Kapten dan bintang Timnas Argentina, Lionel Messi. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Atlanta, Amerika Serikat
Lionel Messi menjadi pemain pertama dengan dua penalti tidak masuk dalam satu Piala Dunia.
Lionel Messi dan Argentina masih bertahan di Piala Dunia 2026 setelah melaju ke perempat final usai mengalahkan Mesir, 3-2, secara dramatis di babak 16 besar di Atlanta, Amerika Serikat (AS), Selasa (7/7/2026) malam WIB.
Messi bermain impresif di pertandingan tersebut. Namun, di pertandingan itu pula La Pulga mencatat rekor yang tidak diinginkan saat penaltinya di babak pertama digagalkan kiper Mesir, Mostafa Shobeir.
Itulah penalti gagal kedua Messi di Piala Dunia 2026, setelah sebelumnya ia juga gagal membobol gawang Austria dari titik putih di fase grup.
Seolah-olah memang sudah takdirnya, Messi kini tanpa sengaja mencatatkan sejarah. Di luar adu penalti, La Pulga menjadi pemain Piala Dunia pertama yang gagal mengeksekusi penalti sebanyak dua kali di satu turnamen. Menurut portal data Opta, ini merupakan rekor negatif di Piala Dunia.
Messi tercatat 8 kali dipercaya sebagai eksekutor penalti sepanjang kariernya di Piala Dunia. Dari jumlah itu, ia hanya sukses 4 kali. Tiga kali digagalkan oleh kiper dan sekali melebar.
Data menunjukkan, Messi enam kali mengarahkan tembakan ke kanan atau sisi kiri kiper—termasuk saat digagalkan oleh Shobeir—dan hanya tiga yang masuk. Dua tembakan digagalkan kiper dan satu melebar.
Messi hanya dua kali mengarahkan bola ke kiri atau sisi kanan gawang dengan masing-masing satu menjadi gol dan lainnya ditepis kiper.
Fakta menarik lainnya adalah, dalam dua Piala Dunia terakhir, Argentina menjadi negara yang paling banyak mendapatkan penalti, delapan.
Di bawah Argentina ada Inggris (4), lalu Portugal, Prancis, dan Brasil (masing-masing 3), lantas Iran, Swis, Jerman, dan Polandia (masing-masing 2).
Mengapa Messi Selalu Mengambil Penalti
Seperti diterangkan di atas, Messi adalah pemain pertama yang gagal mengeksekusi dua penalti (di luar adu penalti) dalam satu gelaran Piala Dunia yang sama.
Mengapa pesepak bola sehebat itu justru tidak bisa diandalkan saat mengambil penalti? Faktor yang mungkin merugikannya justru adalah hal yang membuatnya istimewa dalam permainan terbuka: kreativitasnya.
Messi tidak memiliki gaya eksekusi penalti yang baku, baik dari segi teknik maupun arah bola. Bandingkan dengan striker Inggris Harry Kane yang punya ciri khas tendangan melengkung setinggi pinggang yang mengarah ke sisi jauh gawang. Messi selama ini kerap berganti-ganti antara menggunakan kaki bagian dalam atau punggung kaki.
Di awal kariernya, Messi biasa menendang bola rendah dengan awalan pendek dan lambat—seolah-olah hanya mengalirkan bola ke sudut jauh gawang—dan ia terus melakukannya bahkan setelah empat penaltinya berhasil digagalkan.
Ia cenderung mengeksekusi penalti dengan cepat setelah peluit wasit dibunyikan, sebuah kebiasaan yang menurut penelitian berkaitan dengan tingkat keberhasilan yang lebih rendah dan bisa ditafsirkan sebagai tanda kegugupan.
Setiap tahun Messi mengambil lebih dari satu penalti, ia pasti gagal setidaknya satu kali. Ia pernah gagal saat mencoba teknik Panenka saat melawan Ekuador di Copa America dua tahun lalu—bola membentur mistar gawang—dan teknik yang sama membuatnya tampak konyol saat kiper Charlotte, Kristijan Kahlina, hanya diam mematung pada bulan September lalu.
Namun, karena ia adalah Messi, ia mampu menebus kegagalan tersebut dengan pencapaian yang jauh lebih besar. Dalam pertandingan melawan Austria, ia mencetak dua gol yang melampaui rekor Miroslav Klose sekaligus menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia kategori putra.
Bahkan pemain hebat pun memiliki kelemahan. Bagi Messi, kelemahan itu terletak pada eksekusi penalti.