdoria itu. 

Lamine Yamal baru berusia 18 tahun namun sudah 25 kali membela tim nasional Spanyol dengan mencetak enam gol. Winger FC Barcelona itu juga menjadi salah satu bintang keberhasilan La Roja merebut trofi Euro 2024 (Kejuaraan Eropa). 

Sedangkan Jamal Musiala adalah gelandang serang milik FC Bayern Munchen yang baru berusia 23 tahun. Karena cedera, peluangnya untuk membela timnas Jerman di Piala Dunia 2026 nanti kian menipis. 

Klinsmann yang pernah menjadi pelatih timnas Jerman, AS, dan Korea Selatan itu juga menambahkan, budaya taktis juga menjadi penghalang perkembangan tim nasional sepak bola di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Italia. 

“Banyak pelatih saat ini bekerja hanya agar timnya tidak kalah, dibanding berupaya keras untuk menang dengan taruhan apa pun. Inilah hasilnya (untuk Italia),” kata Klinsmann. 

Komentar Klinsmann menyoal kurangnya kesempatan para pemain muda untuk turun di kompetisi tertinggi di Italia, Serie A, itu memang tidak bisa dipungkiri. Inter Milan yang kini tengah memuncaki klasemen Serie A, misalnya. 

Dari formasi 3-5-2 yang biasa mereka pakai, hanya ada empat pemain Italia yang rutin mengisi starting XI, yakni Francesco Acerbi dan Alessandro Bastoni di belakang, serta Nicolo Barella di posisi gelandang dan Federico Dimarco sebagai bek sayap kiri. 

Untuk posisi penyerang mereka lebih percaya kepada Marcus Thuram (Prancis) dan Lautaro Martinez (Argentina) sebagai starter, daripada memberikan kesempatan lebih banyak kepada Pio Esposito yang asli Italia dan baru berusia 20 tahun. 

Salah satu klub legendaris Italia, AC Milan, lebih miris lagi. Dari starting XI rutin mereka musim ini hingga berada di posisi kedua klasemen sementara Serie A, hanya Davide Bartesaghi (bek kiri), 20 tahun, pemain Italia yang rutin masuk tim utama. 

SSC Napoli kini memang tengah berada di peringkat ketiga Serie A. Namun, pemain outfield (di luar kiper) asli Italia mereka yang berusia di bawah 25 tahun hanyalah gelandang serang Antonio Vergara (23). Sedangkan bek tengah Alessandro Buongiorno sudah berusia 26 tahun.