TVRINews - Jakarta, Indonesia

Sepak bola tidak pernah bisa lepas bebas dari politik. Beberapa kasus di Piala Dunia 2026 ini merupakan bukti termutakhir, mungkin terjernih sekaligus tersedih, yang menguatkan pernyataan tersebut.

Sebelum sampai ke "Balogun Gate", yakni penghapusan kartu merah Folarin Balogun sehingga penyerang andalan Amerika Serikat itu bisa tampil di perempat final, Piala Dunia 2026 sudah menggelar serangkaian pertunjukan yang bikin penggemar bola terperangah. 

Bukan. Tulisan ini takkan mengulas soal bisnis pertunjukan, yang memang jagonya AS, untuk disandingkan dengan turnamen keramat terbesar global ini. Tulisan ini juga tidak membahas jalannya turnamen di lapangan hijau yang sejauh ini menyiratkan Piala Dunia 2026 akan dianggap sebagai salah satu yang terbaik--kecuali permainan kasar Paraguai terhadap Prancis yang diabaikan wasit.

Menjelang turnamen, terdapat sebuah bahasan menarik mengenai potensi Piala Dunia 2026 merupakan bentuk sportwashing (saya terjemahkan bebas: pencucian-olahraga), yakni gelaran olahraga untuk menaikkan citra rezim yang berkuasa. Anggapan tersebut tampaknya tidak berlaku buat Donald Trump. Ia belum naik ke tampuk kekuasaan saat AS, bersama Kanada dan Meksiko, dipilih FIFA sebagai tuan rumah bersama perhelatan Pildun 2026 ini. Lagipula, gelaran sekelas Piala Dunia hampir pasti, otomatis, menaikkan pamor negara tuan rumah beserta pemerintahannya betapa pun lalim. Piala Dunia 1934 dan 1978 bisa masuk kategori pencucian-olahraga, tapi edisi 2026 bakal rada maksa kalau dinilai serupa.

Yang tampaknya diketahui Trump, apalagi dengan latar belakang kental sebagai pengusaha, turnamen ini merupakan magnet bagi penikmat bola di seluruh dunia. Yang beneran, bukan yang hanya dengan klaim narsistis seperti turnamen domestik tapi disebut dengan embel-embel "dunia" di namanya. Efeknya sudah jelas buat pemimpin yang mempunyai endusan pebisnis. Turnamen ini dipandang sebagai sarana untuk merangkul pendapatan yang tidak kecil.

Agak susah menilai Trump adalah penggemar olahraga. Pernyataan-pernyataannya saat tim-tim juara olahraga AS diundang ke Gedung Putih menyiratkan taraf cukup tinggi mengenai pengetahuan minim, bergantung kepada contekan tim ahli di belakangnya, hingga bahkan ketidakpeduliannya terhadap olahraga. Bayangkan, saat Inter Miami dengan Lionel Messi sebagai pemimpinnya diundang ke Gedung Putih, Trump malah memunculkan nama Cristiano Ronaldo.

Yang rada jelas, Trump seperti menggemari, bahkan haus kontroversi. Kebijakan-kebijakannya kerap menarik perhatian karena kontroversial dan tidak jarang mengundang keresahan karena agak atau malah sangat berseberangan dengan nalar umum. Sebut saja kebijakan tarif untuk impor yang, sementara mengangkat manufaktur lokal dan menekan defisit, membuat pasar global tidak stabil. 

Satgas imigrasi dan bea cukai, dengan akronim yang mudah diingat, ICE, bentukannya menghadirkan aksi-aksi kekerasan terhadap tersangka, sesekali berakhir fatal. Kekhawatiran bahwa ICE bakal merusak pesta para penikmat bola yang mengunjungi turnamen untungnya tidak terdengar. 

Namun, kebijakan ketat imigrasi AS ternyata menyenggol keras Piala Dunia dan terkesan diskriminatif. Wasit asal Somalia ditolak masuk AS karena dianggap berhubungan dengan organisasi terkait teroris. 

Akan tetapi, persoalan diskriminasi, saya tidak ingat ada kubu yang lebih tertindas daripada Timnas Iran di Piala Dunia 2026 ini. Maka, bagian berikutnya akan mengenang sedikit kezaliman yang dialami peserta turnamen akbar di muka bumi ini.

