Tim nasional sepak bola Spanyol. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi) Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews – Jakarta, Indonesia
Filanesia dinilai sudah memenuhi apa saja yang diperlukan otoritas sepak bola Indonesia dalam mengembangkan tim nasional.
Piala Dunia 2026 yang sudah memasuki fase akhir, dengan final pada Minggu (19/7/2026) sore waktu New Jersey, Amerika Serikat (AS), yang akan mempertemukan juara bertahan Argentina melawan Spanyol, kampiun 2010.
Dari 102 pertandingan yang sudah dilangsungkan, tinggal menyisakan perebutan tempat ketiga dan final. Sehari sebelum laga final digelar, perebutan peringkat ketiga akan mempertemukan Prancis melawan Inggris di Miami Stadium, AS.
Semua yang terjadi di Piala Dunia edisi ke-23 yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko, yang dimulai sejak 11 Juni lalu, memang menarik perhatian dari berbagai pihak maupun kalangan. Salah satunya pelatih sepak bola ternama Indonesia, Rahmad Darmawan. Pria yang akrab disapa RD ini memang dipercaya oleh TVRI—selaku pemegang hak penyiaran Piala Dunia 2026 di Indonesia—menjadi komentator sejumlah pertandingan.
Ditemui di studio TVRI di Kantor Pusat Senayan, Jakarta, saat akan menjadi komentator laga semifinal antara Inggris melawan Argentina, Kamis (16/7/2026) dini hari, RD pun mengungkapkan beberapa hal.
“Dari awal saya ada tiga jagoan tadinya. Wakil dari Eropa saya pilih Spanyol, wakil dari Latin (Amerika Selatan) saya Brasil, dan wakil Asia Jepang. Tetapi, kini tinggal Spanyol yang bertahan,” ujar RD saat ditanya siapa tim yang ia jagokan di Piala Dunia kali ini.
“Kalau melihat dari siklusnya, Spanyol kan juara Eropa tahun 2008 lantas juara dunia tahun 2010, dua tahun kemudian. Sekarang, mereka pada 2024 kemarin juara Eropa dan mungkin 2026 ini Spanyol juga bisa menjadi juara dunia.”
RD mengaku, sampai laga semifinal saat Spanyol mengalahkan Prancis, 2-0, pada Rabu (15/7/2026) dini hari WIB, tim dengan permainan paling menarik menurutnya adalah La Roja.
“Mereka banyak melakukan passing game dan position play, ciri khas dan karakteristik tiki taka sangat terlihat di Timnas Spanyol saat ini,” tuturnya.
Dari sekian banyak tim yang turun di Piala Dunia 2026 (total 48 tim nasional yang mewakili negara), sebagai pelatih top, Rahmad Darmawan pasti sudah bisa menilai timnas negara mana yang paling realistis untuk dicontoh oleh para pemain sepak bola Indonesia, khususnya skuad Garuda alias Timnas Indonesia.
“Indonesia itu sudah memiliki apa yang disebut Filanesia (Filosofi Sepak Bola Indonesia). Filanesia itu jadi filosofi sepak bola nasional, yang sebetulnya berakar dari permainan tiki taka Spanyol,” tutur pria yang terakhir melatih Persipura Jayapura di Liga 2 tersebut.
“Karena postur pemain Indonesia enggak terlalu tinggi-tinggi sehingga sebagai gantinya harus mengandalkan permainan bola-bola di bawah yang s bisa dimainkan dengan kecepatan jarak oleh para pemain. Jadi, memang, kami dan semua pemain, pelaku sepak bola, ingin permainan Indonesia itu lebih mengarahnya ke sana (Spanyol).”
Filanesia adalah kurikulum dan pedoman resmi PSSI yang diluncurkan pada 2017. Panduan ini dirancang untuk membentuk karakter dan gaya bermain sepak bola nasional, dengan mengandalkan kecepatan, kelincahan, serta permainan proaktif yang berpusat pada formasi 1-4-3-3 (kiper-bek-gelandang-penyerang).
Kurikulum yang dicetuskan oleh Danurwindo ini menyesuaikan dengan kultur dan postur tubuh pemain Indonesia, dengan sejumlah pilar penting dalam Filanesia yang meliputi sejumlah faktor.
Gaya bermain proaktif (menguasai permainan), konstruktif (membangun serangan dari bawah), dan progresif.
Untuk pertahanan, tim menggunakan pressing situasional (menekan saat kehilangan bola) dan pertahanan zona (menjaga area).
Terakhir adalah kecerdasan taktis. Pemain didorong untuk cepat berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengeksekusi di lapangan.