TVRINews – Rio de Janeiro, Brasil

Brasil 2014 menjadi salah satu Piala Dunia yang tak terlupakan karena banyaknya drama dan kekecewaan hingga gol dan kejayaan.

Piala Dunia 2014 yang berlangsung di Brasil menghadirkan semua yang diinginkan di setiap gelaran turnamen besar. Dari drama dan kejayaan hingga gol dan kejayaan, Brasil 2014 akan tetap terukir dalam ingatan. 

Berikut sejumlah fakta menarik dan data yang membuat Piala Dunia 2014 bisa dibilang menjadi salah satu yang terbaik yang pernah digelar Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), yang diambil dari berbagai sumber. 

Gol

Piala Dunia 2014 mencatatkan jumlah gol terbanyak bersama (Prancis ’98) dengan 171 gol (dalam 64 pertandingan). Brasil 2014 hanya kalah dari Piala Dunia 2022 Qatar, 172 gol. 

James Rodriguez menjadi pesepak bola pertama yang mampu mencetak gol dalam lima pertandingan awalnya di Piala Dunia, sejak Teofilo Cubillas dari Peru melakukannya (pada turnamen 1970 dan 1978).     

Rodriguez akhirnya menerima penghargaan Sepatu Emas (Golden Boot) karena menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2014 dengan enam gol. Salah satu golnya dibuat dengan fantastis, tepatnya saat mencetak gol pertama ketika menyingkirkan Uruguai di 16 besar dengan skor 2-0.

Ia mengontrol bola dengan dadanya sambil berbalik menjauhi gawang, lalu langsung melepaskan tendangan voli dari luar kotak penalti sejauh kira-kira 25 meter dari gawang. 

Teknik Rodriguez itu sekilas mirip dengan yang dilakukan Pele saat Brasil mengalahkan tuan rumah Swedia di final Piala Dunia 1958. 

Gol Rodriguez itu tidak hanya mengantar Kolombia ke perempat final Piala Dunia 2014 (namun kalah 1-2 dari Brasil) namun juga menjadi Gol Terbaik Turnamen sekaligus memenangi FIFA Puskas Award 2014 untuk kategori yang sama.  

Gol yang dibuat oleh pemain pengganti di Piala Dunia 2014 lebih banyak (32). Catatan ini memecahkan rekor sebelumnya, Piala Dunia 2006 Jerman (24) yang mengindikasikan meningkatnya dampak taktis pemain cadangan dalam sepak bola modern.

Teknologi Garis Gawang

Brasil 2014 menjadi Piala Dunia pertama yang menggunakan teknologi garis gawang (goal-line technology). 

Setelah terjadi begitu banyak kontroversi seputar gol-gol Piala Dunia di tahun-tahun sebelumnya, sejak Brasil 2014 wasit sekarang dibantu oleh 14 kamera dan komputer utama untuk membantunya dalam mengambil keputusan. 

Dengan begitu, jika sebuah gol tercipta, jam tangan khusus yang dikenakan wasit akan menampilkan kata “gol”.

Kiper

Faryd Mondragon menjadi pemain tertua yang pernah tampil di putaran final Piala Dunia ketika ia masuk sebagai pemain pengganti untuk Kolombia melawan Jepang (43 tahun 3 hari).

Kiper Kosta Rika, Keylor Navas, menyelamatkan 21 dari 23 tembakan tepat sasaran yang dihadapinya di Piala Dunia ini (91%). 

Kiper timnas Amerika Serikat (AS) Tim Howard mencatat rekor baru dengan 15 penyelamatan dalam satu pertandingan Piala Dunia. Ia melakukannya saat AS melawan Belgia di 16 besar (AS kalah 1-2 lewat babak perpanjangan waktu). 

Gigitan Luis Suarez

Di bidang disiplin, kasus paling terkenal tentu saja kasus striker Uruguay Luis Suarez, yang diskors selama sembilan pertandingan internasional dan dilarang mengambil bagian dalam aktivitas terkait sepak bola apa pun (termasuk memasuki stadion mana pun) selama empat bulan, menyusul insiden menggigit bek Italia Giorgio Chiellini. Dia juga didenda 100 ribu frank Swis. 

Setelah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), Suarez kemudian diizinkan untuk berpartisipasi dalam latihan dan pertandingan persahabatan dengan klub barunya FC Barcelona.

Tragedi “Mineirazo”

Istilah ini muncul setelah kekalahan telak Brasil dari Jerman, 1-7, di semifinal Piala Dunia 2014. Pertandingan di Estadio Mineirao, Belo Horizonte itu menjadi kekalahan terbesar Brasil dan menjadi sejarah buruk bagi sepak bola negara tersebut. 

