Trofi Finalissima, ajang yang mempertemukan juara Eropa kontra juara Amerika Latin. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - New York, Amerika Serikat
Penggemar sepak bola sejatinya sudah dijadwalkan menyaksikan duel Lionel Messi melawan Lamine Yamal 27 Maret 2026 di Stadion Lusail, Qatar, dalam ajang Finalissima.
Duel Argentina melawan Spanyol pada final Piala Dunia 2026 bukan sekadar perebutan trofi paling bergengsi di sepak bola.
Pertandingan di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7/2026) waktu setempat itu, juga menghadirkan cerita yang sempat gagal diwujudkan beberapa bulan sebelumnya: Finalissima antara juara Copa America 2024 dan juara Euro (Piala Eropa) 2024.
Dikutip dari Reuters, seharusnya, Lionel Messi dan rekan-rekannya sudah lebih dulu berhadapan dengan Lamine Yamal dan kolega pada 27 Maret 2026 di Stadion Lusail, Qatar.
Namun, pertandingan yang mempertemukan kampiun Amerika Selatan dan Eropa itu dibatalkan akibat memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah menyusul konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
UEFA dan CONMEBOL sempat berupaya mencari solusi, termasuk memindahkan laga ke Madrid, Italia, hingga menggelar format kandang-tandang.
Akan tetapi, perbedaan pandangan mengenai lokasi netral dan kalender internasional membuat kesepakatan tak pernah tercapai.
Akibatnya, trofi Finalissima 2026 tak pernah diperebutkan. Namun, takdir justru mempertemukan kedua tim di panggung yang jauh lebih besar: final Piala Dunia 2026.
Pertemuan ini menjadi semacam "Finalissima yang tertunda", hanya saja dengan hadiah yang jauh lebih prestisius daripada sekadar gelar antarbenua.
Sejarah Finalissima
Finalissima sendiri bukan turnamen baru. Kompetisi ini pertama kali digelar pada 1985 dengan nama Artemio Franchi Cup atau European/South American Nations Cup.
Turnamen tersebut diciptakan sebagai ajang adu kekuatan antara juara Piala Eropa dan juara Copa America, layaknya versi tim nasional dari Piala Interkontinental yang mempertemukan juara Eropa dan Amerika Selatan di level klub.
Edisi perdana berlangsung di Paris pada 1985. Prancis, yang saat itu diperkuat Michel Platini, mengalahkan Uruguai 2-0 untuk menjadi juara.
Delapan tahun kemudian, Argentina menjuarai edisi kedua setelah mengalahkan Denmark melalui adu penalti di Mar del Plata seusai bermain imbang 1-1.
Setelah itu, kompetisi menghilang selama hampir tiga dekade karena hadirnya Piala Konfederasi FIFA dan padatnya kalender internasional.
Baru pada 2022 UEFA dan CONMEBOL menghidupkan kembali turnamen tersebut dengan nama Finalissima. Stadion Wembley menjadi saksi dominasi Argentina yang menghancurkan Italia 3-0.
Lionel Messi tampil luar biasa dan dinobatkan sebagai pemain terbaik, sementara Lautaro Martinez, Angel Di Maria, dan Paulo Dybala mencetak gol kemenangan Albiceleste.
Gelar itu menjadi trofi kedua Argentina dalam sejarah ajang tersebut setelah sukses pada 1993, sekaligus menjadikan mereka negara tersukses di kompetisi ini.
Daftar juara sepanjang sejarah pun masih sangat singkat. Prancis menjadi kampiun pada 1985, Argentina pada 1993, dan Argentina kembali berjaya pada 2022.
Sementara edisi 2026 resmi dibatalkan tanpa juara karena faktor keamanan dan kegagalan mencapai kesepakatan mengenai lokasi pertandingan.