TVRINews – Madrid, Spanyol

Luis de la Fuente lebih senang Spanyol dikenal dengan filosofi permainan kombinasi ketimbang tiki-taka.

Luis de la Fuente telah menjadi salah satu nama terbesar dalam sepak bola dunia. Ia sukses membawa Spanyol menjuarai Euro 2024 dan Piala Dunia 2026 dengan gaya bermain yang dikagumi banyak negara. 

Hanya dalam waktu empat tahun, de la Fuente berubah dari pelatih yang sempat diragukan karena minim pengalaman di level tertinggi menjadi salah satu pelatih paling dihormati.

Sikapnya yang tenang dan mudah bergaul berpadu dengan keyakinan kuat terhadap filosofi sepak bolanya, yakni memilih "pemain hebat sekaligus pribadi yang baik".

Metode itu membuat Spanyol mencatat 38 pertandingan beruntun tanpa kekalahan dan menjalani Piala Dunia dengan penampilan nyaris sempurna. Hanya satu gol yang bersarang ke gawang mereka dari delapan laga yang dijalani.

Beberapa hari setelah membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026, de la Fuente berbicara kepada AS mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan tim berjuluk La Roja.

Empat tahun lalu Anda berkata, "Saya punya pemain terbaik." Apakah Anda membayangkan keyakinan itu akan berujung pada gelar Piala Dunia?

Tentu tidak. Semua proses dijalani selangkah demi selangkah. Tim ini berkembang dengan penuh keyakinan, keteguhan, kekuatan, dan rasa percaya diri. Ketika kami memasuki Piala Dunia, saya yakin kami akan berjuang habis-habisan. Saya selalu mengatakan itu.

Tentu saja, menjadi juara adalah hal yang berbeda. Di final kami benar-benar unggul. Lawan bahkan tidak melepaskan satu tembakan ke gawang. Meski kami merasa cukup tenang, dalam sepak bola ketenangan itu selalu harus disertai kewaspadaan. Anda tetap bisa kalah.

Seandainya sapuan Pau Cubarsi di babak tambahan membentur Unai Simon lalu masuk ke gawang sendiri, kami bisa kalah tanpa lawan melepaskan tembakan tepat sasaran. Untungnya situasi itu bisa kami atasi.

Apa yang Anda rasakan ketika banyak orang menyebut ini sebagai "Piala Dunia Luis de la Fuente"?

Saya merasa malu mendengarnya. Saya lebih suka mengatakan bahwa ini adalah Piala Dunia milik Spanyol.

Bagaimana bisa menjuarai Piala Dunia dengan hanya kebobolan satu gol?

Sepanjang turnamen kami hanya menghadapi sepuluh tembakan. Itu terjadi karena konsep bertahan kami benar-benar matang. Tim bertahan secara kolektif dengan luar biasa. Sebelas pemain ikut bertahan.

Tim ini juga sangat seimbang. Kami sangat produktif mencetak gol, tetapi hanya kebobolan satu kali. Tren itu sudah berlangsung lama. Dalam sekitar 50 pertandingan kami mencetak lebih dari 100 gol dan hanya sedikit kebobolan. Tim ini sangat kompak, rela berkorban, dan memiliki organisasi pertahanan yang sangat baik.

Apakah Anda sempat ragu selama Piala Dunia?

Sama sekali tidak, bahkan setelah pertandingan pertama. Saya tidak terlalu memikirkan apa yang dibicarakan orang di luar. Itu membuat saya lebih tenang.

Sejak awal kami tahu prosesnya memang seperti ini. Ada kalanya Anda kurang tajam dan lawan bermain lebih baik. Namun tim terus berkembang sedikit demi sedikit. Suasana di dalam skuad juga luar biasa. Selama 52 hari kami tidak mengalami satu masalah pun. Itu sangat sulit dicapai.

Pergantian pemain Anda banyak mendapat pujian. Apakah semuanya sudah direncanakan?

Itu lebih banyak berdasarkan perasaan dan pembacaan situasi. Kami memang punya susunan pemain utama, tetapi perkembangan latihan dan kondisi pemain juga selalu dipantau.

Semua sudah dianalisis dengan sangat rinci. Staf pelatih kami luar biasa dan memberi saya informasi yang sangat lengkap. Namun saya juga percaya ada semacam intuisi atau "indra keenam" yang membantu mengambil keputusan pada momen tertentu.

