TVRINews - Berlin, Jerman

Nagelsmann memuji daya juang anaka asuhnya yang berhasil menjaga gawang tetap bersih tanpa kebobolan.

Meskipun sukses menang besar dengan skor 4-0 atas Finlandia pada uji coba di MEWA Arena, Mainz, pada Minggu (31/5/2026) malam, permainan tim nasional Jerman ternyata dinilai masih sering kehilangan fokus dalam menerapkan strategi. Untungnya, keputusan pelatih Julian Nagelsmann untuk memercayai para pemain muda terbukti sangat tepat dan berbuah manis di lapangan.

Pertandingan persahabatan terakhir sebelum berangkat ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini setidaknya meninggalkan banyak catatan penting. Rasa puas pun diungkapkan oleh Nagelsmann dan kapten Joshua Kimmich, setelah kemenangan telak di laga pemanasan tersebut.

Kimmich menceritakan proses terjadinya gol-gol tersebut dengan sangat detail dan penuh semangat. Ia menjelaskan timnya sejak awal ingin menekan lawan sesering mungkin, dan hal itu berhasil dilakukan.

"Kami mencetak gol dari beberapa fase permainan yang berbeda," kata Kimmich dikutip dari ZDF.

Nagelsmann pun ikut memuji kerja keras anak asuhnya dan menyampaikan kepuasan yang senada dengan Kimmich. Ia mengatakan bahwa mereka juga mendapat gol dari serangan balik yang menjadi variasi bagus, serta berhasil menunjukkan daya juang yang kuat.

"Hasilnya sangat bagus karena kami tidak kebobolan, dan modal ini bisa menjadi fondasi untuk terus kami kembangkan ke depan," ujar  Nagelsmann.

Namun, di balik semua pujian untuk variasi gol tersebut, Nagelsmann tidak melupakan momen buruk sebelum turun minum. Pada paruh pertama laga itu, para pemain Jerman mendadak tampil tidak sabar dan menyerang terlalu terburu-buru.

Akibatnya, armada Jerman malah kehilangan kendali permainan seperti yang sering terjadi di laga-laga internasional sebelumnya. Nagelsmann sendiri sebenarnya masih mencoba melihat sisi positif dari situasi tersebut.

"Para pemain hanya ingin membuktikan kemampuan mereka. Kami harus lebih memercayai kekuatan kami sendiri," ucapnya.

Saat ini Jerman masih butuh waktu untuk mematangkan kerja sama tim dan pergerakan otomatis antarpemain. Selain itu, mereka juga dituntut menjaga konsistensi kedisiplinan taktis di sepanjang jalannya pertandingan.

Semua masalah ini memang masih bisa diperbaiki selama masa persiapan menjelang Piala Dunia 2026 dimulai. Namun, Nagelsmann harus cepat-cepat menentukan 11 pemain utama pilihannya demi kekuatan tim yang solid.

Tekanan untuk segera mengunci nama-nama pemain inti ini bahkan sudah disuarakan oleh Presiden Kehormatan Bayern Munchen, Uli Hoeness, dalam beberapa minggu terakhir. Saat ini setidaknya masih ada dua atau tiga posisi di dalam tim yang diperebutkan secara sengit.

Posisi bek kiri sedang diperebutkan antara David Raum atau pemain muda Nathaniel Brown. Sementara itu, posisi penyerang sayap kanan juga masih menyisakan persaingan antara Leroy Sane, Lennart Karl, atau Maximilian Beier.

Menariknya, penampilan luar biasa Deniz Undav yang mencetak dua gol dan satu asis bisa saja membuat Nagelsmann mengubah pikirannya lagi. Juru formasi 38 tahun tersebut tampaknya belum menentukan pemain inti di lini depan.

Diskusi panas tentang siapa striker utama yang terbaik antara Kai Havertz atau Undav kini kembali mengemuka. Padahal, sebelum pertandingan melawan Finlandia dimulai, Nagelsmann sempat menganggap masalah tersebut sudah selesai.

Di luar masalah taktik, Nagelsmann mencetak sejarah sendiri dengan menurunkan susunan pemain utama termuda dalam karier kepelatihannya. Rata-rata usia pemain Jerman di lapangan kontra Finlandia menyentuh angka 26,29 tahun.

Angka ini tercatat lebih muda 0,58 tahun dibandingkan dengan tim yang mengalahkan Belanda 1-0 di ajang Nations League pada Oktober 2024 lalu. Keputusan memainkan Lennart Karl pun bukan satu-satunya alasan mengapa skuad Jerman kali ini terasa sangat ramah anak muda.

