Manuel Neuer Foto: TVRI/Grafis/Jovi
TVRINews - Munchen, Jerman
Situasi pelik tanpa pemenang ini berpotensi merusak stabilitas internal tim nasional Jerman menuju Piala Dunia 2026.
Kiper Bayern Munchen, Manuel Neuer, tampaknya bersiap kembali memperkuat tim nasional Jerman untuk Piala Dunia 2026. Namun, keputusan tersebut justru memicu gelombang ketidakpuasan dari berbagai pihak.
Penjaga gawang legendaris tersebut bakal melanjutkan karier sepak bolanya setelah musim ini berakhir. Neuer yang kini telah menginjak usia 40 tahun sempat dihadapkan pada pilihan sulit antara gantung sarung tangan atau memperpanjang masa baktinya di Bayern, hingga akhirnya memilih opsi kedua setelah pertimbangan yang sangat matang.
Pekan lalu, sang juara bertahan Bundesliga secara resmi mengumumkan Neuer telah menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi satu tahun. Tentu tidak sulit untuk memahami alasan semua pihak merasa kiper veteran ini masih mampu bersaing di level tertinggi.
Meskipun sudah tidak muda lagi, Neuer tetap menjadi salah satu penjaga gawang terbaik dengan kemampuan paling lengkap di kancah sepak bola dunia. Publik tentu masih ingat betul bagaimana performa luar biasanya di Santiago Bernabeu dalam laga Liga Champions beberapa pekan lalu.
Namun, keputusan Neuer untuk terus bermain ternyata melahirkan kegusaran tersendiri. Dampak dari langkah tersebut kini mulai terasa, baik di internal Bayern maupun di lingkungan sepak bola Jerman secara luas.
Neuer memang merupakan legenda hidup Die Roten. Akan tetapi muncul argumen keberadaannya yang terlalu lama justru mulai merugikan tim karena raksasa Bavaria tersebut memiliki dua kiper berbakat yang sedang menanti kesempatan.
Nama pertama adalah Alexander Nubel, sosok yang sempat terlupakan namun berhasil menghidupkan kembali kariernya melalui serangkaian masa pinjaman setelah hampir dianggap gagal. Sejak 2023, ia sukses tampil mengesankan bersama VfB Stuttgart.
Di usia 29 tahun, Nubel seharusnya menjadi suksesor yang paling siap andai Neuer memilih pensiun. Namun, dengan bertahannya sang senior, karier Nubel di Bayern yang kurang berkesan ini hampir dipastikan akan benar-benar berakhir pada bursa transfer musim panas nanti.
Dampak yang lebih krusial juga harus dirasakan oleh Jonas Urbig yang terpaksa menunda impiannya untuk menjadi kiper nomor satu Bayern. Di usia 22 tahun, ia tentu masih memiliki waktu yang sangat panjang, tetapi situasi bongkar-pasang skuad ini jelas membuatnya frustrasi.
Urbig sebenarnya telah dijanjikan menit bermain yang lebih banyak untuk musim depan. Kendati demikian, ia tetap bukan pilihan utama dan harus rela menghuni bangku cadangan setiap kali Neuer berada dalam kondisi bugar.
Musim ini, Urbig tercatat telah tampil sebanyak 19 kali di semua kompetisi. Kesempatan itu diperoleh lantaran Neuer kian sering dibekap cedera otot ringan semenjak mengalami patah kaki parah beberapa tahun lalu.
Sayangnya, akibat rotasi yang terlalu sering di bawah mistar gawang, Urbig gagal menemukan ritme permainan yang konsisten. Hal tersebut terlihat jelas dalam beberapa performanya yang tampak kurang maksimal di lapangan.
Masalah kebugaran Neuer dan keputusannya untuk terus bermain kini bergeser menjadi perdebatan hangat di level tim nasional. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa ia telah memberi tahu pelatih Jerman, Julian Nagelsmann, mengenai kesiapannya membela Die Mannschaft di Piala Dunia 2026.
Bahkan, jika kabar tersebut benar, Neuer tidak sekadar kembali ke skuad. Ia disebut-sebut bakal langsung merebut posisi kiper utama Jerman dalam turnamen yang digelar di Amerika Utara tersebut, hingga memicu kontroversi sengit di seluruh penjuru negeri.
