TVRINews - New York, Amerika Serikat

Kebijakan baru AS yang memberikan tambahan waktu persiapan bagi Iran menjadi bukti upaya pemisahan politik dari sepak bola.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) secara resmi memberikan tambahan waktu bagi tim nasional Iran di wilayah mereka. Kebijakan tersebut diambil demi memberikan waktu istirahat dan persiapan yang lebih ideal menjelang laga pemungkas penyisihan grup Piala Dunia 2026.

Melalui keputusan terbaru ini, skuad Iran diizinkan untuk mendarat di Seattle dua hari sebelum laga krusial menghadapi Mesir bergulir. Aturan ini memberi mereka keuntungan tambahan satu hari dibandingkan dengan aturan pembatasan ketat jendela kunjungan 24 jam yang diterima pada dua laga sebelumnya.

Kendati mendapatkan kelonggaran waktu kedatangan, otoritas keamanan Amerika Serikat menegaskan tidak ada perubahan mengenai lokasi penginapan utama tim. Skuad Team Melli tetap diwajibkan untuk langsung kembali ke pemusatan latihan mereka yang berada di Tijuana, Meksiko, setelah pertandingan usai.

"Untuk pertandingan ketiga tim Iran di Seattle pada 26 Juni, tim telah diizinkan masuk ke AS dua hari sebelum pertandingan. Tim Iran akan tetap diharuskan pergi pada hari pertandingan berakhir," ujar Departemen Keamanan Dalam Negeri dalam pernyataan resminya dikutip dari BBC.

Pihak DHS juga menegaskan tidak akan mengurangi standar pengamanan khusus yang telah diterapkan kepada Iran sejak awal turnamen. "Langkah-langkah keamanan menyeluruh dan protokol tetap sama. Kami tetap berkomitmen untuk menyediakan turnamen seaman mungkin bagi para pemain, staf, dan juga penggemar."

Kelonggaran regulasi ini diterbitkan setelah Federasi Sepak Bola Iran merespons keras perlakuan diskriminatif yang diterima dari pemerintah Amerika Serikat. Mereka menyatakan rencana untuk mengajukan pengaduan resmi kepada FIFA atas apa yang digambarkan sebagai perlakuan tidak adil di Negeri Paman Sam.

Hingga sebelum kebijakan baru ini keluar, visa khusus yang dipegang skuad Iran hanya mengizinkan mereka memasuki wilayah Amerika Serikat sehari sebelum laga. Mereka juga dipaksa untuk langsung angkat kaki meninggalkan negara tersebut pada hari yang sama saat pertandingan selesai digelar.

Kondisi tersebut memicu reaksi keras dari pelatih Iran, Amir Ghalenoei, yang merasa anak asuhnya diperlakukan secara tidak manusiawi. Ia secara terbuka menggambarkan timnya paling tertindas di Piala Dunia 2026 karena hambatan politik yang masuk ke ranah olahraga.

Ghalenoei meluapkan kekecewaannya dengan menyebut ruang gerak anak asuhnya telah dibatasi secara tidak adil oleh pihak penyelenggara. Ia mengatakan skuad Iran telah dirampok dari waktu persiapan dan diberi kurang dari setengah jendela pelatihan yang dibutuhkannya, sementara tim lain menikmati kondisi normal.

Pekan lalu, Andrew Giuliani selaku Direktur Eksekutif Gugus Tugas Piala Dunia Gedung Putih mengonfirmasi adanya upaya negosiasi untuk meredam protes Iran. Ia menyatakan diskusi sedang berlangsung mengenai perubahan pengaturan untuk pertandingan ketiga fase grup Iran di Seattle melawan Mesir.

Giuliani menilai pembatasan pada dua laga sebelumnya di Los Angeles masih masuk akal mengingat jarak penerbangan yang sangat dekat dari Tijuana. Namun, melihat rute perjalanan menuju Seattle yang memakan waktu hingga tiga jam, ia menyebut para pejabat berwenang akhirnya mempertimbangkan adanya penyesuaian.

Di sisi lain, Ghalenoei terus konsisten menyuarakan tuntutan agar timnya mendapatkan hak yang setara dengan kontestan Piala Dunia 2206 lainnya. Ia berpendapat bahwa Iran harus diizinkan tiba di setiap kota tuan rumah dua hari sebelum pertandingan dan kembali ke kamp pelatihan sehari setelahnya, demi mencapai persiapan teknis dan fisik yang optimal.