TVRINews - Dallas, Amerika Serikat

Jika "Generasi Emas " Spanyol 2010 dikenal sebagai raja penguasaan bola lewat gaya tiki-taka, tim 2026 tampil lebih cepat, lebih vertikal, dan lebih eksplosif bangun serangan.

Timnas Spanyol kembali menjejak final Piala Dunia pada edisi 2026. Namun, skuad yang kini dipersiapkan untuk memperebutkan trofi terbesar sepak bola dunia memiliki karakter yang jauh berbeda dibanding tim yang menjadi juara di Afrika Selatan pada 2010.

Meski sama-sama mengusung filosofi permainan berbasis teknik tinggi, kecerdasan taktik, dan penguasaan bola, La Roja versi 2010 dan 2026 merepresentasikan dua era yang berbeda dalam sejarah sepak bola Spanyol. 

Jika generasi emas 2010 dikenal sebagai raja penguasaan bola lewat gaya tiki-taka, maka tim 2026 tampil lebih cepat, lebih vertikal, dan lebih eksplosif dalam membangun serangan.

Inilah tiga perbedaan dan satu persamaan La Roja edisi "Generasi Emas" 2010 dengan skuad asuhan Luis de la Fuente yang selangkah lagi meraih impian mereka menjadi juara Piala Dunia 2026, dikutip dari Marca.

1. Identitas Permainan: Tiki-Taka vs Serangan Vertikal

Perbedaan paling mencolok antara kedua tim terlihat dari cara mereka menyerang. Pada Piala Dunia 2010, Spanyol di bawah asuhan Vicente del Bosque menyempurnakan filosofi tiki-taka yang kemudian mendominasi sepak bola dunia selama hampir satu dekade. 

La Roja mengontrol pertandingan melalui rangkaian umpan-umpan pendek yang nyaris tanpa henti, sering kali menguasai bola lebih dari 60 persen sepanjang laga.

Setiap serangan dibangun dengan penuh kesabaran. Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, dan Xabi Alonso menjadi otak permainan yang mengatur tempo sekaligus menguras energi mental lawan sebelum menemukan celah untuk mencetak gol.

Sebaliknya, Spanyol 2026 tetap menghargai pentingnya penguasaan bola, tetapi tidak lagi menjadikannya tujuan utama. Tim ini lebih memilih menyerang ruang kosong secepat mungkin, bertransisi dari bertahan ke menyerang hanya dalam beberapa operan, serta memanfaatkan kecepatan para pemain sayap dan pergerakan agresif di lini depan.

Pendekatan tersebut mencerminkan evolusi sepak bola modern, di mana efektivitas dan intensitas lebih diutamakan dibanding sekadar mendominasi penguasaan bola.

2. Kolektif vs Aksi Individu

Perbedaan lain tampak pada sosok pemain yang menjadi pusat perhatian. Skuad juara dunia 2010 tidak bergantung pada satu superstar. 

Kekuatan mereka lahir dari kolektivitas yang luar biasa, terutama di lini tengah yang sering disebut sebagai salah satu kombinasi terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Xavi mengendalikan ritme permainan, Iniesta menghadirkan kreativitas, Busquets menjadi penyaring serangan lawan, sementara David Villa tampil sebagai penyelesai akhir yang tajam. Bersama-sama, mereka membentuk tim yang sangat sulit dihentikan.

Sedangkan di sisi lain, Spanyol 2026 memang tetap dihuni banyak pemain berkualitas, tetapi sorotan terbesar mengarah kepada Lamine Yamal.

Dalam usia yang baru menginjak 19 tahun, bintang muda Barcelona tersebut telah berkembang menjadi salah satu pemain paling berbahaya di dunia. 

Kemampuannya melewati lawan dalam duel satu lawan satu, menciptakan peluang, hingga menghasilkan momen-momen ajaib memberi dimensi baru bagi permainan Spanyol.

Berbeda dengan generasi 2010 yang mengandalkan dominasi kolektif, Spanyol saat ini memiliki pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan lewat aksi individu.

3. Generasi Emas vs Tim Regenerasi

Perbedaan menarik lainnya terlihat dari profil usia kedua tim. Skuad juara dunia 2010 berada pada masa puncak karier. Sebagian besar pemain telah meraih berbagai gelar liga domestik maupun Liga Champions sebelum membawa Spanyol juara Piala Dunia. Kebersamaan mereka juga telah terjalin selama bertahun-tahun, baik di Barcelona, Real Madrid, maupun tim nasional.

Sebaliknya, skuad Spanyol 2026 dihuni lebih banyak pemain muda yang baru memulai perjalanan panjang di level internasional.

Lamine Yamal menjadi simbol regenerasi tersebut. Meski masih didampingi sejumlah pemain senior yang memberikan keseimbangan dan kepemimpinan, mayoritas pemain inti diproyeksikan mampu menjadi tulang punggung Spanyol dalam berbagai turnamen besar selama satu dekade ke depan.

Dengan kata lain, apabila Spanyol 2010 dikenang sebagai puncak dari generasi emas, Spanyol 2026 bisa menjadi awal dari lahirnya era emas yang baru. 

4. Pertahanan Tetap Menjadi Fondasi

Meski gaya menyerang berubah, satu identitas Spanyol tetap bertahan, yakni kualitas pertahanan.

Pada Piala Dunia 2010, La Roja hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen dan memenangkan seluruh pertandingan fase gugur dengan skor identik 1-0. Lini belakang yang dihuni Carles Puyol, Gerard Pique, Joan Capdevila, serta penjaga gawang Iker Casillas menjadi salah satu pertahanan terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

Spanyol 2026 memang bertahan dengan pendekatan yang lebih modern, tetapi prinsip dasarnya masih sama. Disiplin posisi, koordinasi saat melakukan pressing, serta ketenangan ketika membangun serangan dari lini belakang tetap menjadi ciri khas permainan mereka.

Walaupun taktik sepak bola telah berkembang pesat dalam 16 tahun terakhir, fondasi pertahanan Spanyol tetap menjadi salah satu kekuatan utama tim.