Keputusan Neuer untuk kembali bertugas di timnas sebenarnya tidak perlu direspons dengan kekesalan. Sebaliknya, kehadiran penjaga gawang kelas dunia di dalam skuad mumpuni seharusnya menjadi kabar yang menggembirakan.
Namun, situasi di balik keputusan ini yang memicu kekecewaan mendalam bagi publik sepak bola Jerman. Neuer sudah menyatakan pensiun dari tim nasional setelah gelaran Euro 2024 lalu.
Neuer sama sekali tidak berkontribusi dalam babak kualifikasi Jerman. Dengan kata lain, ia tak berkeringat sedikit pun dalam memastikan tiket kelolosan negaranya ke putaran final Piala Dunia 2026.
Faktor cedera juga menjadi argumen kuat yang menyudutkan posisi Neuer. Sang kiper sudah lama berjuang keras untuk menjaga kebugarannya, bahkan harus ditarik keluar akibat masalah betis ringan pada laga pemungkas Bundesliga akhir pekan lalu.
Pertanyaan besar pun muncul mengenai kesiapan fisik Neuer menghadapi jadwal padat dan iklim ekstrem di Piala Dunia nanti. Jika fisiknya tumbang, tentu sangat berisiko bagi sebuah tim untuk melakukan pergantian kiper utama di tengah-tengah turnamen berlangsung.
Kedua kekhawatiran tersebut sangat mendasar, tetapi titik balik dari segala kontroversi ini adalah bagaimana cara Nagelsmann mengelola situasi. Mengingat Marc-Andre Ter Stegen menghabiskan 18 bulan terakhir dengan cedera, sang pelatih sebelumnya telah menegaskan Oliver Baumann adalah kiper nomor satu Jerman.
Penjaga gawang andalan Hoffenheim tersebut telah memberikan kontribusi nyata bagi kelolosan Die Mannschaft. Namun, ironisnya, kurang dari sebulan sebelum turnamen dimulai, posisinya justru digusur secara mendadak.
Wajar jika keputusan ini langsung memicu kecaman luas dari berbagai pihak. Langkah tersebut dinilai memberikan citra buruk bagi Nagelsmann maupun Neuer, serta dianggap sangat tidak adil bagi Baumann yang tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Apa pun pekerjaan Anda, baik sebagai komentator maupun direktur olahraga, jika kredibilitas Anda sudah ternoda atau rusak, maka Anda punya masalah," ujar legenda Liverpool, Didi Hamann, saat berbicara di acara Sky90.
"Dan kita sekarang berada di titik di mana Piala Dunia akan dimulai dalam empat minggu, dan pelatih nasional tidak tahu apakah harus bertahan atau berubah."
"Saya yakin ada banyak pemain di tim—selain para pemain Bayern—yang tidak, atau tidak akan, senang dengan [kembalinya Neuer]. Saya seharusnya berkonsultasi dengan kelompok pemimpin atau empat atau lima pemain. Saya tidak tahu apakah pelatih melakukan itu—kemungkinan besar tidak. Namun, saya bisa membayangkan akan ada banyak penolakan dari para pemain bukan Bayern jika dia dipanggil."
"Jika saya adalah seorang pemain dan seseorang bertanya kepada saya, saya akan mengatakan: 'Tidak, tidak—Baumann adalah sosok yang bisa diandalkan. Baumann melewati babak kualifikasi bersama kami. Kami menjalani beberapa pertandingan yang sulit. Dialah alasan mengapa kami bisa pergi ke Amerika.'"
"Ada beberapa situasi berbahaya di mana ia menyelamatkan muka kami. Dan sekarang, ketika orang lain pensiun dua tahun lalu, membiarkan orang lain menangani babak kualifikasi, lalu berkata: 'Oke teman-teman, saya kembali ke sini'—itu sama sekali tidak bisa diterima."