Sepak bola sangat dinamis. Cedera, kartu merah, atau gol bisa mengubah rencana hanya dalam 10 menit pertama. Yang tidak pernah berubah adalah ide bermain kami. Filosofinya tetap sama, hanya penerapannya yang menyesuaikan karakter para pemain.

Apakah Anda gugup memainkan Martin Zubimendi dan Eric Garcia di final meski keduanya belum tampil sebelumnya?

Tidak. Kami tahu mereka berada dalam kondisi sangat baik karena melihat performa mereka di latihan. Mereka sebenarnya siap bermain sejak awal turnamen.

Saya justru sedih kepada pemain yang tidak mendapat kesempatan. Di Euro, hanya Alex Remiro yang tidak bermain sama sekali. Sejujurnya saya ingin semua pemain tampil karena mereka pantas mendapatkannya. Namun yang terpenting tetap kepentingan tim.

Di final Euro, Zubimendi masuk pada babak kedua dan tampil luar biasa. Hal yang sama ia lakukan di final Piala Dunia. Eric Garcia juga merupakan pemain yang fantastis.

Apakah kedekatan Anda dengan para pemain sejak usia muda menjadi keuntungan?

Sangat menentukan. Unai Simon, Mikel Merino, dan Rodri merupakan generasi yang mulai saya latih sejak 2015. Sebelumnya saya juga pernah melatih Marcos Llorente.

Rasanya lingkaran itu kini telah lengkap. Sebelas tahun sebelum final Piala Dunia 2026, kami menjadi juara Euro U-19 di Yunani. Saat itu Mikel Oyarzabal dan Fabian Ruiz bahkan belum bergabung bersama kami.

Siapa pemain yang paling membuat Anda bahagia setelah menjadi juara? Apakah Ferran Torres?

Saya sangat senang Ferran mencetak gol kemenangan di final. Saya selalu berusaha bersikap adil. Ketika melihat seseorang mendapat kritik yang tidak berdasar dan berlebihan, saya berharap hidup memberi kesempatan kepadanya untuk membuktikan diri.

Ferran memiliki statistik luar biasa di tim nasional maupun di klub. Rasio golnya sangat baik. Ia mengingatkan saya pada Alvaro Morata.

Yang membuat saya bahagia adalah melihat orang yang diperlakukan tidak adil akhirnya bisa berkata, "Inilah saya." Ferran pantas mendapatkannya karena ia tidak pernah menyerah.

Bagaimana dengan Unai Simon yang sempat diperdebatkan sebelum turnamen?

Posisi penjaga gawang memang berbeda. Anda tidak bisa terus melakukan rotasi seperti posisi lain. Kiper membutuhkan kepercayaan diri, kontinuitas, dan stabilitas.

Kami memiliki tiga penjaga gawang yang menurut saya termasuk lima terbaik di dunia. Momen ketika mereka saling berpelukan setelah final adalah gambaran yang selalu kami tekankan dalam sesi motivasi.

Pelatih kiper kami, Miguel Angel Espana, sangat menjaga hubungan itu. Pesan dari momen tersebut sangat kuat. Hal yang sama juga terjadi di posisi lain. Alejandro Grimaldo dan Marc Cucurella sangat akrab. Pedro Porro dan Marcos Llorente juga hampir selalu bersama.

Mana yang lebih sulit, menjuarai Euro 2024 atau Piala Dunia 2026?

Keduanya sangat berbeda. Kami sudah sangat memahami karakter sepak bola Eropa. Namun di Piala Dunia kami harus menghadapi gaya bermain Afrika dan Amerika Selatan.

Kami sudah tahu bagaimana Uruguai atau Argentina akan bermain. Sepak bola Amerika Selatan memang seperti itu. Prinsip kami adalah memainkan permainan kami sendiri. Tidak ada pemain yang keluar dari rencana atau terpancing mengikuti gaya lawan.

Kalau kami bermain seperti mereka, mungkin kami akan kalah telak. Tetapi dalam gaya bermain kami sendiri, saya yakin kami adalah yang terbaik.

Tim ini masih sangat muda. Apakah Anda pernah melihat kedewasaan seperti yang dimiliki Lamine Yamal dan Cubarsi?

Pemain yang mampu mencapai level elite pada usia 18 atau 19 tahun memang istimewa. Mereka biasanya lebih dewasa karena sudah memikul tanggung jawab besar ketika teman-temannya masih bersekolah atau baru masuk universitas.

Lamine dan Cubarsi adalah pemain yang sangat spesial. Mereka memiliki kecerdasan dan kedewasaan luar biasa. Bagi saya, mereka adalah para jenius.