Karena tekanan pada tuan rumah Brasil, yang merupakan favorit utama untuk memenangi Piala Dunia, dan keterkejutan atas kekalahan tersebut, media dan FIFA menjuluki pertandingan itu sebagai Mineirazo (Mineiraco dalam bahasa Brasil), yang berarti “Pukulan Mineirao”. 

Sebutan “Mineirazo” karena mengacu lokasi pertandingan itu mengingatkan publik pada kejadian “Maracanazo” (Maracanaco), ketika Brasil dikalahkan di kandang sendiri, Stadion Maracana, oleh tim underdog Uruguai dalam laga final Piala Dunia 1950.

Rekor-rekor Jerman

Jerman menjadi negara Eropa pertama yang mampu memenangi Piala Dunia di Amerika Selatan. Di Brasil 2014 pula, Jerman merebut gelar Piala Dunia keempatnya setelah 1954, 1974, dan 1990. 

Striker Jerman Miroslav Klose menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan 16 gol dari empat turnamen (2002, 2006, 2010, dan 2014). Klose mengungguli rekor sebelumnya yang dipegang penyerang tengah Brasil, Ronaldo Luis Nazario (15 gol). 

Gol terakhir Klose di Piala Dunia dibuat saat Jerman menggilas Brasil 7-1 di semifinal pada 2014. Klose saat itu mencetak gol kedua. 

Sederet Kontroversi

Piala Dunia FIFA 2014 juga tercatat menimbulkan berbagai kontroversi, termasuk demonstrasi, beberapa di antaranya terjadi bahkan sebelum turnamen dimulai. 

Selain itu, terdapat berbagai masalah keamanan, termasuk kematian delapan pekerja dan kebakaran selama konstruksi, pembobolan stadion, tangga darurat yang tidak stabil di Stadion Maracana, runtuhnya monorel, dan runtuhnya jembatan layang yang belum selesai di Belo Horizonte. 

Rumah-rumah ribuan keluarga yang tinggal di permukiman kumuh Rio de Janeiro digusur untuk pembangunan kembali demi Piala Dunia meskipun ada protes dan perlawanan. 

Favela do Metro, dekat Stadion Maracana, hancur total sebagai akibatnya, setelah sebelumnya menampung 700 keluarga pada tahun 2010. 

Sebelum upacara pembukaan Piala Konfederasi FIFA 2013 yang digelar di Brasil, demonstrasi berlangsung di luar lokasi acara, yang diorganisasi oleh orang-orang yang tidak puas dengan jumlah uang publik yang dihabiskan untuk memungkinkan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2014.

Pembobolan Stadion

Pada pertandingan Grup B antara Spanyol dan Cili, sekitar 100 pendukung Cili yang berkumpul di luar Stadion Maracana menerobos masuk stadion dan menyebabkan kerusakan pada pusat media. 

Polisi militer melaporkan bahwa 85 warga Cili ditahan selama kejadian tersebut, sementara yang lainnya berhasil mencapai tribune. 

Sebelumnya, sekitar 20 warga Argentina melakukan pelanggaran serupa selama pertandingan Grup F Argentina melawan Bosnia dan Herzegovina di stadion yang sama. 

Runtuhnya Jembatan

Pada tanggal 3 Juli 2014, sebuah jembatan layang yang sedang dibangun di Belo Horizonte sebagai bagian dari proyek infrastruktur Piala Dunia runtuh ke jalan raya yang ramai di bawahnya, menyebabkan dua orang tewas dan 22 lainnya terluka. 

Penanganan Cedera Kepala

Selama turnamen, FIFA menerima kritik signifikan atas cara penanganan cedera kepala selama pertandingan. Dua insiden khususnya menarik perhatian paling besar. 

Pertama, dalam pertandingan babak penyisihan grup, setelah bek Uruguai Alvaro Pereira menerima benturan di kepala, ia tergeletak tak sadarkan diri. Dokter tim Uruguai memberi isyarat agar pemain tersebut diganti, tetapi ia kembali ke pertandingan. 

Insiden tersebut menuai kritik dari serikat pemain profesional FIFPro, dan dari Michel D'Hooghe, anggota dewan eksekutif FIFA dan ketua komite medisnya.

Kedua, di laga final, gelandang Jerman Christoph Kramer menerima benturan di kepala akibat tabrakan pada menit ke-14, tetapi kembali ke pertandingan sebelum pingsan pada menit ke-31. 

Selama waktu itu, Kramer tampak linglung dan bingung, dan bertanya kepada wasit Nicola Rizzoli apakah pertandingan yang sedang dimainkannya adalah final Piala Dunia.