TVRINews - London, Inggris

Pada Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tidak ada lagi jalur undian tiket khusus bagi penyandang disabilitas. Kondisi ini berbeda dengan empat tahun lalu di Qatar.

Ajang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni-19 Juni menuai kritik tajam dari kalangan suporter difabel atau disabilitas. Sejumlah penggemar dan aktivis hak penyandang disabilitas menilai bahwa turnamen kali ini justru “menutup pintu” bagi mereka, berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya yang dinilai lebih inklusif.

Salah satu sorotan utama adalah sistem penjualan tiket yang dikelola oleh FIFA. Pada Piala Dunia 2026, tidak ada jalur undian tiket khusus bagi penyandang disabilitas. 

Selain itu, pendamping yang biasanya mendapatkan akses gratis kini justru dikenakan biaya tambahan. Belum lagi, fasilitas parkir khusus yang sebelumnya gratis atau berbiaya rendah kini tidak lagi tersedia dengan skema yang sama.

Seorang penggemar sepak bola penyandang disabilitas asal Inggris, Jo McNicol, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi ini. Ia sebelumnya berencana menghadiri turnamen tersebut dengan penuh antusias.

“Saya awalnya berpikir Amerika Serikat akan luar biasa, begitu juga Kanada dan Meksiko. Saya sudah sering ke sana. Transportasi, hotel, semuanya aksesibel, jadi tidak ada kekhawatiran soal itu. Tapi sekarang dengan sistem tiket, rasanya mustahil mendapatkan tiket,” ujar McNicol dikutip dari Deustche Welle (DW), Sabtu (18/4/2026).

Ia juga menyoroti masalah distribusi tiket aksesibel yang dinilai tidak tepat sasaran. “Saya pikir mereka sudah membuat harga terlalu mahal. Mereka tidak membatasi pembelian, jadi siapa pun bisa mendapatkan tiket kursi roda atau tiket aksesibel tanpa harus membuktikan kebutuhan. Biasanya, itu harus dibuktikan,” ia menambahkan.

McNicol, yang merupakan penggemar setia sepak bola dan pernah menghadiri Piala Dunia 2022 di Qatar, menyebut pengalaman di Qatar sangat berbeda. Ia menilai aksesibilitas di sana “luar biasa”, di mana penyandang disabilitas mendapatkan alokasi tiket khusus dengan harga terjangkau setelah menunjukkan bukti kebutuhan.

Namun, untuk edisi 2026, meskipun ia sudah memesan tiket pesawat dan menyewa kendaraan untuk perjalanan, McNicol akhirnya kesulitan mendapatkan tiket melalui sistem undian resmi FIFA dan kemungkinan besar tidak akan hadir.

Kritik terhadap FIFA juga mencakup dugaan praktik komersialisasi berlebihan. Beberapa isu yang disorot antara lain harga tiket awal yang tinggi, penambahan kategori tiket baru tanpa pengumuman, perubahan kursi setelah pembelian, serta biaya transportasi dan parkir yang meningkat signifikan. FIFA juga disebut mengambil keuntungan dari potongan 15 persen dalam platform penjualan ulang tiket yang baru diperkenalkan.

Masalah lain yang muncul adalah keterbatasan akses bagi fans penyandang disabilitas ke tiket kategori termurah. Tiket kategori 4 yang biasanya paling murah, diduga tidak tersedia bagi penyandang disabilitas karena lokasinya berada di area stadion yang sulit diakses. 

Akibatnya, mereka hanya bisa membeli tiket kategori 3 ke atas, yang harganya jauh lebih mahal. Sebagai perbandingan, laporan media menyebut tiket kategori 3 untuk laga pembuka Inggris bisa mencapai 898 dolar AS, naik drastis dari harga awal 265 dolar AS.

James Flanagan dari organisasi Football Supporters Europe menilai kebijakan ini sebagai kemunduran besar. Ia mengingatkan bahwa pada Piala Dunia 2022 di Qatar, tiket untuk penyandang disabilitas bisa didapatkan dengan harga sekitar 10 dolar AS.

“Kebijakan FIFA saat ini adalah langkah mundur yang mengecualikan penyandang disabilitas dari turnamen,” ia menegaskan.

Flanagan juga menyoroti kebijakan baru yang mengharuskan pendamping membayar tiket, padahal banyak penyandang disabilitas membutuhkan bantuan saat menonton pertandingan. Hal ini dianggap sebagai beban tambahan yang semakin mempersulit mereka untuk menikmati ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.