Pelatih Timnas Italia, Gennaro Gattuso Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Jakarta
Gennaro Gattuso diyakini mampu membawa Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026.
Gennaro Gattuso menjadi bagian Timnas Italia yang menorehkan hasil buruk di Piala Dunia 2010. Datang sebagai juara bertahan, tim berjuluk Gli Azzurri itu pulang dengan menempati dasar klasemen Grup F usai ditahan imbang Paraguai dan Selandia Baru, lalu dikalahkan Slowakia.
Catatan tersebut menjadi akhir tragis karier Gennaro Gattuso bersama Italia. Empat tahun sebelumnya, ia berdiri tegak dan bangga mengangkat trofi juara Piala Dunia 2006 setelah mengalahkan Prancis. Namun, di edisi berikutnya, ia tertunduk lesu meratapi kegagalan.
Enam belas tahun berselang, kenangan buruk itu coba dihapus. Kini, Gattuso duduk di bangku pelatih Italia dan memimpin anak asuhnya untuk merebut tiket ke Piala Dunia 2026 melalui play-off kualifikasi zona Eropa.
Irlandia Utara, hambatan pertama, berhasil dikalahkan dengan skor 2-0. Berikutnya, Italia akan menghadapi Bosnia dan Herzegovina di Bilino Polje Stadium, Zenica.
Gagal melaju ke babak gugur pada Piala Dunia 2010 dan 2014, lalu absen pada edisi 2018 dan 2022, membuat status tim elite yang disematkan kepada Italia perlahan memudar. Publik hanya bisa mengenang masa lalu, di mana empat kali Gli Azzurri memenangi gelar juara Piala Dunia.
Lantas, apa yang membuat Italia sulit keluar dari keterpurukan dalam beberapa tahun terakhir?
Salah satu jawabannya adalah mentalitas. Kekalahan dari Masedonia Utara pada play-off kualifikasi Piala Dunia 2022 menjadi contoh paling nyata. Italia mendominasi permainan dan unggul secara kualitas, namun gagal keluar dari tekanan dalam laga yang krusial.
Statistik menunjukkan bahwa Italia melakukan penguasaan bola mencapai 65 persen. Mereka melepaskan 30 tembakan ke gawang Masedonia Utara, tetapi cuma lima yang mengarah ke sasaran. Yang paling menyakitkan, gawang yang dikawal Gianluigi Donnarumma dibobol oleh Aleksandar Trajkovski ketika injury time babak kedua memasuki menit ketiga.
Masalah ini bukan sekadar soal teknik atau taktik, melainkan beban dalam memenuhi ekspektasi. Status sebagai tim besar justru kerap berbalik menjadi tekanan ketika menghadapi lawan yang secara kualitas berada di bawah mereka.
Nyaris setiap tahun selalu muncul talenta muda berbakat dari Italia. Mereka mewarnai sengitnya persaingan kompetisi-kompetisi top Eropa. Begitu bersatu di tim nasional, performanya menurun jauh.
Di sinilah kehadiran Gattuso dibutuhkan. Ia bukan sekadar pelatih yang berdiri di pinggir lapangan untuk memberi instruksi taktis atau berteriak memarahi pemain yang melakukan kesalahan. Emosinya yang meledak-ledak lahir dari keinginan untuk selalu memberi hasil terbaik.
Saat masih aktif bermain, Gattuso dikenal sebagai gelandang dengan karakter keras dan semangat pantang menyerah. Karakter itu pula yang kini coba ia tanamkan kembali ke dalam skuad Gli Azzurri saat ini.
Marco Materazzi, rekan setimnya saat menjuarai Piala Dunia 2006, pernah mengatakan bahwa Gattuso adalah sosok yang tepat untuk membangkitkan kembali semangat tim. Energi dan emosinya diyakini mampu menular kepada para pemain.
"Rino akan berjuang keras untuk membawa kita ke Piala Dunia. Ia telah mengambil peran tersulit yang bisa dilakukan. Ia akan coba menyampaikan antusiasmenya kepada tim," kata Marco Materazzi, dikutip dari laman resmi FIGC.
Gattuso mungkin bukan pelatih revolusioner dari sisi taktik. Namun, dalam kondisi Italia saat ini, yang dibutuhkan bukan sekadar skema permainan, melainkan fondasi mental yang kuat.
Jika mampu membangun kembali mentalitas tersebut, Italia bukan hanya berpeluang lolos ke Piala Dunia 2026, tetapi juga membuka jalan menuju kebangkitan yang selama ini dinantikan.