TVRINews - Buenos Aires, Argentina

Diego Maradona bintang Piala Dunia 1986 dengan gol, asis, keindahan permainan, dan kontroversi.

Sebuah asis Diego Maradona untuk Jorge Burruchaga membuat Timnas Argentina mencetak gol ketiga di final Piala Dunia 1986, gol yang mengubah kedudukan dari imbang 2-2 menjadi menang 3-2 atas Jerman Barat.

Asis dan gol itu tercipta hanya sekitar tiga menit setelah gol kedua Timnas Jerman Barat yang diciptakan Rudi Voller. Argentina pun juara Piala Dunia 1986, gelar kedua Negeri Tango setelah yang pertama di Piala Dunia 1978.

Dia adalah Diego Maradona yang muncul di antara bintang-bintang Piala Dunia yang digelar di Meksiko. Ada Gary Lineker (Inggris), Michael Laudrup (Denmark), Careca (Brasil), Michel Platini (Prancis), Karl-Heinz Rummenigge (Jerman Barat), atau sang pemain muda dari Belgia, Enzo Scifo.

Diego Maradona tidak terbandingkan di antara barisan pemain bintang tersebut. Piala Dunia 1986 adalah tempat tertinggi dari perjalanan karier sang pemain yang kemudian diakui sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, dalam sejarah sepak bola.

Diego Maradona yang ketika itu berusia 25 tahun datang ke Meksiko bersama Timnas Argentina asuhan Carlos Bilardo dengan membawa kegelisahan. Di Piala Dunia 1978 ketika usianya 17 tahun, dia hanya sebuah harapan bagi Timnas Argentina setelah pelatih Tim Tango ketika itu, Cesar Luis Menotti tidak memasukkannya ke dalam tim dengan alasan dia masih terlalu muda.

Empat tahun kemudian atau di Piala Dunia 1982, Diego Maradona akhirnya mewujudkan impiannya bermain di turnamen terbesar sepak bola tersebut. Namun, bayangannya tentang Piala Dunia tidak sesuai karena di turnamen ini dia menjadi sasaran permainan keras lawan. Piala Dunia saat itu bahkan memalukan karena kartu merah setelah dirinya menendang pemain Brasil, Joao Batista.

Hingga kemudian, Piala Dunia 1986 menjadi momen Diego Maradona. Namun, banyak hal yang dilewatinya sebelum datang ke Meksiko, di antaranya adanya konflik di tim ketika Carlos Bilardo mengalihkan jabatan kapten dari lengan Daniel Passarella kepada Diego Maradona.

Diego Maradona juga menyandang sebagai pemain termahal dua kali, pertama saat ke Barcelona dengan nilai transfer 5 juta pound ketika itu (1982) lalu saat ke Napoli dengan nilai transfer 6,9 juta pound di tahun 1984. Dengan dua status tersebut, wajar jika di Piala Dunia 1986 ini dia menjadi perhatian dunia.

Publik juga akan mengingat tentang aksi solo run Diego Maradona di laga El Clasico menghadapi Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu. Pada tahun 1983 itu, dia menjadi pemain pertama dalam sejarah Barcelona yang mendapatkan standing ovation, apllaude dari fans Real Madrid karena aksinya.

Namun semua deretan pencapaian itu hanya awal dari pertunjukan aksi-aksi Diego Maradona. Panggung sebenarnya adalah di Piala Dunia 1986 yang membuat namanya dikenang selamanya, sebagai "pencuri" atau sebagai "malaikat".

Panggung pertama Diego Maradona terjadi di laga pertama fase grup (A) menghadapi Korea Selatan. Dalam laga tersebut, Diego Maradona memberikan tiga asis bagi semua gol Tim Tango dalam kemenangan 3-1.

Di laga kedua menghadapi Italia, Diego Maradona mencetak gol pertamanya di Piala Dunia 1986 ini. Gol yang membuat Argentina terhindar dari kekalahan. Asis Jorge Valdano diteruskan dengan tembakan kaki kiri yang membuat Argentina imbang 1-1.