Pilar muda Bayern Munchen yang bermain tanpa beban tersebut sukses mencetak sejarah besar di usia 18 tahun 98 hari. Catatan ini menjadikannya pemain termuda ketiga yang menjadi starter Jerman setelah nama Youssoufa Moukoko dan Uwe Seeler.

Kehadiran dua pemain berusia 22 tahun yaitu Nathaniel Brown dan Aleksandar Pavlovic juga membuat rata-rata usia tim makin turun. Skuad ini kian terasa segar dengan adanya Jamal Musiala dan Florian Wirtz yang usianya sedikit lebih tua dari mereka.

Hal yang paling penting adalah semua pemain muda ini berhasil bermain impresif di atas lapangan. Karl tampil luar biasa dan penuh percaya diri, meskipun sempat beberapa kali tidak sabar hingga membuat permainan tim agak goyah saat menghadapi Finlandia.

Di sisi lain, Aleksandar Pavlovic yang sekarang sudah jadi pemain inti di tim senior sukses menguasai lini tengah dengan sangat tenang. Sementara itu, Wirtz dan Musiala sama-sama berhasil mencetak gol untuk mengembalikan rasa percaya diri mereka kembali.

Kedua pemain tersebut akhirnya bisa tersenyum setelah melewati musim yang melelahkan di Inggris dan baru sembuh dari cedera panjang. Dari lini belakang, Nathaniel Brown kembali membuktikan lebih pintar mengalirkan umpan daripada David Raum.

Brown juga dinilai memiliki kelebihan karena sering bergerak ke tengah lapangan untuk mengatur permainan seperti gaya Kimmich. Kemampuan bermain di beberapa posisi ini bisa membuat Brown lebih diunggulkan daripada Raum saat pemilihan skuad final Piala Dunia 2026.

Raum selama ini lebih dikenal sebagai pemain yang kuat di posisi bek sayap murni dan ahli dalam situasi bola mati. Jika terus bermain bagus seperti ini, semua talenta muda tersebut dinilai sangat layak mendapatkan tempat utama.

Kabar baiknya, proses peremajaan ini berjalan sangat lancar bagi masa depan sepak bola Jerman. Sehingga, meskipun kiper veteran Manuel Neuer yang berusia 40 tahun kembali bermain, rata-rata usia skuad hampir tidak akan naik.

Kemenangan atas Finlandia juga memperpanjang rekor Jerman yang berhasil menang delapan kali berturut-turut di berbagai ajang. Dalam rentetan hasil positif tersebut, mereka sukses mencetak total 26 gol dan hanya kebobolan enam kali.

Hebatnya, delapan dari gol-gol tersebut lahir dari skema bola mati yang dilatih secara khusus. Bahkan, empat gol di antaranya tercipta dengan sangat apik hanya dalam kurun waktu empat pertandingan terakhir mereka.

Pada Maret lalu, Nagelsmann sengaja mengajak mantan asistennya di Hoffenheim, Alfred Schreuder, untuk bergabung ke tim nasional Jerman. Langkah ini diambil agar pelatih khusus bola mati, Mads Butgereit, bisa memiliki ruang untuk fokus sepenuhnya pada keahliannya.

Hasil dari keputusan taktis itu pun langsung terlihat jelas lewat efektivitas gol yang tercipta di lapangan. Butgereit dan para pemain yang dilatihnya terbukti mampu memberikan hasil nyata yang membuat lini pertahanan lawan kewalahan.

Meskipun proses terjadinya gol pertama ke gawang Finlandia terlihat seperti sebuah keberuntungan, momen cerdik seperti itu tetap membutuhkan kualitas. Gol itu tercipta berkat kecerdikan Lennart Karl yang mengambil sepak pojok cepat ke arah Kimmich.

Kimmich kemudian melepaskan umpan silang melengkung sebelum akhirnya disundul masuk oleh Undav ke gawang Finlandia. Kemampuan memanfaatkan peluang sekecil apa pun di area pertahanan lawan merupakan hasil dari pola latihan khusus dari Butgereit.

Butgereit sebenarnya sudah memimpin latihan bola mati untuk Jerman sejak 2021. Lewat arahannya, skuad Die Mannschaft memang terbukti beberapa kali sukses mencetak gol dari situasi bola mati tersebut.

Namun, rekor kepelatihannya di turnamen besar sebenarnya masih kurang bagus jika melihat data sejarah yang ada. Jerman tercatat gagal mencetak satu gol pun dari bola mati pada dua kompetisi besar terakhir yang mereka ikuti.

Oleh karena itu, peningkatan performa yang ditunjukkan dari skema bola mati belakangan ini menjadi sorotan penting. Catatan impresif tersebut dinilai sebagai sebuah hal yang sudah sangat terlambat untuk dibuktikan skuad Jerman.