Penyerang Timnas Irak, Aymen Hussein. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Bagdad, Irak
Aymen Hussein dengan ketajamannya dan posturnya yang tinggi kuat menjadi ancaman lawan-lawan Irak di Piala Dunia 2026.
Aymen Hussein selalu energik, gembira, dan ceria. Apalagi jika dia berhasil mencetak gol dan membawa timnya meraih kemenangan. Gaya selebrasi gol penyerang berusia 30 tahun ini pun sudah dikenal oleh publik sepak bola Irak, dua telapak tangannya membentuk cakar singa.
Seringkali, fans dan rekan setimnya yang junior meminta foto bersamanya dan mereka memperlihatkan gaya selebrasi tersebut. Dengan kumis, plus nomor 18 di punggungnya, mudah mengentarai sosok pemain senior yang telah berusia 30 tahun ini.
Tidak ada makna khusus dari nomor 18 yang kerap dikenakannya di Timnas Irak. Faktanya, dia bermain dengan nomor 9 di klubnya saat ini, Al Karma. Julukannya cukup menyeramkan: The Hatchet Man atau "si Tukang Kapak" atau "Abu Tubar".
Nama tersebut, konon hanya karena sosoknya yang kuat, gaya bermainnya yang agresif, penuh perlawanan, ditambah dengan kemampuannya yang mematikan memanfaatkan kelengahan pertahanan lawan dan mencetak gol-gol penting. Timnas Bolivia, menjadi korban dari ketajaman Aymen Hussein dalam laga final play-off Interkontinental kualifikasi Piala Dunia 2026 pada 31 Maret 2026 lalu.
Dalam laga yang digelar di Meksiko, tepatnya di Stadion BBVA, Guadalupe, Aymen Hussein mencetak gol di menit ke-53. Gol tersebut mengubah skor dari 1-1 menjadi 2-1 untuk kemenangan Irak. Dan, gol itu pula yang memastikan dan mengunci langkah Irak lolos ke Piala Dunia 2026.
Itu gol dalam kemenangan bersejarah karena Irak akhirnya kembali tampil di Piala Dunia setelah absen selama 40 tahun dari turnamen ini sejak Piala Dunia 1986 silam yang digelar di Meksiko.
Aymen Hussein pun tentu saja mendapat begitu banyak pujian ketika bersama rekan setimnya kembali ke Bagdad, Irak. Mereka merayakan keberhasilan bersejarah ini di jalan-jalan Kota Bagdad dan di seluruh Irak.
Namun, di balik kegembiraannya, di balik keramahannya, ada luka yang begitu besar yang disimpan pemain berpostur 1,89 meter ini. Ada kesedihan yang boleh jadi membuat fansnya bertanya, mengapa dirinya bisa setegar ini setelah mengalami tragedi kelam.
Pada tahun 2008, ayahnya ditempatkan di Baghdad dan meninggal dalam serangan kelompok Al-Qaeda. "Kakak laki-laki saya mengambil tanggung jawab keluarga setelah ayah saya gugur sebagai martir, dan dia juga bekerja di tentara Irak. Suatu hari, ISIS masuk dan menculiknya beserta mobilnya, dan sejak itu kami tidak tahu apa pun tentangnya," kata Aymen Hussein.
"Tidak ada yang tahu detailnya, apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan cerita pertama dalam keluarga saya dan, mungkin, ini bukan yang terakhir," dia menambahkan. Namun, meski memiliki luka dan trauma, Aymen Hussein tetap berusaha tegar. Terlepas dari kekerasan dan kehilangan rumah yang dialami keluarganya, Aymen Hussein menemukan tempat berlindung yang aman dalam kehidupannya dengan tetap fokus pada kariernya di sepak bola.
Dia menyatakan masih berharap bertemu kembali dengan kakak laki-lakinya yang hilang. Pada akhirnya dalam kehidupan sehari-hari dia sangat bersyukur atas apa yang telah dia pertahankan. "Saya bersyukur kepada Allah atas keadaan saya. Di rumah saya ada dinding. Banyak pengungsi Irak tinggal di tenda saat itu," kata Aymen Hussein dengan nada sedih dan khawatir.
Pemain yang menyembunyikan kisah tragis ini justru yang membuat ribuan rakyat Irak turun ke jalan dengan euforia lolos ke Piala Dunia 2026 ini. Tapi, dia menyatakan bahwa kisah itu bukan hanya tentang dirinya melainkan sebagian besar dirasakan oleh saudara-saudaranya, yaitu rakyat Irak.
Aymen Hussein lahir pada tahun 1996 di sebuah desa kecil dekat Hawija. Dia adalah putra seorang tentara. Seperti yang sering terjadi di banyak daerah kekurangan dan konflik perang, menjadi tentara atau polisi biasanya merupakan cara untuk bertahan hidup.
