Gelandang Paraguai, Miguel Almiron, saat menutup mulutnya saat menyampaikan sesuatu kepada pemain Turki, di laga Jumat (19/6/2026). Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - San Francisco, Amerika Serikat
Miguel Almiron mendapat kartu merah setelah mengatakan sesuatu sambil menutupi mulutnya kepada pemain Turki.
Miguel Almiron mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang mendapatkan kartu merah karena menutupi mulutnya ketika saling melontarkan perkataan antara dirinya dan pemain Turki. Kartu merah tersebut diberikan wasit Ivan Barton di menit ke-45+3 atau jelang babak pertama akan berakhir.
Sebelum kartu merah dalam pertandingan Jumat (19/6/2026) atau Sabtu pagi WIB tersebut, Miguel Almiron sebenarnya bukanlah pemain yang menjadi perhatian. Wasit pemimpin pertandingan tengah mengatasi situasi pelanggaran yang terjadi. Di antara situasi tersebut diketahui dua pemain yaitu Miguel Almiron dan bek Turki Mert Muldur tampak melontarkan kalimat.
Mert Muldur yang tampak dekat dengan Miguel Almiron, terlihat terkejut dengan perkataan lawannya dan kemudian melakukan protes kepada wasit pemimpin pertandingan. Wasit Ivan Barton kemudian tampak mencermati keterangan melalui earphone dari ruang teknik. Lalu, dia memperlihatkan gestur akan melihat VAR. Beberapa saat kemudian, wasit asal El Salvador ini kembali ke lapangan dan memberikan kartu merah kepada Miguel Almiron.
Sang pemain tampaknya baru menyadari apa yang telah dilakukannya. Dengan terpaksa dia harus meninggalkan lapangan karena kartu merah tersebut. Pemain Atalanta United ini merupakan pemain andalan Paraguai. Meski demikian, beruntung bagi Paraguai karena mereka berhasil mempertahankan keunggulan 1-0 hingga laga berakhir meski kehilangan satu pemain.
Dengan kartu merah ini pula, Miguel Almiron menjadi pemain pertama dalam sejarah di mana peraturan atau regulasi tidak boleh menutup mulut saat berargumen dengan lawan dilakukan. Peraturan ini merupakan peraturan baru dan diterapkan mulai di Piala Dunia 2026 ini. Regulasi ini disetujui International Football Association Board (IFAB) dalam Kongres FIFA pada akhir April 2026 lalu.
Aturan melarang menutup mulut baik dengan tangan atau dengan kaus dan lainnya diberlakukan setelah insiden yang terjadi terkait rasisme yang dialami pemain Real Madrid, Vinicius Junior. Lembaga yang bertanggung jawab terhadap peraturan pertandingan ini menyetujui aturan melarang pemain menutupi mulutnya ketika berkomunikasi dengan lawan.
Dalam peraturan tersebut disebutkan melarang pemain menggunakan kaus atau apapun, termasuk tangan, untuk menutup mulutnya saat berbicara dengan lawan. Peraturan ini sebagai bagian dari upaya memerangi rasisme yang selalu muncul dalam sepak bola. Secara tidak resmi, peraturan ini kemudian dikenal dengan "Vinicius Law".
Peraturan itu juga menyebutkan bahwa jika percakapan berlangsung dalam konteks yang ramah, pemain boleh menutup mulut mereka. Namun, begitu ada sedikit pun tanda konfrontasi, kartu merah otomatis diberikan.
Dalam laga Benfica vs Real Madrid, 17 Februari lalu di ajang Liga Champions, Vinicius Junior menjadi korban rasisme pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Pada laga tersebut, Gianluca Prestianni menyampaikan kata "Monkey" ke arah Vinicius Junior.
Dengan kartu merah yang diterima Miguel Almiron, merupakan kartu merah ketiga Paraguai dalam sejarah mereka di Piala Dunia. Dua kartu merah sebelumnya terjadi pada tahun 2002 (Carlos Paredes dan Roberto Acuna). Ini juga merupakan kartu merah ketujuh di turnamen ini, terbanyak dalam Piala Dunia sejak 2014 (10).
Belum diketahui apa yang dikatakan Miguel Almiron kepada Mert Muldur. Yang pasti, Mert Muldur menyampaikan protes kepada wasit saat mendengar ucapan dari Miguel Almiron dan itu merupakan pelanggaran yang berujung kartu merah.