TVRINews - Paris, Prancis

Namun, Pogba mengingatkan kualitas talenta individu saja tidak akan cukup tanpa adanya ketahanan mental mengatasi tekanan masif publik.

Tim nasional Prancis menjadi salah satu kandidat kuat peraih gelar Piala Dunia 2026. Bahkan, mantan pemain Les Bleus, Paul Pogba, melontarkan klaim berani dengan menyebut kedalaman materi pemain armada Didier Deschamps saat ini jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan generasi emas yang merengkuh trofi juara pada edisi 2018 di Rusia.

Kegagalan menyakitkan lewat drama adu penalti dari Argentina di partai puncak empat tahun lalu dinilai justru melahirkan mentalitas bertanding yang jauh lebih matang. Berbekal kombinasi pemain sarat pengalaman dan talenta muda berbakat, Prancis dinilai sangat layak ditempatkan di posisi teratas dalam bursa calon kuat pemenang Piala Dunia 2026.

Status tim unggulan utama yang disematkan oleh para pengamat sepak bola dunia dinilai Pogba sebagai konsekuensi dari melimpahnya opsi pemain kelas satu di setiap lini Prancis. Namun, ia juga memberikan catatan kritis bahwa nama besar di atas kertas sama sekali tidak menjamin kemudahan untuk membawa pulang trofi juara.

Tantangan terbesar yang harus dijinakkan oleh Kylian Mbappe dan kolega justru datang dari faktor nonteknis berupa tekanan psikologis dari publik yang menuntut kesempurnaan performa. Pengelolaan emosi dan atmosfer kondusif di dalam ruang ganti akan menjadi kunci krusial yang menentukan konsistensi permainan tim sepanjang kejuaraan berlangsung.

"Ya. Saya pikir semua orang melihat mereka sebagai favorit. Mereka memang harus menjadi favorit. Mereka mungkin memiliki para pemain terbaik di dunia. Tentu saja itu tidak cukup untuk memenangkan Piala Dunia, dan tekanan terhadap mereka juga lebih besar,"  kata Pogba dalam sesi wawancara eksklusif bersama ESPN.

Sebagai salah satu pilar penentu yang mencetak gol kemenangan dalam laga final kontra Kroasia delapan tahun lalu, Pogba memiliki indikator valid dalam membandingkan kualitas tim. Sejumlah alumni Rusia 2018 seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, hingga gelandang jangkar N'Golo Kante tercatat masih menjadi tulang punggung utama Prancis saat ini.

Bedanya, para pemain senior tersebut kini mendapatkan sokongan energi luar biasa dari kehadiran deretan bintang muda yang sedang naik daun di kompetisi Eropa. Masuknya nama-nama segar seperti William Saliba, Michael Olise, hingga kreator serangan Rayan Cherki membuat variasi taktik Prancis menjadi sulit ditebak oleh lini pertahanan lawan.

"Bagi saya, jika berbicara soal pemain, talenta, dan semuanya, saya pikir mereka lebih baik daripada kami. Ya, saya pikir mereka lebih baik daripada kami. Namun tentu saja saya berharap itu bisa membuat mereka memenangkan Piala Dunia," ucapnya.

Selain mengulas peta kekuatan kolektif tim, Pogba juga memberikan pembelaan terkait rapor penampilan Mbappe, bersama klubnya. Sorotan tajam publik pascamusim yang kurang berjalan mulus di level domestik bersama Real Madrid dinilai Pogba sebagai bentuk penilaian yang sangat tidak adil.

Menurut pandangannya, standar performa yang diciptakan oleh pemain berusia 27 tahun tersebut sudah berada di level yang sangat tinggi dan jauh di atas rata-rata penyerang dunia lainnya. Produktivitas gol yang luar biasa membuat pencapaian standar seorang Mbappe sering kali disalahartikan sebagai sebuah kemunduran karier oleh para kritikus sepak bola.

"Bisakah Anda membayangkan jika saya mengatakan dia mengalami musim yang sedikit sulit, padahal musim yang sulit itu mungkin akan menjadi musim terbaik bagi hampir semua penyerang lainnya?. Itulah seberapa hebat dirinya," ungkapnya.

"Bagi dia, mencetak 40 gol dalam setahun dianggap sebagai musim yang sulit. Jadi saya tidak tahu. Bagi saya, itu bukan musim yang buruk!" ia melanjutkan.

Pogba sangat yakin mentalitas yang dimiliki Mbappe akan membuatnya tampil menggila tanpa terbebani oleh ekspektasi publik yang begitu masif. Pengalaman kapten Les Bleus dalam memimpin tim di berbagai laga krusial dinilai sudah lebih dari cukup untuk mengarsiteki kejayaan Prancis di panggung dunia.

"Dia adalah penyerang terbaik dari generasinya. Titik," ujarnya.