Pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti diyakini bisa menjawab tantangan di Piala Dunia 2026. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews - Roma, Italia
Carlo Ancelotti mengkritik sepak bola Italia telah kehilangan karakter, melamban, dan kekurangan pemain asing hebat di liga.
Salah satu pelatih terbaik yang dihasilkan Italia, Carlo Ancelotti, melontarkan kritik pedas terhadap sepak bola negerinya. Sepak bola Italia, di matanya, tidak lagi memiliki karakter yang memberikan kesuksesan di masa lalu.
Gli Azzurri Italia gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah diempaskan Bosnia dan Herzegovina di play-off. Kegagalan ini merupakan yang ketiga secara beruntun. Catatan jeblok itu seperti tidak selaras dengan fakta bahwa Italia merupakan juara dunia empat kali.
Si Biru juga hanya dua kali absen di putaran final dalam 20 edisi pertama, yakni saat menolak ikut serta di turnamen perdana dan gagal lolos ke Piala Dunia 1958.
Belakangan muncul wacana kemungkinan Italia tetap bisa tampil di Piala Dunia 2026 pada 11 Juni hingga 19 Juli. FIFA mungkin akan menggelar play-off lagi untuk satu tiket jika Iran batal berpartisipasi karena kekisruhan geopolitik dengan AS dan Israel. Italia didengungkan sebagai salah satu partisipan play-off untuk mengganti Iran tersebut. Akan tetapi, secara objektif dapat dikatakan bahwa Italia tidak berhasil lolos.
Pudarnya Mentalitas Bertahan
Italia masih memiliki sejumlah wakil di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara nanti. Namun, mereka tidak secara langsung membawa nama Italia seiring status mereka sebagai pelatih kontestan Piala Dunia 2026. Salah satunya adalah pelatih kawakan, Carlo Ancelotti, yang kini menukangi Brasil.
Carletto, pernah mereguk kesuksesan kala menangani AC Milan dan kemudian sejumlah klub Eropa, memilah dua aspek yang menurun dalam sepak bola Italia dalam beberapa tahun terakhir.
"Perbedaan fundamentalnya terletak pada laju, kecepatan. Bukan hanya lari fisik, tapi juga laju mental, intensitasnya, yang bukan omong kosong dan tidak bisa diterapkan hanya di fase tertentu dalam laga.
"Sepak bola Italia persis kehilangan hal tersebut. Kemantapannya hilang. Kami sudah kekurangan talenta di segi lain di lapangan, tapi fokus berlebihan pada taktik telah mengikis karakteristik kami yang telah kami bangun dalam sejarah," tutur Carlo Ancelotti dalam wawancara dengan Il Giornale seperti dikutip dari Bein Sports.
Italia identik catenaccio. Hasrat bertahan rapat sambil mengintai kelengahan lawan telah memberikan kesuksesan buat Gli Azzurri dan klub-klub Serie A di turnamen-turnamen mayor. Ancelotti secara khusus menyorot aspek defensif ini.
"Kami perlu kembali menghasilkan bek-bek bagus, atau mentalitas defensif yang telah memberikan kami kesuksesan klub dan tim nasional, atau kami akan terus menderita. Sepak bola bukan hanya mengenai mencetak lebih banyak gol daripada lawan, tapi juga mengenai kebobolan lebih sedikit. Ini bukan pernyataan sepele," lanjut Ancelotti.
Susutnya Bahan Pelajaran dari Legiun Asing
Bak menyimpulkan keanjlokan calcio Negeri Piza, klub-klub Serie A melempem di kompetisi antarklub Eropa musim ini. Tidak ada satu wakil Italia pun di semifinal tiga kompetisi, Liga Champion, Liga Europa, dan Liga Conference.
Kepayahan tersebut akan semakin mengurungkan niat pemain-pemain asing jempolan untuk berkompetisi di Serie A. Menurut Carlo Ancelotti, liga yang pernah menjadi kiblat sepak bola dunia itu kini kalah bersaing dengan liga-liga lain sementara tidak memperbaiki kekurangan mereka.
"Pemain-pemain asing hebat tidak lagi datang ke Italia. Di luar negeri, dengan hak televisi yang substansial dan investor yang kuat, membuat pasarnya lebih atraktif. Maka, di Serie A tidak ada lagi pemain yang luar biasa secara internasional seperti Falcao, [Diego] Maradona, [Michel] Platini, [Ruud] Krol, [Karl-Heinz] Rummenigge, Ronaldo, Ronaldinho, dan lain-lain di berbagai era.
Terkait legiun asing mumpuni tersebut, ini pertanyaan mendasar Ancelotti. "Dari siapa pemain-pemain muda Italia belajar?"