Pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps. Foto:
TVRINews - Paris, Prancis
Didier Deschamps adalah satu dari hanya tiga orang di dunia, bersama Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer, yang berhasil memenangkan Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih.
Didier Deschamps berdiri sebagai sosok paling sukses dalam sejarah sepak bola Prancis. Menjelang tugasnya memimpin Timnas Prancis di Piala Dunia 2026, ia membawa beban serta kehormatan dari 14 tahun masa jabatannya yang sarat prestasi.
Terlebih, turnamen akbar yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada 11 Juni-19 Juli 2026 ini dipastikan akan menjadi panggung terakhirnya sebagai pelatih Les Bleus, sebuah kesempatan untuk mempersembahkan trofi penutup yang manis sebelum era barunya berakhir.
Karier Sang Juara
Lahir di Bayonne pada tahun 1968, Deschamps sempat dijuluki "The water-carrier" (si pengangkut air) oleh Eric Cantona saat awal menjadi pemain, sebuah ejekan yang justru ia jadikan lecutan dan berubah menjadi pujian.
Cantona memakai istilah itu untuk meremehkan gaya bermain Deschamps yang dianggap tidak flamboyan dan lebih banyak bekerja untuk mendukung pemain lain.
Tapi berkat performa bagus Deschamps, ejekan "pengangkut air" kini justru berubah makna menjadi positif: sosok gelandang yang bisa merebut bola, menjaga keseimbangan tim, dan membantu pemain kreatif. Sebuah simbol penghormatan terhadap pentingnya peran seorang gelandang pekerja keras.
Deschamps adalah jantung taktis tim. Ia menjadi kapten termuda yang mengangkat trofi Liga Champions bersama Marseille pada 1993, sebelum memimpin Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.
Setelah melanglang buana ke berbagai klub top seperti Juventus dan Chelsea, Deschamps akhirnya memutuskan gantung sepatu sebagai pemain profesional pada tahun 2001 di klub Spanyol, Valencia, saat usianya menginjak 32 tahun.
Lompatan Instan ke Dunia Kepelatihan Level Klub
Tidak butuh waktu lama bagi Deschamps untuk beralih ke pinggir lapangan. Segera setelah pensiun pada musim panas 2001, ia langsung ditunjuk menjadi pelatih AS Monaco di Ligue 1.
Monaco di bawah arahannya berhasil menjuarai Coupe de la Ligue pada 2003 dan mencatat sejarah luar biasa dengan menembus final Liga Champions 2004 untuk pertama kalinya, sebelum akhirnya takluk dari FC Porto yang kala itu dilatih Jose Mourinho.
Pada 2006, Deschamps kembali ke mantan klubnya, Juventus, yang saat itu sedang terpuruk di Serie B akibat skandal Calciopoli. Di masa-masa sulit tersebut, ia sukses membawa Bianconeri bangkit dan menjuarai Serie B 2006–2007 sekaligus mengamankan tiket promosi kembali ke kasta tertinggi Italia.
Petualangan klubnya berlanjut ke Olympique de Marseille pada 2009. Di sana, Deschamps kembali membuktikan magisnya dengan mempersembahkan gelar Ligue 1 musim 2009–2010, yang merupakan trofi liga pertama bagi Marseille dalam 18 tahun terakhir.
Selain itu, ia juga memenangkan tiga trofi Coupe de la Ligue berturut-turut (2010, 2011, 2012) sebelum akhirnya mundur pada musim panas 2012.

Timnas Prancis keluar sebagai juara Piala Dunia 2018 di Rusia
Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
Ditunjuk menjadi pelatih Timnas Prancis pada 2012, ia mengubah Prancis menjadi kekuatan global yang ditakuti. Di bawah arahannya, Prancis mencapai tiga final turnamen besar (Piala Eropa 2016, Piala Dunia 2018, dan Piala Dunia 2022), dengan memenangkan trofi tertinggi dalam ajang Piala Dunia 2018 di Rusia. Selain itu, Deschamps juga membawa Prancis juara UEFA Nations League musim 2020-2021.
Deschamps adalah satu dari hanya tiga orang di dunia, bersama Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer, yang berhasil memenangkan Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih.
Menghadapi Piala Dunia 2026 yang akan diikuti 48 negara, Deschamps menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Terkenal dengan filosofi pragmatis yang mementingkan kemenangan, ia kini sukses mengintegrasikan generasi baru yang meledak-ledak seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, hingga talenta muda Desire Doue.
Formasi 4-2-3-1 andalannya tetap menjadi fondasi, namun kini ia lebih menekankan pada aspek "kontrol teknis" dan fleksibilitas transisi yang cepat.
Visi Piala Dunia 2026 dan Salam Perpisahan

Didier Deschamps, pelatih Timnas Prancis sejak tahun 2012.
Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
Dalam wawancara mendalam bersama media resmi FIFA beberapa waktu lalu, Deschamps merefleksikan arti penting Piala Dunia dan motivasi besarnya.