Banyak federasi kini menjadikan Spanyol sebagai contoh. Apa pendapat Anda?

Pujian itu memperkuat keyakinan kami. Semua ini bukan hasil kerja semalam. Ini merupakan buah dari model pembinaan yang telah dijalankan bertahun-tahun.

Setiap pelatih memang memberikan sentuhan masing-masing, baik di tim senior maupun kelompok usia. Namun fondasi permainannya tetap sama. Model itu bahkan sudah ada sebelum saya datang. Yang berubah hanyalah penyesuaian terhadap perkembangan sepak bola.

Di Euro kami mulai lebih banyak memanfaatkan pemain sayap. Kini transisi dan kecepatan menjadi faktor penting. Dulu tim dengan penguasaan bola tertinggi hampir selalu menang. Sekarang tidak lagi. Tim yang hanya menguasai bola 30 persen pun bisa menang 3-1.

Apakah banyak negara datang mempelajari model Spanyol?

Sudah sejak lama. Inggris, Prancis, Jerman, hingga Italia pernah datang untuk mempelajarinya. Namun meniru sistem seperti ini tidak mudah.

Butuh waktu bertahun-tahun, didukung klub-klub dengan pelatih berkualitas. Berkat pembinaan sejak usia dini, pemain Spanyol menjadi yang paling baik dalam memahami permainan.

Apa perbedaan tim juara Piala Dunia 2010 dengan tim sekarang?

Sepak bola sudah berubah jauh dalam 16 tahun terakhir. Model kami tetap sama, tetapi terus berkembang.

Saya kurang suka istilah tiki-taka. Saya lebih memilih menyebutnya sepak bola kombinasi. Istilah tiki-taka terkadang terdengar bernada meremehkan. Namun memang filosofi itu sudah melekat dalam sepak bola Spanyol, berawal dari klub-klub lalu diperkuat oleh tim nasional.

Bagaimana Anda melihat masa depan tim nasional?

Para pemain kami sedang berada di level yang sangat tinggi dan mayoritas masih muda. Mereka terus berkembang. Generasi baru yang datang pun juga masih muda.

Belum ada satu pun pemain yang mengatakan akan pensiun dari tim nasional setelah Piala Dunia. Saya justru merasa sebaliknya.

Namun saya selalu mengatakan kepada para pemain bahwa saya tidak memiliki ikatan khusus dengan siapa pun. Kami memang memiliki hubungan yang sangat dekat, bahkan seperti keluarga, tetapi keputusan saya selalu didasarkan pada keadilan dan kejujuran.

Saya pernah memberi kesempatan kepada mereka, tetapi suatu saat saya juga harus memberi kesempatan kepada pemain lain. Alvaro Morata dan Dani Carvajal, misalnya, telah meninggalkan warisan besar. Jika mereka kembali tampil bagus, pintu tim nasional akan selalu terbuka. Kami tidak pernah melihat usia. Jesus Navas bahkan masih bersama kami pada usia 39 tahun.

Anda selalu mengatakan ingin pemain yang hebat sekaligus pribadi yang baik. Kenapa?

Keduanya tidak saling bertentangan. Kami pernah menghabiskan 52 hari bersama di Piala Dunia, 45 hari di Olimpiade, dan 43 hari bersama tim U-21.

Saya heran jika ada orang yang tidak ingin bekerja dengan pribadi yang baik. Perjalanan akan terasa jauh lebih mudah bersama orang-orang seperti itu. Menjadi pribadi yang baik tidak berarti kehilangan kualitas, karakter, atau mentalitas.

Karena sudah lama bekerja di pembinaan usia muda, kami mengenal para pemain dengan sangat baik. Kami tahu siapa yang tidak akan mengecewakan tim, termasuk ketika harus duduk di bangku cadangan selama 52 hari tanpa bermain satu menit pun.

Secara pribadi, apakah Anda sempat menikmati Piala Dunia ini? Sudah mulai memikirkan Piala Dunia 2030?

Saya berharap bisa mengulang pengalaman ini empat tahun lagi karena Piala Dunia kali ini benar-benar luar biasa. Kebahagiaan yang kami rasakan, pengalaman yang kami lalui, dan melihat seluruh negeri ikut merayakan kesuksesan ini adalah sesuatu yang sangat istimewa.

Apakah saya sudah memikirkan Piala Dunia 2030? Tidak. Saya orang yang selalu fokus pada target terdekat. Saat ini yang kami pikirkan hanyalah agenda tim nasional pada September mendatang. Bagi kami, kompetisi berikutnya selalu menjadi yang paling penting.