TVRINews - Kansas City, Amerika Serikat

Dua hasil minor Ekuador di Grup E terasa makin mengecewakan mengingat mereka datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal sangat meyakinkan, 19 laga tanpa kekalahan.  

Timnas Ekuador berada di ujung tanduk setelah hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan Curacao pada laga kedua Grup E Piala Dunia 2026 di Kansas City, Amerika Serikat, Sabtu (20/6/2026) waktu setempat. 

Hasil mengejutkan itu membuat peluang La Tri untuk lolos ke babak 32 besar semakin menipis, namun pelatih Sebastian Beccacece menegaskan perjuangan timnya belum berakhir.

Ekuador kini baru mengoleksi satu poin dari dua pertandingan. Sebelumnya mereka kalah tipis 0-1 dari Pantai Gading pada laga pembuka. 

Situasi tersebut membuat Ekuador wajib meraih hasil positif saat menghadapi salah satu unggulan turnamen, Jerman, di New Jersey pada Kamis (25/6/2026) waktu setempat atau Jumat dini hari WIB mendatang jika masih ingin menjaga asa melangkah ke fase gugur.

Meski kecewa dengan hasil melawan Curacao, Beccacece menolak menyerah. Pelatih asal Argentina itu menegaskan timnya masih memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.

"Hidup telah mengajarkan saya bahwa kita harus terus bekerja, terus belajar, dan setiap tantangan bisa berubah menjadi sebuah peluang," ujar Beccacece kepada wartawan dikutip dari Reuters, Senin (22/6/2026).

"Sangat wajar jika saat ini kami merasakan rasa sakit dan kekecewaan. Namun, semuanya belum berakhir. Kami masih memiliki sekitar 100 menit pertandingan di depan kami, dan kami akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk berusaha mencapai tujuan kami," ia menambahkan.

Dalam pertandingan tersebut, Ekuador sebenarnya tampil dominan hampir sepanjang laga. Mereka terus menekan pertahanan Curacao dan menciptakan banyak peluang, tetapi tidak satu pun mampu dikonversi menjadi gol.

Pahlawan Curacao adalah kiper veteran Eloy Room yang tampil luar biasa di bawah mistar gawang. Penjaga gawang berusia 37 tahun itu melakukan 15 penyelamatan gemilang, sebuah penampilan bersejarah yang membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.

Secara statistik, Ekuador melepaskan total 28 percobaan ke arah gawang lawan. Namun, seluruh upaya tersebut berhasil dimentahkan oleh Room yang tampil nyaris tanpa cela.

Beccacece mengaku sulit menjelaskan mengapa timnya gagal mencetak gol meski begitu mendominasi permainan.

"Ada banyak hal dalam sepak bola yang tidak bisa dijelaskan. Apa pun yang saya katakan mungkin justru akan menjadi kontraproduktif. Kami datang dengan target meraih kemenangan, tetapi kami gagal mewujudkannya. Saya adalah orang yang harus bertanggung jawab atas hasil ini," katanya.

Hasil tersebut terasa semakin mengecewakan mengingat Ekuador datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal yang sangat meyakinkan. 

Mereka mencatatkan rekor tidak terkalahkan dalam 19 pertandingan sebelum turnamen dimulai dan berhasil finis sebagai runner-up kualifikasi zona Amerika Selatan, hanya berada di belakang juara bertahan dunia, Argentina.

Bahkan saat menghadapi Pantai Gading pada laga pertama, Ekuador juga mampu menguasai jalannya pertandingan dalam banyak fase, tetapi tetap gagal mengubah dominasi menjadi hasil positif. Masalah penyelesaian akhir kembali menghantui mereka saat menghadapi Curacao.

Meski demikian, Beccacece tetap memberikan pembelaan kepada para pemainnya. Menurutnya, performa tim secara keseluruhan pantas mendapatkan hasil yang lebih baik daripada sekadar satu poin dari dua pertandingan.

"Tim ini sebenarnya pantas mendapatkan hasil yang lebih baik daripada yang mereka peroleh," ujar Beccacece.

Kini, nasib Ekuador akan ditentukan pada laga terakhir Grup E melawan Jerman. Kemenangan menjadi harga mati apabila mereka masih ingin menjaga peluang lolos ke babak 32 besar. Tantangan memang sangat berat, tetapi Beccacece menegaskan timnya belum kehilangan keyakinan dan akan berjuang hingga peluit akhir berbunyi.