Jorge Valdano, legenda Timnas Argentina yang ikut mengantarkan timnya juara Piala Dunia 1986. Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Atlanta, Amerika Serikat
Legenda Argentina saat juara Piala Dunia 1986, Jorge Valdano, menilai Albiceleste saat ini masih bergantung kepada Messi, beda dengan Inggris yang punya Kane dan Bellingham.
Semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Inggris pada Kamis (16/7/2026) dini hari WIB nanti di Atlanta Stadium, Amerika Serikat, kembali membangkitkan memori salah satu laga paling ikonik dalam sejarah sepak bola.
Pertemuan kedua tim selalu sarat rivalitas, terutama sejak duel perempat final Piala Dunia 1986 yang melahirkan dua momen abadi Diego Maradona: "Hand of God" (Gol Tangan Tuhan) dan "Goal of the Century" (Gol Abad Ini).
Legenda Argentina, Jorge Valdano, yang menjadi bagian dari tim juara dunia 1986, mengenang kembali pertandingan tersebut dalam wawancara bersama media Spanyol, AS.
Menurutnya, situasi yang dihadapi tim Argentina saat itu sangat berbeda dengan sekarang karena masih dibayangi Perang Falklands (Malvinas) yang baru berakhir empat tahun sebelumnya. Berikut petikan wawancaranya:
Apa arti pertandingan melawan Inggris bagi seorang pemain Argentina?
Tidak sama antara saat kami menghadapinya pada 1986 dengan sekarang. Saat itu baru empat tahun berlalu sejak Perang Falklands (Malvinas), sehingga kami bermain dengan luka yang masih terbuka.
Kini, setelah 44 tahun berlalu, para pemain hanya bermain dengan kenangan sejarah. Pertandingan tahun 1986 menggambarkan sebuah bangsa, sedangkan sekarang pertandingan lebih dijelaskan dari sudut pandang sepak bola semata.
Bagaimana Anda mengingat momen-momen sebelum pertandingan tahun 1986?
Kami harus mampu mengendalikan emosi. Jika tidak, kami bisa saja kehilangan tiga pemain karena kartu merah. Itulah sebabnya pertandingan tahun 1986 tidak adil jika dibandingkan dengan duel sekarang. Laga itu dikenang sepanjang masa karena Maradona mengubahnya menjadi sebuah karya seni.
Apakah ada tekanan politik atau militer terhadap tim Argentina saat itu?
Tekanannya lebih berasal dari masyarakat daripada pemerintah. Presiden Raul Alfonsin justru cukup menjaga jarak dari tim nasional karena ingin membedakan pemerintahannya dengan era kediktatoran yang menggelar Piala Dunia 1978.
Memang ada beberapa anggota parlemen yang ingin menjadikan pertandingan itu seperti perang dalam bentuk lain. Bahkan ada yang meminta kami untuk tidak bermain.
Maradona tentu menghadapi tekanan besar?
Maradona datang ke Piala Dunia 1986 sebagai pesepak bola, tetapi pulang sebagai pahlawan nasional untuk selamanya. Turnamen itu mengubah kami semua, tetapi tidak ada yang sebesar perubahan yang dialami Diego. Saat melawan Inggris, ia memperlihatkan dua karakter yang melekat pada orang Argentina: kecerdikan dan kejeniusan.
Dalam pertandingan itu lahir dua momen paling terkenal dalam sejarah sepak bola, yakni "Gol Tangan Tuhan" dan "Gol Abad Ini". Anda berada di lapangan saat keduanya terjadi...
Ya, bahkan kedua istilah itu sangat khas Argentina. Saat itu belum ada VAR. Sepak bola masih sangat alami. Sekarang semuanya dipenuhi berbagai unsur buatan. Dulu para pemain memiliki kebebasan yang lebih besar, dan Diego benar-benar bebas di pertandingan itu.
