Skotlandia, Charlotte sebenarnya tidak sesuai dengan kriteria awal. Foto: TVRI/Grafis/ Mohamad Yusuf
TVRINews - Liverpool, Inggris
Dua tim dengan modal berbeda bersua di Liverpool dalam rangkaian persiapan menuju Piala Dunia 2026.
Bermain di Liverpool melawan tim yang menjadikan kota tersebut sebagai kandang sesaat sebelum putaran final Piala Dunia bukan hal baru untuk Skotlandia. Bagi para pendukung lawas, laga menghadapi Pantai Gading, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB, akan membangkitkan kenangan manis saat Tartan Army menumbangkan Wales di kota yang sama pada 1977 silam.
Namun, muncul pertanyaan mengapa dua kontestan Piala Dunia 2026 ini harus bertanding di tempat netral, jauh dari negara mereka masing-masing. Laga tersebut mencatatkan sejarah sebagai pertandingan internasional pertama yang digelar di Stadion Hill Dickinson, markas baru milik klub Everton.
Pada Januari lalu, Skotlandia sebenarnya telah menjadwalkan dua laga uji coba di Hampden Park melawan Jepang dan Curacao. Pemilihan Curacao dilakukan karena berasal dari konfederasi yang sama dengan Haiti, lawan pembuka Skotlandia di Piala Dunia 2026 pada 14 Juni mendatang.
Ketika tawaran untuk beruji coba melawan Pantai Gading muncul, tim asuhan Steve Clarke langsung melihatnya sebagai potongan terakhir dari teka-teki persiapan. Hal ini dikarenakan Pantai Gading memiliki karakteristik permainan yang mirip dengan Maroko, salah satu rival mereka di Grup C Piala Dunia 2026.
"Kami ingin menghadapi lawan dari Afrika sebelum kami melawan Maroko di musim panas nanti dan saya yakin Pantai Gading akan memberikan kami ujian yang sangat berat," kata Clarke dalam menjelaskan tujuan uji coba dikutip BBC.
Di sisi lain, Pantai Gading memang sudah berada di Inggris untuk melakoni laga melawan Korea Selatan di Stadion MK pada akhir pekan lalu. Kemenangan telak 4-0 dalam laga tersebut menjadi bukti tim asal Afrika ini sedang dalam performa yang sangat impresif.
Memainkan laga berikutnya di stadion baru Everton memberikan keuntungan logistik yang besar. Keputusan ini membuat skuad Pantai Gading maupun Skotlandia hanya perlu menempuh perjalanan darat selama beberapa jam saja.
Bagi Pantai Gading, menghadapi Skotlandia juga merupakan simulasi penting untuk mencicipi gaya permainan tim Eropa. Hal ini sangat krusial mengingat mereka akan berada satu grup dengan raksasa Eropa, Jerman, di putaran final Piala Dunia nanti.
Jika menilik jarak geografisnya, Stadion Hill Dickinson sebenarnya terletak sekitar 11 jam penerbangan atau hampir 5.000 mil dari Stadion Alassane Ouattara di Abidjan. Lokasi tersebut merupakan markas asli tempat Pantai Gading biasanya menjamu lawan-lawan mereka di Afrika.
Bahkan, jika seseorang nekat berjalan kaki tanpa henti, dibutuhkan waktu sekitar 63 hari untuk mencapai Liverpool dari Abidjan. Sebaliknya, stadion baru Everton ini hanya berjarak 217 mil atau sekitar 350 km atau kurang dari empat jam berkendara dari markas Skotlandia, Hampden Park.
Meskipun secara lokasi jauh lebih dekat bagi publik Glasgow, pertandingan ini secara administratif tetap berstatus sebagai laga tandang bagi skuad Skotlandia. Kondisi ini berkaitan dengan kebijakan logistik yang diambil oleh pelatih Pantai Gading, Emerse Fae.
Mengingat hampir seluruh pemain Pantai Gading merumput di Eropa, berkumpul di Inggris menjadi pilihan yang paling efisien. Hanya sang kapten, Franck Kessie, yang berbasis di luar Eropa, tepatnya bersama klub Al-Ahli di Arab Saudi.
Fae menegaskan keputusan mengumpulkan tim di luar Afrika adalah untuk menguji level anak asuhnya melawan pemain-pemain dari klub top dunia. Dengan bermain di Inggris, ia bisa memantau kondisi fisik dan taktik pemainnya dengan lebih maksimal.
Keinginan Everton untuk segera menggelar laga internasional di stadion mereka yang baru dibuka setahun lalu juga menjadi faktor pendukung. Terlebih, tempat ini juga diproyeksikan sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan untuk ajang bergengsi Euro 2028 mendatang.
Secara resmi, laga ini merupakan bagian dari program "Road to 26", sebuah seri eksibisi internasional menuju Piala Dunia 2026. Program ini dikelola oleh konsorsium promotor global seperti Pitch International, Unified Events, Florida Citrus Sports, dan Lions Media.
Tujuan utama dari rangkaian ini adalah membawa tim nasional elite ke berbagai tempat besar di Amerika sepanjang tahun 2026. Inisiatif ini telah dimulai dengan kemenangan Prancis atas Brasil di Foxburgh serta keberhasilan Kroasia menumbangkan Kolombia di Orlando.
Kini, program tersebut merambah ke Inggris dengan mempertemukan dua tim yang memiliki kemiripan posisi di peringkat dunia. Pantai Gading yang berada di peringkat 35 dunia saat ini hanya unggul lima posisi di atas peringkat dunia yang diduduki oleh Skotlandia.
Selain itu, kedua tim juga berbagi semangat yang sama karena baru saja kembali ke panggung Piala Dunia setelah penantian panjang. Kapasitas 52.600 kursi di Stadion Hill Dickinson pun diharapkan mampu menampung antusiasme pendukung dari kedua belah pihak.
Skotlandia sudah terbiasa bermain di tempat netral, seperti saat menghadapi Gibraltar di Portugal atau Ukraina di Polandia. Namun, memori di Liverpool selalu memiliki tempat spesial di hati para penggemar mereka berkat sejarah manis di masa lalu.
Kemenangan atas Wales di Anfield pada 1977 melalui gol Don Masson dan Kenny Dalglish tetap menjadi referensi yang paling emosional. Kini, di kota yang sama, Skotlandia berharap bisa mengulang aura positif tersebut sebagai modal berharga menuju Amerika Utara.