TVRINews, Jakarta

Satu hal, lewat pemanggilan terbarunya oleh Timnas Jepang, Yuto Nagatomo resmi mengukir rekor sebagai pemain Asia pertama yang menembus skuad Piala Dunia dalam lima edisi (2010, 2014, 2018, 2022, dan 2026).

Jumat, 15 Mei 2026, media sosial FC Tokyo mengunggah sebuah video yang mengharukan. Bek senior FC Tokyo, Yuto Nagatomo tampak duduk di sebuah kursi gaming. Raut mukanya resah sambil terus menatap sebuah layar yang tidak terlihat di frame. 

Rupanya Nagatomo sedang menyimak sebuah acara penting, yakni pengumuman skuad Timnas Jepang yang akan tampil pada ajang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, 11 Juni-19 Juli 2026.

Tidak lama kemudian, raut wajahnya berubah. Ia tampak menangis sesenggukan saat namanya disebut sebagai salah satu pemain yang akan berangkat ke Piala Dunia 2026.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya soal alasan dia menangis. Bukankah Nagatomo sudah sering memperkuat Jepang di Piala Dunia? Kenapa kali ini dia begitu "lebay", istilah anak sekarang, dalam merespons panggilan tersebut?

Alasan pastinya tentu hanya Nagatomo yang tahu. Tapi yang jelas, air mata yang tumpah dari mata mantan pemain Inter Milan itu saat melihat namanya tercantum dalam daftar skuad Piala Dunia 2026, bukanlah sekadar luapan emosi sesaat. 

Tetesan air mata itu adalah kristalisasi dari dedikasi murni, kecintaannya pada sepak bola, dan sumpah setia yang tidak pernah luntur kepada negaranya, Jepang. 

Pada usia 39 tahun, saat mayoritas pesepak bola seusianya telah bersantai menikmati masa pensiun, Nagatomo justru menangis haru karena masih diberi kepercayaan memikul harapan bangsa di panggung tertinggi Piala Dunia.

Tangisan pengabdian Nagatomo mengirimkan pesan kuat tentang arti dari sebuah profesionalisme sejati. Lahir pada 12 September 1986, bek kiri militan ini memulai karier profesionalnya di FC Tokyo pada tahun 2007 sebelum berkelana ke Eropa.

Namanya abadi sebagai salah satu bek sayap Asia terbaik berkat pengabdian panjang bersama raksasa Italia, Inter Milan (2011–2018), di mana ia mempersembahkan trofi Coppa Italia 2011. 

Tak hanya di Italia, ia juga sukses merengkuh gelar juara liga berturut-turut bersama Galatasaray di Turki, sempat mencicipi atmosfer Ligue 1 bersama Marseille, hingga akhirnya pulang ke pelukan klub masa mudanya, FC Tokyo.

Pada level internasional, loyalitas Nagatomo berada di level yang sakral. Ia merupakan pemain dengan caps terbanyak kedua sepanjang sejarah Timnas Jepang dengan catatan 144 penampilan, hanya selisih 8 laga dengan Yasuhito Endo yang membela Jepang dalam kurun 2002-2015. 

Prestasi puncaknya diraih saat membawa Jepang menjuarai Piala Asia 2011, yang mengantarkannya meraih penghargaan AFC Asian International Player of the Year pada 2013. 

Dan yang paling luar biasa, lewat pemanggilan terbarunya ini, Nagatomo resmi mengukir rekor fantastis sebagai pemain Asia pertama dalam sejarah yang berhasil menembus skuad Piala Dunia dalam lima edisi berturut-turut (2010, 2014, 2018, 2022, dan 2026).

Panggung Piala Dunia 2026 memang bukan hanya milik Nagatomo seorang dalam urusan menolak tua. Dunia akan menyaksikan bentrokan para veteran lainnya. Di sana ada Cristiano Ronaldo yang ambisinya seolah tak punya batas akhir, serta Lionel Messi yang tampil lebih rileks tapi tetap magis setelah menuntaskan takdirnya sebagai juara Piala Dunia. 

Jangan lupakan pula Luka Modric yang keanggunan permainannya di lini tengah Kroasia masih belum tergerus, atau Guillermo Ochoa, kiper legendaris Meksiko yang selalu menemukan momen terbaiknya setiap kali turnamen empat tahunan ini dimulai.

Namun, ada garis demarkasi yang jelas yang membedakan Nagatomo dengan nama-nama senior tersebut. Jika Ronaldo atau Messi disorot karena ego kebintangan dan status mereka sebagai "alien" lapangan hijau, Nagatomo berdiri sebagai personifikasi dari prajurit kelas pekerja. 

Ia bukanlah tipe pemain yang memenangi laga lewat dribel magis, melainkan melalui determinasi tanpa henti, stamina luar biasa, dan mentalitas pantang menyerah khas Bushido. 

Ketika Nagatomo menangis mendengar kabar pemanggilannya, ia tidak sedang memikirkan statistik individu. Ia menangis karena menyadari bahwa fisiknya yang menua masih diizinkan bertarung untuk skuad Samurai Biru.

Realitas di atas kertas memang menunjukkan bahwa peluang Nagatomo untuk tampil sebagai starter reguler tidak besar, mengingat ketatnya persaingan di sektor bek sayap Jepang. Bahkan dalam ajang besar lainnya yakni Piala Asia 2023 di Qatar, ia tidak diturunkan satu detik pun meski masuk dalam daftar skuad asuhan Hajime Moriyasu. 

Namun, di sinilah letak dedikasinya. Ia tidak menangis karena jaminan menit bermain, melainkan karena kesempatan untuk kembali berbakti. Jika pemain bintang sekelas Cristiano Ronaldo terkadang menunjukkan gestur frustrasi saat harus memulai laga dari bangku cadangan, Nagatomo justru memberikan teladan berbeda. 

Ia menerima peran sebagai mentor dan dirigen semangat di pinggir lapangan dengan kebesaran hati yang sama besarnya saat ia masih menjadi pilihan utama di Inter Milan dulu.

Keberadaannya di bangku cadangan adalah "asuransi mental" bagi skuad Samurai Biru. Dalam turnamen sebesar Piala Dunia, kehadiran sosok yang telah merasakan pahit manisnya empat edisi sebelumnya jauh lebih berharga daripada sekadar tambahan rotasi pemain. 

Walaupun ia mungkin hanya duduk di bench, pengaruhnya meresap ke dalam nadi rekan-rekan setimnya yang lebih muda, membakar semangat mereka setiap kali ia berteriak dari pinggir lapangan atau memimpin sesi latihan dengan intensitas yang tak berkurang. 

Nagatomo membuktikan bahwa pengabdian pada negara tidak selalu harus diukur dengan durasi sentuhan bola, melainkan seberapa besar api semangat yang bisa ia tularkan agar tim tetap berdiri tegak di bawah tekanan dunia.

Pada akhirnya, panggung sepak bola modern yang serba pragmatis sering kali melupakan esensi romantis dari olahraga ini. Yuto Nagatomo, lewat tangisan harunya dan rekor lima edisi Piala Dunianya, hadir sebagai pengingat abadi. Bahwa di atas lapangan hijau, usia hanyalah deretan angka, tetapi dedikasi dan air mata kesetiaan adalah jiwa yang membuatnya tetap hidup.