TVRINews - Jakarta, Indonesia

Dengan populasi sekitar 150.000 jiwa, Curacao resmi menjadi negara dengan jumlah penduduk paling sedikit yang pernah tampil di Piala Dunia, melampaui Islandia.

Jatah 48 slot untuk tim-tim yang berlaga di Piala Dunia 2026 kini telah terisi. Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu mulai memperlihatkan wajah-wajah bersejarah. 

Sementara beberapa negara besar Eropa, Afrika, dan Asia seperti Nigeria, Tiongkok, India, Yunani, Serbia, atau Hungaria harus gigit jari, justru negara-negara kecil mencatat sejarah dengan mengamankan tiket Piala Dunia, bahkan beberapa di antaranya untuk pertama kali.

Berikut kisah empat "Negeri Liliput" yang menciptakan kejutan menuju Piala Dunia 2026, dikutip dari NPR News.

1. Curacao: Negara Terkecil dalam Sejarah Piala Dunia

Selama ini, Curacao lebih dikenal lewat minuman khas warna biru khas dan pantai tropisnya. Namun kini, negara tersebut menorehkan sejarah setelah bermain imbang 0-0 melawan Jamaika, yang memastikan mereka lolos ke Piala Dunia.

Dengan populasi sekitar 150.000 jiwa, Curacao resmi menjadi negara dengan jumlah penduduk paling sedikit yang pernah tampil di Piala Dunia, melampaui Islandia.

Sebagai gambaran, partai final Piala Dunia 2026 akan digelar di MetLife Stadium yang berkapasitas 82.500 penonton, lebih dari setengah populasi Curaçao.

Untuk mengatasi keterbatasan populasi, Curacao memanfaatkan pemain diaspora. Banyak pemain mereka lahir di Belanda dan memiliki garis keturunan Curacao seperti Juninho Bacuna atau Leandro Bacuna.

“Curacao, seperti banyak negara kecil lainnya, sangat cerdas dalam memanfaatkan diaspora, menghubungi siapa pun yang memiliki hubungan keluarga, bahkan yang jauh sekalipun,” ujar jurnalis olahraga independen Carl Worswick.

2. Haiti: Harapan di Tengah Krisis

Kisah inspiratif juga datang dari Haiti, yang lolos ke Piala Dunia setelah menanti lebih dari setengah abad, tepatnya sejak edisi 1974.

Keberhasilan ini terasa lebih luar biasa mengingat negara tersebut tengah menghadapi krisis keamanan dan kemanusiaan yang parah. Kekerasan geng membuat Timnas Haiti bahkan tidak bisa berlatih di dalam negeri.

“Mereka hidup dalam krisis sepenuhnya. Mereka sudah bertahun-tahun tidak bisa berlatih atau bermain di Haiti karena kekerasan geng,” kata jurnalis Haiti, Harold Isaac.

Pelatih Haiti sejak 2024, Sebastien Migne, bahkan belum pernah menginjakkan kaki di negara itu, di mana geng menguasai sekitar 90% ibu kota, Port-au-Prince.

Bagi rakyat Haiti, kelolosan ini menjadi secercah harapan. “Ini benar-benar menjadi anugerah yang tak terbayangkan, secara moral, bagi negara,” Isaac menambahkan.

3. Tanjung Hijau: Debut Bersejarah dari Afrika

Negara kecil lainnya, Cape Verde atau Tanjung Hijau, juga mencetak sejarah dengan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Eswatini 3-0.

Dengan populasi sekitar 600.000 jiwa, Tanjung Hijau sebelumnya dikenal sebagai salah satu negara terkecil yang selalu berjuang keras  ke Piala Dunia.

Seperti Curacao, mereka juga mengandalkan diaspora. Salah satu pemainnya adalah bek tengah Roberto Lopes, yang lahir di Irlandia dari ibu Irlandia dan ayah berdarah Tanjung Hijau.

4. Panama: Kembali untuk Penebusan

Panama juga kembali ke Piala Dunia setelah debut mereka pada 2018. Negara berpenduduk sekitar 4,5 juta jiwa ini memastikan tiket usai mengalahkan El Salvador.

Pada 2018, Panama finis di dasar grup tanpa poin. Kini, mereka punya kesempatan untuk membalas kegagalan tersebut.

Salah satu faktor banyaknya negara kecil dari kawasan Amerika yang lolos adalah status tuan rumah bagi Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Ketiganya lolos otomatis, sehingga membuka lebih banyak slot bagi negara lain di kawasan CONCACAF.

Tantangan Selanjutnya untuk Skuad Negara Kecil

Meski media sosial dipenuhi perayaan, perjalanan negara-negara ini masih panjang. “Saya pikir semua orang berasumsi ini pasti hal yang bagus. Tapi ada pelajaran penting: tidak selalu demikian,” kata Worswick.

Ia menekankan pentingnya federasi sepak bola untuk mengelola dana dan persiapan dengan baik, mengingat banyak debutan Piala Dunia sebelumnya tersandung masalah finansial dan tekanan domestik.

Namun bagi Haiti, sekadar lolos saja sudah cukup berarti. “Rakyat menderita selama bertahun-tahun, dan mereka hanya membutuhkan harapan. Inilah yang diberikan tim ini,” ujar Isaac, menimpali.