TVRINews - Dallas, Amerika Serikat

Deschamps berhasil memulihkan ketertiban di ruang ganti, membangun kembali kepercayaan diri para pemain, dan perlahan mengembalikan Prancis jadi salah satu tim terbaik dunia.

Kekalahan 0-2 dari Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Selasa (14/7/2026) waktu setempat atau Rabu dini hari WIB menjadi penutup yang pahit bagi era Didier Deschamps bersama Timnas Prancis. 

Namun, satu malam yang mengecewakan di Dallas tidak akan menghapus warisan luar biasa yang telah dibangun pelatih berusia 57 tahun itu selama hampir 14 tahun menangani Les Bleus.

Prancis harus mengakui keunggulan Spanyol setelah tampil inferior secara teknis, taktis, maupun fisik. Hasil tersebut sekaligus memperpanjang rentetan kekecewaan Les Bleus di turnamen besar. 

Setelah kalah dari Argentina pada final Piala Dunia 2022, Prancis juga disingkirkan Spanyol dalam tiga semifinal turnamen bergengsi secara beruntun, yakni Euro 2024, UEFA Nations League, dan kini Piala Dunia 2026.

Meski demikian, pencapaian Deschamps tetap menempatkannya sebagai salah satu pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola Prancis. Ia akan selalu dikenang sebagai sosok yang membawa Prancis meraih gelar juara dunia kedua pada Piala Dunia 2018 di Rusia, tepat 20 tahun setelah dirinya mengangkat trofi yang sama sebagai kapten tim di Piala Dunia 1998.

Dengan koleksi 20 kemenangan di Piala Dunia sebagai pelatih, Deschamps sukses membawa Prancis menembus semifinal dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun dan dua kali mencapai partai final. Konsistensi tersebut menjadikan Prancis sebagai salah satu kekuatan paling stabil di sepak bola internasional selama lebih dari satu dekade.

Laga perebutan tempat ketiga akan menjadi pertandingan terakhir Deschamps bersama Timnas Prancis. Ia sebelumnya telah mengumumkan akan mengakhiri masa jabatannya setelah kontraknya berakhir usai Piala Dunia 2026. Sosok yang paling difavoritkan menggantikannya adalah legenda Prancis, Zinedine Zidane.

Prancis Tak Selalu Bermain Atraktif

Selama menangani Les Bleus, Deschamps memang jarang dikenal dengan gaya permainan menyerang yang menghibur. Ia kerap mendapat kritik karena lebih mengutamakan keseimbangan, disiplin, dan efektivitas, meski memiliki deretan pemain bertalenta seperti Kylian Mbappe, Antoine Griezmann hingga Ousmane Dembele. Namun, hasil di lapangan berulang kali membenarkan pendekatannya.

Pada Piala Dunia 2014, Deschamps membawa Prancis mencapai perempat final sebelum disingkirkan Jerman yang kemudian menjadi juara. Dua tahun berselang, ia mengantar Prancis menjadi finalis Euro 2016 meski akhirnya kalah dramatis dari Portugal lewat babak perpanjangan waktu.

Kegagalan tersebut justru menjadi fondasi kesuksesan terbesar mereka di Rusia pada 2018. Prancis menaklukkan Kroasia 4-2 di final dan Deschamps mencatat sejarah sebagai orang ketiga yang mampu menjuarai Piala Dunia sebagai pemain sekaligus pelatih, mengikuti jejak Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer.

Prestasinya bertambah dengan gelar UEFA Nations League 2021. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Prancis nyaris mempertahankan gelar setelah bangkit dari ketertinggalan untuk memaksakan hasil imbang 3-3 melawan Argentina sebelum akhirnya kalah melalui adu penalti dalam salah satu final terbaik sepanjang sejarah turnamen.

Warisan yang Sulit Ditandingi

Segudang prestasi tersebut membuat posisi Deschamps hampir tak tergoyahkan, bahkan ketika Prancis mengalami hasil mengecewakan di Piala Eropa 2020 atau saat mendapat kritik karena gaya bermain yang dianggap terlalu pragmatis. Polemik panjang mengenai absennya Karim Benzema dari tim nasional pun tidak mampu menggoyahkan wibawanya.

Alasan utamanya sederhana: Deschamps selalu mampu membangun tim yang kompetitif dan rutin melaju jauh di setiap turnamen besar.

Karier gemilangnya memang sudah dimulai jauh sebelum menjadi pelatih tim nasional. Lahir di Bayonne pada 1968, Deschamps memulai karier profesional bersama Nantes sebelum bersinar di Olympique Marseille. Bersama klub tersebut ia meraih dua gelar liga dan menjadi kapten saat Marseille menjadi klub Prancis pertama yang menjuarai Liga Champions pada 1993.

Ia kemudian pindah ke Juventus dan memenangkan tiga gelar Serie A serta satu trofi Liga Champions. Mantan bintang Prancis Eric Cantona pernah menyebutnya sebagai "gelandang pengangkut air", julukan yang awalnya bernada meremehkan. 