Saya melihat Thomas Tuchel sekarang, menurut saya dia bahkan terlalu "pelatih" untuk ukuran seorang pelatih. Carlos Bilardo memang sangat taktis, tetapi pemain masih diberi ruang untuk mengekspresikan diri.
Apa yang dikatakan Maradona soal gol menggunakan tangannya setelah pertandingan?
Saya tidak terlalu ingat apa yang dia katakan di ruang ganti. Yang saya ingat justru apa yang saya tanyakan kepadanya di lapangan. Saya bertanya, "Diego, tadi golnya pakai tangan?" Jawabannya sangat khas Maradona: "Nanti setelah pertandingan saya ceritakan."
Setelah itu lahirlah "Gol Abad Ini", ketika Maradona menggiring bola melewati hampir seluruh pemain Inggris sebelum mencetak gol...
Gol itu begitu luar biasa sampai saya pernah menulis artikel khusus di France Football mengenai prosesnya. Semua orang sudah melihat dan membicarakan gol tersebut. Itulah karya seni yang saya maksud sebelumnya.
Ada banyak cerita menarik dari pertandingan di Stadion Azteca itu, termasuk soal pergantian jersei Argentina sehari sebelum laga...
Itu sebenarnya improvisasi. Banyak orang menganggapnya sebagai tindakan jenius, padahal kenyataannya kami belum memiliki seragam yang layak dipakai bahkan 24 jam sebelum pertandingan dimulai. Awalnya itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Namun karena pertandingan itu menjadi legenda, kisah tersebut ikut dibesar-besarkan.
Sepak bola sekarang tentu sudah jauh berbeda...
Sangat berbeda. Lapangan di Piala Dunia 1986 tidak sempurna, bahkan saya bisa mengatakan gaya bermain Inggris saat itu masih cukup primitif. Maradona-lah yang mengangkat pertandingan itu menjadi sesuatu yang luar biasa.
Kini Liga Inggris menjadi laboratorium sepak bola dunia, dan Thomas Tuchel membangun tim yang sangat modern. Argentina sendiri berkembang menjadi tim yang jauh lebih kompetitif, meski pada pertandingan terakhir mereka terlihat mulai kehilangan tenaga dan kreativitas.
Menurut Anda, apa yang akan dikatakan Maradona tentang Lionel Messi saat ini?
Mereka pernah bekerja sama ketika Diego menjadi pelatih tim nasional dan Messi sebagai pemain. Menurut saya, para jenius selalu saling mengenali. Maradona, yang merupakan seorang pemberontak profesional di dunia sepak bola, sangat menghargai Messi.
Messi tampaknya belum habis...
Lionel Messi telah memperbesar sejarah sepak bola selama dua dekade terakhir. Yang paling mengejutkan, dalam beberapa tahun terakhir dia juga berhasil mencapai puncak kejayaannya. Itu membuktikan bahwa bakat mampu mengatasi segalanya.
Dalam sepak bola modern, semua hal dianalisis secara berlebihan. Apa yang akan dilakukan lawan dipelajari sedetail mungkin. Tetapi terhadap Messi, semua itu sering kali tidak cukup. Bahkan hanya dengan berjalan di atas lapangan, dia sudah mampu mengubah pertandingan. Itu sesuatu yang luar biasa.
Bagaimana prediksi Anda untuk semifinal Argentina melawan Inggris?
Kedua tim tidak ada yang sempurna. Pertandingan ini memiliki nilai sejarah sekaligus kualitas sepak bola yang sangat tinggi. Keduanya sama-sama harus melewati perpanjangan waktu untuk mencapai semifinal.
Perbedaannya, Inggris kini memiliki satu sumber gol tambahan. Bersama Jude Bellingham, Harry Kane seperti memiliki senapan laras ganda. Sementara Argentina masih sangat bergantung pada Messi, meski Julian Alvarez dan Lautaro Martinez juga bisa menjadi pembeda jika menemukan momentum.