"Tidak ada perasaan yang lebih baik daripada menjadi juara Piala Dunia. Kompetisi di tiap negara berbeda dengan caranya sendiri. Piala Dunia sepak bola tetap menjadi acara olahraga terbesar, apa pun yang terjadi," ucapnya.
"Bagi kami, ini adalah siklus empat tahun dan semuanya diatur agar tetap menjadi acara yang paling penting. Tidak ada yang terasa lebih baik daripada menjadi juara dunia dalam karier seorang pesepakbola profesional," kata Deschamps.
"Namun sebelum memikirkan Piala Dunia ini, kami harus lolos terlebih dahulu. Kami harus melangkah selangkah demi selangkah."
Tentunya pelatih berusia 57 tahun itu ingin mempersembahkan yang terbaik bagi Les Bleus, terlebih ia sudah menyatakan akan mundur sebagai pelatih Timnas Prancis usai Piala Dunia 2026, apa pun hasilnya nanti.
“Saya telah menangani Timnas Prancis sejak 2012, dan saya dijadwalkan untuk berada di sini hingga 2026,” kata Deschamps. “Di situlah saya akan berhenti, karena saya memang harus berhenti pada tahap tertentu," ia menambahkan.
"Anda tidak pernah ingin sesuatu yang hebat berakhir, tetapi Anda harus tahu kapan harus berhenti. Ada kehidupan setelahnya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi itu akan sangat bagus juga. Berada di timnas bertahun-tahun dan bertahan hingga 2026, itu berarti 14 tahun, itu adalah waktu yang lama.”
Mengenai masa baktinya yang luar biasa, Deschamps menambahkan, “Saya ada di timnas bukan untuk mengejar rekor. Yang paling penting adalah Prancis tetap berada di puncak, seperti yang telah terjadi selama bertahun-tahun.”
Mendekati akhir masa baktinya sebagai pelatih Timnas Prancis usai Piala Dunia 2026, Deschamps menyampaikan kalimat perpisahan yang emosional namun penuh rasa syukur.
"Saya tidak akan menjadi sentimental. Saya sangat sadar bahwa ini adalah terakhir kalinya saya berbicara atas nama FFF. Ini adalah momen yang spesial," ujarnya.
"Saya ingin berterima kasih kepada semua staf FFF. Mereka telah mendukung saya selama 14 tahun. Mereka telah melakukan segalanya untuk memastikan Timnas Prancis mendapatkan kondisi terbaik yang memungkinkan," kata Deschamps, dikutip dari L'Equipe.
Biodata
Nama: Didier Claude Deschamps
Kelahiran: Bayonne, Prancis, 15 Oktober 1968 (57 tahun)
Karier Bermain:
- Nantes (1985–1989)
- Marseille (1989–1994)
- Bordeaux (pinjaman) (1990–1991)
- Juventus (1994–1999)
- Chelsea (1999–2000)
- Valencia (2000–2001)
- Timnas Prancis U-21 (1988–1989)
- Timnas Prancis (1989–2000)
Karier sebagai Pelatih:
- AS Monaco (2001–2005)
- Juventus (2006–2007)
- Marseille (2009–2012)
- Timnas Prancis (2012–sekarang)
Prestasi sebagai Pemain:
Marseille
- Ligue 1 (1989–1990, 1991–1992)
- Liga Champions (1992–1993)
Juventus
- Serie A (1994–1995, 1996–1997, 1997–1998)
- Coppa Italia (1994–1995)
- Piala Super Italia (1995, 1997)
- Piala Interkontinental (1996)
- Liga Champions (1995–1996)
- Piala Intertoto (1999)
- Piala Super Eropa (1996)
Chelsea
- Piala FA (1999–2000)
Valencia
- Runner-up Liga Champions (2000–2001)
Timnas Prancis
- Piala Dunia (1998)
- Piala Eropa (2000)
Individual
- Division 1 Rookie of the Year (1989)
- Onze Mondial (1992, 1993, 1996, 1997)
- Pemain Terbaik Prancis (1996)
- UEFA European Championship Team of the Tournament (1996)
- FIFA 100 (2004)
- Golden Foot Award Legends (2018)
Prestasi sebagai Pelatih:
AS Monaco
- Coupe de la Ligue (2002–2003)
- Runner-up Liga Champions (2003–2004)
Juventus
- Serie B (2006–2007)
Marseille
- Ligue 1 (2009–2010)
- Coupe de la Ligue (2009–2010, 2010–2011, 2011–2012)
- Trophée des Champions (2010, 2011)
Timnas Prancis
- Piala Dunia (2018)
- UEFA Nations League (2020–2021)
Individual
- Pelatih Terbaik Ligue 1 (2004)
- Pelatih Terbaik FIFA (2018)
- Pelatih Terbaik Versi Globe Soccer Awards (2018)
- Pelatih Terbaik Versi World Soccer Magazine (2018)
- Pelatih Terbaik Kategori Tim Nasional Versi IFFHS ( 2018, 2020)