Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni. Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews - Buenos Aires, Argentina
Lionel Scaloni awalnya diragukan karena minim pengalaman. Namun, perlahan ia buktikan kualitasnya dengan membangun generasi baru Argentina yang lebih solid dan bermental juara.
Lionel Scaloni menjadi sosok penting di balik kebangkitan Argentina dalam beberapa tahun terakhir. Lahir di Pujato, Santa Fe, Argentina, pada 16 Mei 1978, Scaloni berhasil membawa Albiceleste kembali ke puncak sepak bola dunia lewat gaya kepemimpinan yang tenang, fleksibel, dan dekat dengan para pemain. Ia sukses mempersembahkan gelar Copa America 2021, Finalissima 2022, Copa America 2024, serta Piala Dunia 2022 di Qatar.
Sebelum sukses sebagai pelatih, Scaloni lebih dulu dikenal sebagai pemain bertahan yang tangguh. Ia memulai karier profesional bersama Newell’s Old Boys sebelum merantau ke Eropa dan bermain untuk sejumlah klub besar seperti Deportivo La Coruña, Lazio, Mallorca, hingga Atalanta. Masa terbaiknya datang saat membela Deportivo, ketika ia ikut memenangkan gelar La Liga musim 1999/2000 serta Copa del Rey 2001/2002.
Pada level internasional, Scaloni memperkuat Tim Tango senior pada periode 2003–2006 dan masuk skuad Piala Dunia 2006 di Jerman. Salah satu fakta menarik adalah Scaloni pernah bermain bersama Lionel Messi saat Messi masih sangat muda. Momen itu terjadi pada debut Messi bersama Timnas Argentina senior melawan Hungaria pada 17 Agustus 2005.
Dalam laga tersebut, Messi yang baru berusia 18 tahun masuk sebagai pemain pengganti sebelum mendapat kartu merah hanya beberapa detik setelah masuk lapangan. Scaloni berada di lapangan dalam pertandingan bersejarah tersebut, sehingga keduanya sempat menjadi rekan setim di skuad Albiceleste.
Setelah pensiun sebagai pemain pada 2015, Scaloni memulai karier kepelatihannya sebagai asisten Jorge Sampaoli di Sevilla dan Timnas Argentina. Pada 2018, ia ditunjuk menjadi pelatih sementara Argentina menggantikan Sampaoli usai kegagalan pada Piala Dunia 2018 di Rusia.
Penunjukan itu awalnya diragukan banyak pihak karena ia minim pengalaman. Namun, Scaloni perlahan membuktikan kualitasnya dengan membangun generasi baru Argentina yang lebih solid, disiplin, dan memiliki mental juara.
Puncak keberhasilannya datang di Piala Dunia 2022. Argentina sempat kalah mengejutkan dari Arab Saudi pada laga pertama, tetapi mampu bangkit hingga akhirnya menjadi juara dunia setelah mengalahkan Prancis di final dramatis. Scaloni kemudian mendapat penghargaan The Best FIFA Men’s Coach berkat pencapaiannya tersebut.
Kini, Scaloni masih dipercaya memimpin Argentina menuju Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ia mulai memadukan pemain senior dengan generasi muda demi menjaga kekuatan Argentina sebagai juara bertahan.
Beberapa nama muda seperti Alejandro Garnacho, Valentín Barco, hingga Claudio Echeverri mulai diberi kesempatan untuk masuk dalam proyek jangka panjang Albiceleste.
Taktik Fleksibel
Lionel Scaloni dikenal sebagai pelatih yang sangat fleksibel secara taktik, tetapi skema yang paling sering ia gunakan bersama Argentina adalah kombinasi 4-3-3 dan 4-4-2. Dalam fase menyerang, tim biasanya membentuk 4-3-3 dengan penguasaan bola cepat, build-up dari belakang, dan transisi vertikal yang agresif.
Saat bertahan, struktur berubah menjadi 4-4-2 yang lebih rapat dengan pressing kolektif. Kunci utama sistem ini adalah keseimbangan antara kontrol permainan dan intensitas tanpa bola.
Lini belakang Scaloni mengandalkan bek yang kuat dalam duel sekaligus nyaman membangun serangan, seperti Cristian Romero, Lisandro Martinez, dan Nicolas Otamendi.
Untuk lini tengah, Rodrigo De Paul menjadi motor energi dan pressing, sementara Enzo Fernandez serta Alexis Mac Allister berperan menjaga ritme serta distribusi bola agar permainan tetap seimbang antara bertahan dan menyerang.
Sedangkan di depan, sistem Scaloni dibangun untuk memaksimalkan kebebasan Lionel Messi sebagai playmaker utama yang bergerak bebas dari sisi kanan ke tengah. Ia didukung oleh penyerang aktif seperti Julian Alvarez dan Lautaro Martinez yang saling melengkapi dalam pressing dan penyelesaian akhir.
Scaloni juga mulai memasukkan pemain muda seperti Alejandro Garnacho untuk menambah variasi serangan dan kecepatan di sisi sayap.
Mempertahankan Gelar Jauh Lebih Sulit
Menjelang Piala Dunia 2026, Scaloni menegaskan bahwa mempertahankan gelar juara dunia akan jauh lebih sulit dibanding merebutnya pertama kali.
“Piala Dunia kali ini sangat sulit. Memenangkannya sekali tidak menjamin apa pun di turnamen berikutnya. Tiap tim nasional berkembang, tiap lawan mempelajari kami secara berbeda, dan kini Argentina memiliki tanggung jawab sebagai juara bertahan," ujarnya dalam wawancara dengan media Argentina, TyC Sports.
"Kami harus mempersiapkan diri dengan kerendahan hati, daya saing, dan semangat yang sama seperti yang kami miliki di Qatar (ketika menjadi juara Piala Dunia 2022),” ia menambahkan.
Komentar tersebut menunjukkan pendekatan realistis Scaloni dalam menghadapi Piala Dunia 2026. Meski Argentina datang sebagai juara bertahan, ia tidak ingin timnya terlena oleh status tersebut.
Biodata
Nama: Lionel Sebastian Scaloni
Kelahiran: Santa Fe, Argentina, 16 Mei 1978 (48 tahun)
Karier Bermain:
- Newell's Old Boys (1995–1996)
- Estudiantes (1996–1997)
- Deportivo La Coruna (1998–2006)
- West Ham United (pinjaman) (2006)
- Racing Santander (2006–2007)
- Lazio (2007–2013)
- Real Mallorca (pinjaman) (2008–2009)
- Atalanta (2013–2015)
Timnas
- Argentina U-20 (1997)
- Argentina (2003–2006)
Karier sebagai Pelatih:
- Argentina U-20 (2018)
- Argentina (2018–sekarang)
Prestasi sebagai Pemain:
Deportivo La Coruna
- La Liga (1999/2000)
- Piala Raja Spanyol (2001/2002)
- Piala Super Spanyol (2000, 2002)
West Ham United
- Runner-up Piala FA (2005/2006)
Argentina U-20
- Piala Dunia U-20 (1997)
Argentina U-21
- Turnamen Toulon (1998)
Prestasi sebagai Pelatih:
Argentina U-20
- Turnamen COTIF (2018)
Argentina
- Piala Dunia (2022)
- Copa America (2021, 2024)
- Finalissima (2022)
Individual
- Pelatih Timnas Putra Terbaik Dunia versi IFFHS (2022, 2023)
- Pelatih Pria Terbaik versi FIFA (2022)
- Pelatih Terbaik Amerika Selatan (2022)
- Panchina d'Oro (2023)
- Globe Soccer Career Coach Award (2023)