TVRINews - Zurich, Swis

Titik teratas daftar peringkat FIFA tampak memberikan tekanan bagi tim yang menempatinya di tahun gelaran Piala Dunia. 

Kubu mana pun yang akan menjadi ranking 1 di daftar FIFA akan harus berhadapan dengan semacam kutukan. Sejak 1994 sampai 2022, atau sejak FIFA memperkenalkan sistem pemeringkatan mereka pada 1992, belum ada tim peringkat teratas tahun gelaran Piala Dunia yang bisa menjuarai turnamen empat tahunan itu.

Pada 1994, Jerman memuncaki daftar. Brasil yang tampil sebagai kampiun di Piala Dunia 1994 yang diadakan di Amerika Serikat.

Empat tahun kemudian, giliran Selecao yang menjadi nomor 1. Brasil bisa melangkah ke final, tapi harus melihat tuan rumah Piala Dunia 1998, Prancis, mengangkat trofi. 

Di Piala Dunia 2002, Prancis yang berada di pucuk tabel ranking FIFA. Namun, Les Bleus jeblok, tidak bisa lolos dari fase grup. Pola kutukan mulai menguat. 

Brasil menjadi nomor 1 lagi menjelang Jerman 2006 dan Afrika Selatan 2010. Pencapaian Selecao hanya sampai perempat final. 

Di Piala Dunia 2014, Spanyol tampil sebagai tim peringkat teratas. Wajar, sebab sebelumnya La Furia Roja meraih tiga gelar besar secara beruntun, yakni Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012. 

Torehan Si Merah di Brasil 2014? Di fase grup doang. Mandek di fase grup juga dialami Jerman, yang berada di puncak daftar peringkat FIFA pada 2018, di Piala Dunia 2018. 

Brasil kembali menjadi sorotan saat menggenggam ranking tertinggi menjelang Piala Dunia 2022. Selecao hanya finis di delapan besar di Qatar.

Bagaimana dengan 2026? 

Sampai hari ini, Rabu (4/3/2026), Spanyol masih memuncaki daftar peringkat dengan total poin 1.877,18. Argentina berada di peringkat kedua dengan 1.873,33 poin, diikuti Prancis dengan 1.870 poin. 

Dengan perbedaan kurang dari empat poin, pertemuan Argentina dan Spanyol tampak akan menentukan tim yang berada di pucuk daftar. Jadi, efek Finalissima 2026 pada akhir bulan ini bisa sampai pada peringkat puncak, hingga berlanjut atau tidaknya kutukan nomor 1 itu.

Finalissima dikenal pula dengan nama European/South American Nations Cup atau Artemio Franchi Cup. Ajang satu pertandingan ini mempertemukan juara Eropa (Euro) dan Amerika Selatan (Copa America). 

Di awal gelarannya pada 1985, duel juara benua tersebut bernama Intercontinental Cup. Ajang ini hanya bertahan dua edisi, yakni pada 1985 (Prancis 2-0 Uruguai) dan 1993 (Argentina 1-1 [5-4ap.] Denmark), sebelum vakum. 

Pada 2022, UEFA dan Conmebol sepakat menggelar kembali duel jawara masing-masing pada 2022, dan akan digelar setiap empat tahun sekali. Finalissima 2022 memunculkan Argentina sebagai pemenang mengungguli Italia. 

Finalissima 2026 antara Argentina dan Spanyol akan digelar pada 27 Maret di Lusail Stadium, Lusail, Qatar. 

Di tempat yang sama tiga hari setelah Finalissima, Spanyol akan beruji coba melawan Mesir. Sehari kemudian, Argentina akan menjajal Qatar. 

Peringkat kedua kubu sebenarnya masih bisa berubah menyusul dua pertandingan persahabatan resmi Spanyol pada awal Juni, sementara Argentina belum menambah jadwal pemanasan. La Roja akan melawan Irak di Coruna pada 4 Juni, diikuti laga menghadapi Peru pada 8 Juni di Amerika Serikat.

Siapa pun peringkat 1, akan menarik menantikan kemampuan mereka mematahkan kutukan pada musim panas nanti. Akankah Piala Dunia 2026, yang dihelat pada 11 Juni sampai 19 Juli di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada nanti mengikuti tren sejak 1994?