Menghadapi Bulgaria di pertandingan terakhir Grup A, Diego Maradona memberikan asis dalam kemenangan Argentina, 2-0. Dengan dua kemenangan dan satu kali imbang, Argentina pun melangkah ke 16 besar, menghadapi Uruguai.

Hanya di putaran itu Diego Maradona tidak mencetak gol atau memberikan asis. Namun, dia pemain yang dominan dalam permainan Tim Tango dalam kemenangan 1-0 atas Uruguai. Setelah itu, dia mencetak dua gol masing-masing ke gawang Inggris (2-1) di perempat final dan Belgia (2-0) di semifinal.

Karena itu, kemenangan atas Jerman Barat di final hanya penegasan dari peran Diego Maradona. Total, dia mencetak 5 gol dan memberikan 5 asis sepanjang turnamen ini, atau berperan dalam 71 persen total gol yang diciptakan Argentina saat itu.

Diego Maradona selalu berperan dalam setiap pertandingan Timnas Argentina di Piala Dunia 1986. Diego Maradona memiliki banyak nama seperti El Pibe de Oro (The Golden Boy), D10S, El Pelusa (si Rambut Halus), atau "El Diego"

Dua Wajah Berbeda dalam Satu Laga

Jika ada salah satu alasan mengapa Inggris membencinya, tiada lain adalah gol kontroversial yang dikenal dengan "Hand of God". Dalam perempat final, antara Argentina dan Inggris di Stadion Azteca, 22 Juni 1986.

Gol kontroversial itu terjadi di menit-menit awal babak kedua. Berawal aksi Diego Maradona menembus adangan pemain Inggris, mengirimnya ke Jorge Valdano. Rekannya ini kemudian mencoba mengarahkan bola, tapi bek Timnas Inggris yaitu Steve Hodge, mencoba mengantisipasinya.

Namun, antisipasi Steve Hodge dengan kakinya yang tinggi ke udara justru mengarahkan bola ke sisi kosong. Diego Maradona sudah berlari di sana, bola itu  melambung di udara di area jantung pertahanan Timnas Inggris.

Saat itulah, Diego Maradona melompat mencoba menjangkau bola tersebut. Ketika itu pula, kiper Timnas Inggris Peter Shilton yang lebih tinggi dibandingkan Maradona juga mencoba mengamankan bola tersebut.

Yang terjadi kemudian, ketika Peter Shilton mencoba meninju bola tersebut untuk membuangnya, Diego Maradona menggunakan tangan kirinya mengenai bola tersebut yang masuk ke gawang.

Wasit pemimpin pertandingan ketika itu, Ali Bennaceur, tampak tidak melihat dengan jelas yang terjadi. Sementara Diego Maradona dengan kepercayaan diri berlari merayakan gol tersebut bersama rekan-rekannya.

Meski kemudian banyak pemain Inggris yang protes, wasit tetap mengesahkan gol tersebut. "Sedikit dengan kepala Maradona, dan sedikit dengan tangan Tuhan," kata Diego Maradona soal gol tersebut.

Tidak cukup dengan gol kontroversial itu, Diego Maradona menawarkan sisi dirinya sebagai seniman lapangan. Pemain klasik yang membawa nomor 10 di punggungnya. Hanya sekitar empat menit setelah "The Hand of God", di menit ke-55 dia mempelihatkan bagaimana melewati adangan lima pemain Timnas Inggris yang kemudian diingat sebagai "Goal of the Century"

Setelah mendapatkan operan dari Hector Enrique di setengah lapangan, dia menggiring bola, melewati Peter Beardsley, Peter Reid, Terry Butcher, dan Terry Fenwick, sebelum berhadapan dengan Peter Shilton untuk mencetak gol keduanya di laga tersebut.

Gol tersebut kemudian dikenal dengan Goal of the Century atau Gol Abad Ini. Menurut data sejumlah pers, Diego Maradona menggiring bola dengan Jarak 68 meter dengan 11 kali sentuhan.

Demikianlah, bagaimana Diego Maradona menjadi bintang di Piala Dunia 1986, menguasai turnamen tersebut dengan gol, asis, keindahan permainannya, serta juga kontroversinya.