Namun, seiring waktu, sebutan itu justru menggambarkan kualitas Deschamps sebagai pemain yang disiplin, cerdas, rela berkorban, dan memahami cara membangun tim pemenang.

Sebagai pemain, ia mencatatkan 103 penampilan bersama Timnas Prancis, menjadi kapten saat menjuarai Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Karier kepelatihannya juga penuh prestasi. Ia membawa AS Monaco ke final Liga Champions 2004, mengembalikan Juventus ke Serie A setelah skandal Calciopoli, serta mengakhiri penantian 18 tahun Marseille untuk kembali menjuarai Liga Prancis pada 2010.

Mengembalikan Martabat Prancis

Saat mengambil alih Timnas Prancis pada Juli 2012 menggantikan Laurent Blanc, kondisi Les Bleus masih belum pulih dari krisis akibat aksi mogok pemain di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Deschamps berhasil memulihkan ketertiban di ruang ganti, membangun kembali kepercayaan diri para pemain, dan perlahan mengembalikan Prancis menjadi salah satu tim terbaik dunia.

Filosofinya sederhana. Menurutnya, turnamen besar dimenangkan melalui kemampuan beradaptasi, organisasi pertahanan yang solid, serta efektivitas, bukan semata permainan indah. Selama lebih dari satu dekade, pendekatan itu terbukti berhasil.

Meski begitu, kekalahan dari Spanyol tetap menjadi penutup yang menyakitkan. Prancis datang sebagai favorit berkat lini serang yang tajam sepanjang turnamen, tetapi gagal mengembangkan permainan. 

Serangan mereka berhasil diredam, lini tengah kalah bersaing, dan Spanyol tampil lebih dominan di hampir semua aspek permainan.

Usai pertandingan, Deschamps tetap memberikan penilaian yang tenang. "Saya tidak ingin melupakan semua yang telah kami capai. Namun, dalam pertandingan ini Spanyol memang menunjukkan bahwa mereka memiliki sesuatu yang lebih baik daripada kami," katanya, dikutip dari Reuters.

Ucapan itu mencerminkan karakter Deschamps yang selama ini dikenal tidak pernah larut dalam euforia saat menang maupun tenggelam dalam kekecewaan saat kalah.

Ia memang tidak mendapatkan perpisahan manis yang diimpikannya. Namun, warisan yang ditinggalkan Deschamps tetap utuh. Sebagai kapten, ia mengangkat trofi Piala Dunia. 

Sebagai pelatih, ia kembali membawa Prancis menjadi juara dunia dan selama 14 tahun memastikan Les Bleus selalu menjadi kandidat kuat dalam perebutan gelar-gelar terbesar sepak bola dunia. Satu malam yang pahit di Dallas tidak akan mengubah fakta tersebut.

Pencapaian Didier Deschamps bersama Timnas Prancis di 3 Ajang Besar

Piala Dunia

  • 2014 (Brasil) – Perempat final (kalah 0-1 dari Jerman)
  • 2018 (Rusia) – Juara (mengalahkan Kroasia 4-2 di final)
  • 2022 (Qatar) – Runner-up (kalah adu penalti dari Argentina setelah bermain imbang 3-3)
  • 2026 (Amerika Serikat, Kanada, Meksiko) – Semifinal (kalah 0-2 dari Spanyol, masih menjalani perebutan tempat ketiga)

Piala Eropa (UEFA Euro)

  • Euro 2016 (Prancis) – Runner-up (kalah 0-1 dari Portugal setelah perpanjangan waktu)
  • Euro 2020 (digelar pada 2021) – Babak 16 besar (kalah adu penalti dari Swiss setelah bermain imbang 3-3)
  • Euro 2024 (Jerman) – Semifinal (kalah 1-2 dari Spanyol)

UEFA Nations League

  • 2018-2019 – Fase grup (gagal lolos ke putaran final)
  • 2020-2021 – Juara (mengalahkan Spanyol 2-1 di final)
  • 2022-2023 – Fase grup (gagal lolos ke putaran final)
  • 2024-2025 – Peringkat keempat (kalah dari Spanyol di semifinal dan kalah dari Jerman pada perebutan tempat ketiga)

Rekap Prestasi Didier Deschamps

  • Juara Piala Dunia: 1 kali (2018)
  • Juara UEFA Nations League: 1 kali (2020-2021)
  • Runner-up Piala Dunia: 1 kali (2022)
  • Runner-up Euro: 1 kali (2016)
  • Semifinal Piala Dunia: 1 kali (2026)
  • Semifinal Euro: 1 kali (2024)

Total turnamen besar yang diikuti sebagai pelatih Timnas Prancis

  • Piala Dunia: 4 edisi
  • Piala Eropa: 3 edisi
  • UEFA Nations League: 4 edisi

Total gelar: 2 trofi (Piala Dunia 2018 dan UEFA Nations League 2020-2021)