Iran Terzalimi

Sikap diskriminatif AS terhadap Iran tersebut tak ayal merupakan dampak langsung dari ketegangan yang sudah masuk taraf perang antara AS yang bersekutu dengan Israel melawan musuh lama geopolitis, Iran. 

Masalahnya, efeknya berimbas ke Piala Dunia 2026. Iran merupakan salah satu tim paling cepat yang lolos ke turnamen empat tahunan ini. Awalnya, AS langsung menolak kehadiran Iran di negara mereka.

Team Melli juga sempat mengundurkan diri dengan bayangan beratnya bermain di negara yang sudah mengebom dan meminta korban nyawa rakyat termasuk pemimpin mereka, tapi akhirnya memilih bertarung di pertempuran lapangan hijau untuk menjaga martabat. 

Masalah tahap awal berupa visa. Sejumlah staf penting manajemen dan administrasi kubu Iran tidak mendapatkan visa dari AS. Tak cuma anggota kontingen yang dipersulit atau malah dicegah datang. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) menyatakan bahwa AS telah mencabut jatah tiket untuk suporter Iran di Piala Dunia 2026. 

Tim Iran kemudian harus memindahkan kamp dari Tucson, Arizona, AS, ke Tijuana, Meksiko. Padahal, ketiga laga tim dari Persia ini di Grup G dihelat di Amrik. Jadilah skuad asuhan Amir Ghalenoei itu mesti repot bolak-balik Meksiko-AS setiap hari pertandingan.

Sepak bola boleh saja mendaku, mengklaim, sebagai pemersatu dan pembawa kedamaian. Akan tetapi, bagi sebagian rakyat AS yang mengikuti pandangan ultranasionalime sayap kanan yang dikembangkan rezim berkuasa saat ini bahwa pertikaian dengan Iran adalah perang, maka Team Melli adalah lawan. 

Tim yang juga berjulukan Citah (Cheetah) Persia itu mesti berjuang tanpa dukungan memadai. Mereka perlu membalikkan hal-hal yang menekan mereka, dari cemooh saat lagu kebangsaan Iran diperdengarkan sampai tekanan lawan tanding, untuk tampil baik. Iran terbilang berhasil melakukannya. Citah Persia menempati peringkat ketiga di klasemen akhir Grup G, dengan torehan tiga angka dari tiga kali bermain imbang. Untuk beberapa saat, peluang mereka lolos ke 32 besar terjaga. Namun, jagat mungkin tidak ingin Iran mendapatkan kesulitan lebih lanjut. Skor 3-3 antara Aljazair dan Austria di Grup J--"Aib Kansas City"?--memastikan Team Melli gagal lolos sebagai delapan peringkat ketiga terbaik. Menyesakkan buat Iran yang berada di posisi kesembilan.

Namun, Team Melli layak pulang dengan kebanggaan tinggi. Ode buat Iran: mereka pulang tak tertaklukkan di tanah musuh. 

Namun, kisah Iran tidak berhenti sampai pada kepulangan. Seorang pejabat pemerintahan AS mengaku lega Iran tidak melanjutkan perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Menurut hemat saya, kelegaan tersebut mengisyaratkan kemenangan Iran.

Dan bukan Iran saja yang praktis membungkam tingkah polah "menggemaskan" pemerintahan Trump dan FIFA.

Vulgar Display of Power

Donald Trump tidak peduli beberapa keputusannya mengusik keteraturan turnamen yang sudah dipersiapkan matang. Trump menolak jadi yang biasa-biasa saja. Kalau awalnya diduga ia akan mendongkrakkan citra diri via turnamen, Trump melampaui sangkaan itu. Mantan pebisnis tersebut boleh malah merasa ia yang mendongkrak Piala Dunia 2026, bukan sebaliknya.

Ia menunjukkan, secara vulgar, kekuasaan kepada dunia. Misinya jauh lebih "dahsyat", mengisyaratkan megalomania, daripada sekadar menjadi pemimpin USA. Ia seperti mau menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya adalah orang nomor satu di dunia. 

Penandanya adalah lelucon terakhir, skandal yang sangat mudah masuk kategori yang paling memuakkan: Balogun Gate.

Saya pribadi tidak akan menuding Trump sebagai biang kerok tunggal. Butuh dua orang untuk berdansa tango, begitu ungkapan yang bermakna kolaborasi banal dua pesakitan.

