TVRINews - Riyadh, Arab Saudi

Donis bersama jajaran staf kepelatihannya dituntut segera menemukan formula keseimbangan taktik yang tepat antara agresivitas menyerang dan kedisiplinan bertahan.

Mantan gelandang legendaris Yunani, Georgios Donis, tercatat tidak pernah memiliki kesempatan untuk tampil di Piala Dunia sepanjang kariernya sebagai pemain profesional. Catatan minor tersebut sejatinya tidak mengherankan mengingat Tim Nasional Yunani hanya mampu lolos satu kali ke putaran final dalam kurun waktu antara 1954 hingga 2006 silam.

Donis sebenarnya hampir saja merasakan atmosfer kompetisi akbar tersebut pada edisi 1994, yang secara kebetulan berlangsung di Amerika Serikat selaku tuan rumah penyelenggara. Momentum emas kala itu menjadi satu-satunya keberhasilan skuad Yunani menembus putaran final global dalam periode panjang selama 52 tahun sejarah sepak bola mereka.

Saat masih aktif berkarier dan membela klub raksasa Yunani, Panathinaikos, Donis secara mengejutkan dicoret dari daftar skuad utama oleh pelatih Alketas Panagoulias. Sang juru taktik tersebut secara kontroversial memutuskan untuk tidak memasukkan namanya ke dalam komposisi  final yang berisikan 22 pemain untuk dibawa ke Amerika Serikat.

Namun kini, kurang dari dua bulan sebelum sepak mula Piala Dunia 2026 bergulir, pria berusia 56 tahun itu akhirnya mendapatkan kesempatan emas yang dinantikannya. Donis resmi diumumkan beberapa pekan lalu sebagai pelatih baru Tim Nasional Arab Saudi menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Herve Renard.

Sepanjang karier lapangan hijaunya, Donis selalu dikenal sebagai sosok pelopor yang berani mendobrak tradisi sepak bola di negaranya sendiri. Ia mengukir sejarah sebagai pesepak bola asal Yunani pertama yang mencicipi atmosfer kompetisi Liga Primer Inggris setelah dipinang oleh Blackburn Rovers pada 1996.

Jiwa kepeloporan tersebut kembali Donis buktikan saat memutuskan untuk berkarier di kawasan Timur Tengah pada 2014. Ia menjadi pelatih pertama dari tanah kelahirannya yang dipercaya untuk menakhodai klub di kasta tertinggi kompetisi sepak bola profesional Arab Saudi.

Memulai debut kepelatihannya bersama Al Hilal, Donis langsung sukses mempersembahkan gelar juara King’s Cup, Crown Prince Cup, dan Saudi Super Cup. Rekam jejak serta reputasi kepemimpinannya yang inovatif diprediksi menjadi modal yang sangat berharga dalam mengemban tugas berat terbarunya kali ini.

Donis sudah resmi menakhodai skuad Elang Hijau dengan menyisakan waktu yang tidak banyak menjelang laga pembuka. Berdasarkan jadwal yang dirilis, Arab Saudi akan langsung berhadapan dengan raksasa Amerika Selatan, Uruguai, dalam laga perdana yang digelar di Miami pada 15 Juni mendatang.

Mayoritas pelatih top dunia umumnya membutuhkan waktu persiapan hingga bertahun-tahun demi mematangkan strategi tim menjelang turnamen terbesar di jagat raya ini. Sebaliknya, Donis hanya memiliki waktu kurang dari dua bulan tanpa adanya agenda pemusatan latihan resmi ataupun pertandingan uji coba internasional yang bisa dimanfaatkan.

Situasi darurat ini kian menantang lantaran dirinya sudah harus menyetorkan daftar komposisi skuad sementara kepada FIFA. Agenda krusial pertama dalam kalender kepelatihannya bersama Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) tersebut akan jatuh dalam waktu yang singkat.

Kendati demikian, keputusan SAFF memilih Donis sebagai suksesor dinilai sebagai langkah strategis yang sangat rasional. Berbekal pengalaman panjang serta jam terbang tinggi di kompetisi Arab Saudi, ia dipandang sebagai sosok veteran yang paling memahami kultur sepak bola lokal.

Faktor utama yang membuatnya menjadi pilihan paling natural untuk menggantikan peran Renard adalah kedekatan emosionalnya dengan para pemain di liga domestik. Donis tercatat telah aktif melatih di kompetisi papan atas Arab Saudi selama hampir 11 tahun terakhir.

