TVRINews - Vancouver, Kanada

Belgia wajib menumbangkan Selandia Baru di laga pemungkas demi menghindari memori kelam tersingkir dini seperti pada edisi 2022 lalu.

Tim nasional Belgia menapakkan kaki di Piala Dunia 2026 dengan menyandang status sebagai salah satu tim unggulan juara. Namun, skuad asuhan Rudi Garcia tersebut sejauh ini gagal menunjukkan tajinya setelah hanya mampu mencatatkan hasil imbang beruntun saat menghadapi Iran dan Mesir.

Mandulnya lini depan menjadi rapor merah yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan langkah Belgia. Ironisnya, satu-satunya gol yang bisa dikemas oleh Setan Merah sejauh ini justru lahir dari gol bunuh diri Mohamed Hany saat ditahan 1-1 oleh Mesir.

Menanggapi awal buruk timnya, Kevin De Bruyne secara blak-blakan menyoroti rapuhnya koordinasi lini belakang serta penurunan mentalitas rekan-rekannya di lapangan. Persoalan tersebut yang perlu Belgia perbaiki sebelum laga terakhir lawan Selandia Baru.

"Kami melakukan beberapa kesalahan bodoh, dan kami memberikan banyak tekanan pada diri kami sendiri," ungkap De Bruyne kepada Gazzetta.

De Bruyne juga mengakui keberuntungan masih menaungi Belgia saat terhindar dari kekalahan memalukan dari Iran. Padahal bila melihat komposisi pemain dan posisi peringkat FIFA, Belgia unggul jauh dibanding Iran.

"Melawan Iran, kami melepaskan banyak tembakan, dan mari jujur, kami juga sedikit beruntung dengan keputusan offside pada gol Taremi tersebut. Diperlukan lebih banyak keseimbangan, dan kami harus menghindari munculnya pikiran-pikiran negatif. Kami harus berbicara untuk menemukan jalannya," ujarnya.

Pemain Napoli tersebut menyadari betul adanya penurunan kondisi fisik. Ia mengaku baik dirinya maupun rekan setim lamanya, Romelu Lukaku, saat ini sudah tidak berada dalam kondisi fisik yang berada di puncak keemasan.

Kendati demikian, De Bruyne tetap yakin faktor kepemimpinan para pemain senior akan menjadi kunci krusial untuk lolos dari lubang jarum Grup G. "Pengalaman; itulah yang akan membawa kami untuk mengelola situasi yang berbeda dari apa yang kami harapkan."

Mantan pemain Manchester City tersebut juga mengingatkan rekan-rekannya untuk tetap menjaga kestabilan emosi demi membalikkan semua prediksi miring publik. Bila hal tersebut tidak dilakukan maka peluang Belgia untuk lolos ke fase gugur belum tentu bisa tercapai.

"Saya tahu bahwa di turnamen-turnamen terbesar, perasaan berubah dengan sangat cepat, dan kami harus mampu mengelola momen positif serta negatif. Sampai sekarang, semuanya berjalan sangat cepat; kami tahu kami belum tampil baik, dan ini telah memengaruhi moral, tetapi sekarang adalah momen di mana kami harus tampil lebih bertekad lagi," katanya.

Meskipun kombinasi antara De Bruyne dan Lukaku sempat menjadi simbol kemegahan Generasi Emas Belgia, publik kini mulai meragukan efektivitas kemitraan tersebut. Lukaku yang turun sebagai starter saat bermain imbang 0-0 kontra Iran tampil melempem, sehingga memicu desakan publik agar Charles De Ketelaere segera dikembalikan ke dalam tim utama.

"Semua orang tahu seberapa dekat kami [saya dan Lukaku] selama bertahun-tahun, tetapi sekarang adalah waktunya untuk fokus pada tim,"

Selain itu, De Bruyne menutup pernyataannya dengan sebuah pesan pembakar semangat yang menuntut komitmen penuh dari seluruh elemen di dalam tim. Kami belum mampu memenuhi tugas tersebut, tetapi kami bisa menjadi mampu melakukannya."

Kini, kalkulasi matematis bagi anak-anak asuh Rudi Garcia terbilang sangat sederhana karena mereka wajib menumbangkan Selandia Baru di laga pemungkas. Tugas tersebut dipastikan tidak mudah lantaran mereka kehilangan bek Lille, Nathan Ngoy, yang terkena skorsing larangan bertanding dalam laga krusial di BC Place, Vancouver, Sabtu (27/6/2026).