Seperti pengakuannya, melalui telepon, Trump cuma minta kartu merah itu ditinjau kembali, seraya menambahkan bahwa dirinya bagus untuk tahu itu bukan pelanggaran. Cuma dua pemain yang berlari cepat dan berbenturan biasa saja, katanya.

Permintaan Trump buat peninjauan kembali langsung kepada Gianni Infantino, bestie-nya yang adalah Presiden FIFA, yang tidak malu-malu memperlihatkan kebanggaannya dekat dengan Presiden Amrik itu. Infantino pun enggak segan memberlakukan pengecualian. Dicarinyalah celah pada aturan institusinya sendiri untuk mengabulkan permohonan kawan karibnya tersebut. Dalihnya, keputusan anulir kartu merah Balogun dibuat oleh dewan yudisial FIFA yang independen.

Kartu merah Balogun diputihkan. Keputusan wasit, yang sudah diperkuat dengan peralatan berteknologi canggih, dari bantuan VAR sampai kamera di samping kepala sehingga kayak organisme sibernetis (cyborg) di film-film Hollywood, seperti ludah yang dijilat kembali. FIFA mengabaikan orang-orang pilihannya sendiri!

Pemirsa sudah tahu siapa antagonisnya. Belgia menjadi protagonis. "Ubah ini!" tulis akun Timnas Belgia di platform X dengan foto Romelu Lukaku yang memastikan kemenangan 4-1 atas AS yang diperkuat Balogun. Reaksi itu bak menyuarakan banyak penggemar sepak bola yang gemas terhadap ulah FIFA dan Trump.

Pencinta sepak bola AS sendiri tahu apa konsekuensi intervensi Trump. Jargon "Bikin Amerika Hebat Lagi" jadi jungkir balik di lapangan hijau sepak bola sesungguhnya, menjadi bikin malu saja.

Keadilan yang terdengar puitis dirasakan AS.

Standar Ganda

Kembali, FIFA, terutama Gianni Infantino, yang seharusnya mendapat kecaman lebih besar. Kalau ditarik ke belakang, FIFA sudah membuat langkah-langkah yang mengundang keheranan. Infantino, atas nama FIFA, memberikan Peace Prize buat Trump, yang beberapa saat kemudian mengoyak perdamaian dengan serangan terhadap Iran. Off-side pertama Infantino itu segera disambut reaksi keras. The Guardian menyebut pengidolaan Infantino pada Trump, terjemahan secara harfiahnya, "membuat tangan sepak bola berlumuran darah".

FIFA menyatakan akan membantu Iran. Bantuan hanya sampai kepastian partisipasi. Kenyataannya, wakil Asia itu tetap terpaksa memindahkan markasnya karena kelaliman rezim negara tuan rumah.

Apa yang FIFA lakukan saat wasit asal Somalia pilihan mereka ditolak masuk ke AS? Ada pendekatan, tapi nihil hasil. "Kami kan bukan raja dunia," begitu alasan mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kebijakan imigrasi Amrik, termasuk pemberlakuan pelarangan masuk ke wilayah mereka untuk warga beberapa negara peserta. 

Di situlah FIFA disorot karena memberlakukan standar ganda. FIFA berlaku keras terhadap negara lain. Sebuah negara yang sudah ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-17 diganti karena sikap politik beberapa pejabat yang menolak kedatangan Israel ke negaranya. Untuk Piala Dunia 2022, Rusia dilarang tampil sejak kualifikasi karena menyerang Ukraina.

Maka, pernyataan Iran bahwa AS-lah yang seharusnya dilarang tampil di Piala Dunia karena kebijakan diskriminatif mereka terdengar masuk akal bila memakai logika FIFA yang sama terhadap negara-negara yang dilarang tampil atau dicabut haknya menggelar turnamen. Sulit, memang, karena AS tuan rumah. Akan tetapi, ketiadaan teguran kepada AS menyuratkan inferioritas FIFA di bawah negara yang selalu mendaku sebagai adidaya itu.

Berdasarkan pemandangan tunduknya FIFA itu, gelombang desakan agar Gianni Infantino mengundurkan diri semakin besar. Hemat saya, desakan itu, begitu pula realisasinya, sudah layak dan sepantasnya.

Jika Infantino tidak mundur, reputasi FIFA dan Piala Dunia bakal memudar. Jangan-jangan, suatu waktu nanti akan ada FIFA tandingan.