Hamann menegaskan bahwa otoritas tertinggi memang berada di tangan pelatih, tetapi cara komunikasi Nagelsmann sangat keliru. Maka dari itu, ia berharap adanya pembicaraan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
"Pelatih nasional harus memutuskan hal itu. Dan jika ia berpikir kita perlu membawa Neuer kembali untuk memiliki peluang yang lebih baik, maka ia harus melakukannya."
"Namun, dia seharusnya memberi tahu Baumann enam atau tujuh minggu lalu, 'Dengar, begini situasinya,' dan tidak memberi tahu bahwa dia akan tetap menjadi nomor satu jika hal itu tidak lagi terjadi enam minggu kemudian."
"Dan pertandingan [Neuer] melawan Real [Madrid] mungkin memainkan peran. Namun, itu hanya satu pertandingan. Anda tidak boleh membiarkan diri Anda dibutakan oleh hal-hal seperti itu."
Sentimen serupa juga dilontarkan oleh kiper legendaris Oliver Kahn, mantan bintang Bayern Stefan Effenberg, serta eks bek Borussia Dortmund Neven Subotic saat berdiskusi dengan jurnalis di SPORT1.
"Saya tahu dari pengalaman pribadi ketika saya berusia 36, 37, 38 tahun bahwa sangat mungkin untuk bermain di level kelas dunia sesekali, tetapi sangat sulit untuk melakukannya setiap dua atau tres hari, baik secara mental maupun fisik," ucap Kahn.
Effenberg menyetujui penilaian Kahn bahwa memainkan Neuer adalah sebuah perjudian besar bagi Jerman. Ia ingin Nagelsmann menimbang secara matang keputusan tersebut.
"Penjaga gawang adalah posisi yang sangat sensitif. Sebagai pelatih, Anda perlu membuat keputusan yang tidak ambigu. Kita melihatnya di Eintracht Frankfurt [musim ini]—perubahan yang terus-menerus melahirkan ketidakstabilan," ujar Effenberg.
"Posisi penjaga gawang adalah satu-satunya posisi dalam sepak bola di mana Anda harus membuat keputusan yang pasti dan jelas sebagai pelatih, dan Nagelsmann belum melakukan itu hingga saat ini. Saya percaya bahwa itu adalah sebuah kesalahan."
Kahn menambahkan bahwa melakukan pergantian kiper dalam waktu yang sangat mepet merupakan langkah yang terlalu spekulatif. "Hal itu memengaruhi para penjaga gawang, terutama Baumann, tetapi juga sisa skuad lainnya, yang akan bertanya-tanya seberapa andal dan jujurnya pernyataan pelatih."
Sementara itu, Subotic menarik kesimpulan yang sama dengan Hamann mengenai dampak buruk dari kisruh ini. "Waktu itu penting, dan terkadang Anda harus memberi diri Anda tenggat waktu yang jelas. Tidak adil untuk mengatakan 'hari ini, saya ingin bermain' dalam waktu sesingkat itu."
"Tentu, Anda bisa melakukan itu karena Anda adalah seorang legenda, tetapi pertimbangkan: Anda adalah bagian dari sebuah tim. Anda harus menundukkan diri Anda kepada tim untuk memastikan kejelasan sesegera mungkin. Kejelasan, saya percaya, adalah sesuatu yang kita semua hargai sebagai manusia."
"Sebuah tim sepak bola, terutama tim dengan pelatih yang relatif baru, membutuhkan kejelasan. Namun, saat ini, kita berbicara tentang hal-hal yang tampaknya berubah setiap beberapa minggu, dan Anda tidak menginginkan hal itu dari seorang pelatih."
Bagi sosok yang terkenal dengan kutipan bahwa "70% dari kepelatihan adalah kompetensi sosial," Nagelsmann justru menunjukkan penurunan kemampuan komunikasi yang nyata dalam beberapa pekan terakhir. Masalah ini juga sempat bermanifestasi dalam perselisihannya dengan penyerang bintang Deniz Undav pada jeda internasional lalu.
Seperti yang diutarakan oleh Hamann dan Subotic, tidak ada pihak yang diuntungkan dalam kekacauan ini. Tim nasional Jerman pun tampaknya harus melangkah ke panggung Piala Dunia 2026 di bawah bayang-bayang konflik internal yang pekat.