Saat itu Aymen Hussein sudah menjadi pemain sepak bola dan bermain di kategori junior. Rasa sakit kehilangan ayahnya membuatnya bekerja lebih keras, dan pada tahun 2015 ia mencetak gol yang membawa Irak ke Olimpiade Rio de Janeiro. Dengan kemampuannya sebagai penyerang, dia pun bermain di luar negeri seperti di Tunisia, Qatar, atau Uni Emirates Arab, hingga Maroko.
Ketika berada di Teluk Persia, Aymen Hussein mendapatkan kabar yang membuatnya cemas, yang menjelaskan bahwa ISIS semakin kuat di Suriah utara dan Irak dan selangkah lagi akan menaklukkan Hawija, tempat keluarganya tinggal.
Demikianlah yang terjadi. Kota itu jatuh, dan kerabatnya lebih dari 18 ribu orang pergi meninggalkan kota tersebut. Selama beberapa hari, Aymen Hussein tidak mengetahui apa pun tentang mereka, sampai ibunya berkomunikasi dari kamp pengungsi di sebuah daerah bangsa Kurdi, suku bangsa asli di kawasan Timur Tengah yang mendiami wilayah pegunungan antara Turki, Iran, Irak, dan Suriah.
Aymen Hussein kemudian memutuskan untuk kembali ke liga lokal, kini bermai di Al Karma, sebuah tim yang berasal dari salah satu kota yang paling terdampak kekerasan dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun ia mendapat tawaran untuk bermain di Qatar, ia lebih memilih untuk kembali ke negerinya.
Sebagai pemain sepak bola, dia memahami apa yang terjadi di balik semua peristiwa ini. Kini, dia bertekad akan membuat dunia mengingat Irak dari sepak bola lewat gol-gol yang akan diciptakannya. Sebuah pers independent menyebut gol Aymen Hussein ke gawang Bolivia dan perayaan Irak dengan kalimat yang cukup satir: "A symbolic goal. The triumph of life over death" atau "Sebuah gol simbolis. Kemenangan kehidupan atas kematian."
Salah Satu Pencetak Gol Terbanyak Irak
Kini, pertahanan Norwegia, Prancis, dan Senegal, akan mewaspadai Aymen Hussein di Piala Dunia 2026 nanti. Gol-gol Aymen Hussein untuk Irak sudah mencapai 33 gol dari total 93 pertandingan sejak bermain untuk negerinya ini pada 2015 silam.
Dengan jumlah itu pula, dia ada di posisi kelima dalam daftar pencetak gol terbanyak Timnas Irak sepanjang masa di bawah Hussein Saeed (78 gol), Ahmed Radhi (62), Younis Mahmoud (57), dan Ali Kadhim (36).
Aymen Hussein juga akan diwaspadai karena dia salah satu pencetak gol terbanyak dalam kualifikasi Piala Dunia zona Asia 2026. Total, Aymen Hussein mengoleksi 8 gol. Dan, tentu saja dia harus diwaspadai karena pengalamannya bersama Timnas Irak dengan total 93 laga yang telah dimainkannya bersama Lions of Mesopotamia.
Kemungkinan besar, dia akan berduet dengan Ali Al Hamnidi di lini depan Irak. Menghadapi Bolivia, pelatih Graham Arnold menurunkan keduanya dalam laga krusial tersebut dan keputusannya ini efektif di mana keduanya mencetak gol untuk kemenangan ikonik Irak saat itu.
Duet Ali Al-Hamadi dan Aymen Hussein sudah bermain bersama bahkan sejak 2020 silam. Keputusan Graham Arnold menduetkan kembali penyerang ini tidaklah mengejutkan karena keduanya sudah menebarkan ancaman dari fisik mereka yang tinggi dan kuat. Dalam waktu dekat, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan kedatangan Singa Mesopotamia yang bernama Aymen Hussein.
Biodata Aymen Hussein
Nama lengkap: Ayman Hussein Ghadhban Al Mafraje
Kelahiran: Hawija, 22 Maret 1996, Irak
Posisi: Penyerang
Karier Klub
Duhok (2013-2014)
Al Naft (2014-2017)
Al Shorta (2017-2018)
Al Naft (2018)
CS Sfaxien (2018-2019)
Al Quwa Al Jawiya (2019-2021)
Umm Salal (2021-2022)
Al Markhiya (2022-2023)
Al Jazira (2023)
Raja CA (2023)
Al Quwa Al Jawiya (2023-2024)
Al Khor (2024-2025)
Al Wakrah (2025)
Al Karma (2025-kini)
Karier Timnas
Irak U-20 (2014-2015)
Irak U-23 (2015-2018)
Irak Olimpiade (2024)
Irak (2015-kini)
Prestasi sebagai Pemain
Piala Tunisia 2018-2019
Liga Primer Irak 2020-2021
Piala FA Irak 2020-2021
Piala Arab Gulf 2023