Sepanjang periode tersebut, Donis tercatat pernah menakhodai klub-klub elite seperti Al-Hilal, Al-Wehda sebanyak dua kali, Al-Fateh, dan terakhir Al-Khaleej. Rekam jejak tersebut membuatnya tercatat pernah memoles sedikitnya 10 nama pemain yang kini menghuni skuad utama Tim Nasional Arab Saudi saat ini.

Saat menukangi Al-Hilal, Donis merupakan sosok penting di balik matangnya permainan pilar veteran sekelas Salem Al-Dawsari dan juga Salman Al-Faraj. Sementara ketika berada di Al-Fateh, ia sukses mengorbitkan Feras Al-Buraikan hingga menjelma sebagai salah satu penyerang lokal paling mematikan pada musim 2022/23.

Di bawah asuhannya, Al-Buraikan sukses mengemas 17 gol dalam semusim sebelum akhirnya resmi dipinang oleh klub raksasa Asia lainnya, Al-Ahli. Penyerang berusia 25 tahun itu kini bahkan berpeluang besar untuk mempertahankan gelar juara berturut-turut dalam ajang bergengsi AFC Champions League Elite.

Rapor impresif juga berhasil ditunjukkan Donis saat menukangi Al-Khaleej dengan sukses menemukan bakat terpendam dari seorang gelandang muda, Murad Hawsawi. Performa gemilang yang ditunjukkan Hawsawi di bawah arahan Donis langsung memikat hati tim pemandu bakat nasional hingga sang pemain mendapatkan panggilan debut timnas.

Penampilan konsisten tersebut pula yang akhirnya membuat Al Hilal bergerak cepat untuk mengamankan tanda tangan Hawsawi dengan durasi kontrak jangka panjang selama lima tahun. Kedekatan taktis ini diprediksi membuka ruang bagi sang gelandang muda untuk memegang peran sentral dalam skema permainan Donis di Amerika Utara.

Beralih ke gaya permainan, Donis yang semasa bermain dijuluki "The Train" karena kecepatannya, dikenal sangat menyukai filosofi sepak bola ofensif. Meski dikenal fleksibel dalam menerapkan strategi, ia cenderung memprioritaskan pakem formasi 4-2-3-1, walaupun sesekali kerap mengeksplorasi skema alternatif seperti 4-4-2 dan 5-3-2.

Pendekatan menyerang ini diharapkan mampu menjadi solusi instan bagi lini depan Arab Saudi yang belakangan dinilai sangat seret dalam mencetak gol. Skuad Elang Hijau tercatat hanya mampu mengemas total tujuh gol dari 10 laga yang dilakoni sepanjang putaran ketiga kualifikasi.

Statistik mencatat tim-tim yang pernah diasuh oleh Donis selalu berhasil tampil produktif di papan skor terlepas dari posisi klasemen akhir. Sebagai contoh, Al-Khaleej sukses menggelontorkan 46 gol musim ini, menjadikannya sebagai tim paling subur di luar posisi lima besar klasemen kompetisi Arab Saudi.

Rapor serupa juga pernah diukir Donis saat mengantarkan Al-Fateh menyudahi kompetisi di peringkat keenam klasemen akhir pada musim 2022/23. Koleksi 48 gol yang dilesakkan armada Al-Fateh kala itu hanya kalah produktif dari tim-tim penghuni posisi empat besar di klasemen akhir.

Namun di sisi lain, tingginya produktivitas lini serang Donis kerap kali harus dibayar mahal dengan rapuhnya organisasi di sektor lini pertahanan. Rapor merah mengenai jumlah kebobolan yang tinggi ini akan menjadi fokus evaluasi utama bagi jajaran staf teknis Arab Saudi.

Donis bersama jajaran kepelatihan barunya dituntut untuk segera menemukan formula keseimbangan yang tepat antara agresivitas menyerang dan juga kedisiplinan bertahan. Kondisi ini karean usai melakoni laga pembuka melawan Uruguai, Arab Saudi sudah ditunggu oleh tim peringkat dua dunia, Spanyol, serta tim debutan Tanjung Hijau.

Kendati demikian, publik sepak bola Arab Saudi meyakini Donis akan menerima tantangan besar ini dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Bagi seorang mantan pemain yang tidak pernah merasakan atmosfer Piala Dunia, kesempatan emas di musim panas ini merupakan panggung pembuktian seumur hidup.