TVRINews - Jakarta, Indonesia

Baginya, kekuatan utama Indonesia terletak pada keramahan dan kerendahan hati masyarakatnya.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan analisis mendalam mengenai peta persaingan tim-tim elite menjelang Piala Dunia 2026. Ia mengidentifikasi kekuatan Eropa dan Amerika Selatan, sembari memberikan catatan khusus bagi kebangkitan wakil Asia.

Erick mengungkapkan bahwa saat ini ada dua negara yang menunjukkan performa paling menonjol di level internasional. Oleh karena itu, ia memprediksi mereka calon kuat peraih gelar Piala Dunia 2026.

"Saya pikir jika melihat dua tim terbaik saat ini, mungkin tim nasional Prancis dan tim nasional Spanyol. Namun tentu saja selalu ada kejutan dari tim Nasional Argentina, dan jangan lupa juga tim nasional Jepang sebagai wakil Asia," kata Erick di Jakarta, Rabu (15/4).

Selain itu Erick mengagumi konsistensi pengembangan sepak bola di Jepang. Ia membandingkan perkembangan tersebut dengan sejarah masa lalu, di mana Indonesia pernah berada di level yang kompetitif dengan tim Matahari Terbit tersebut pada akhir era 80-an.

"Saya pikir mereka sangat agresif dalam 20 tahun terakhir membangun sepak bola mereka. Saya menonton pertandingan tadi malam, antara tim nasional Indonesia dan Jepang yang dimainkan pada tahun 1987, saat kualifikasi Piala Dunia. Saya rasa skornya 0-0," ucapnya.

Namun, Erick menyadari adanya kesenjangan kualitas yang lebar antara kondisi dahulu dan sekarang. Bahkan ia menyebut Indonesia berada jauh di bawah Jepang.

"Jika kita bermain melawan Jepang, saya pikir Jepang sudah berada di sekitar peringkat 17 dunia, dan mereka juga sudah sering bermain melawan negara-negara top dunia. Jadi Indonesia perlu berkembang. Inilah alasan mengapa kami ingin bekerja sama dengan banyak negara, seperti Prancis dan negara lainnya, untuk mengembangkan sepak bola kami. Kami akan belajar banyak dari kemitraan tersebut," ucapnya.

Bukan cuma aspek teknis sepak bola, Erick juga menyoroti nilai-nilai kemanusiaan dan sosial yang bisa dipelajari dunia internasional dari Indonesia. Ia menilai ada kesamaan fundamental antara Indonesia dan negara-negara maju seperti Prancis dalam menjunjung keberagaman.

"Saya pikir apa yang bisa dipelajari orang Prancis dari Indonesia ada dua hal. Masyarakat kami selalu tersenyum dan rendah hati. Benar, kan? Tersenyum dan rendah hati. Saya pikir sebagai sebuah negara, kami adalah negara yang menjunjung rasa hormat dan keberagaman, mirip dengan Prancis," tuturnya.

Meski memiliki kemiripan nilai, Erick menekankan Indonesia memiliki tantangan sosial yang lebih unik karena strukturnya yang sangat majemuk. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri yang mesti dipecahkan.

"Namun tantangannya, saya rasa kami lebih kompleks. Karena kami memiliki lebih dari 700 suku dan juga banyak bahasa. Selain itu, dari sejarah kami sebelum kemerdekaan Indonesia, kami sudah menghargai keberagaman sejak tahun 1928," ungkapnya.

"Tentu saja Prancis, melalui Revolusi Prancis, mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai republik. Namun saya pikir, sekali lagi, pertukaran budaya tidak akan pernah cukup—selalu ada hal yang bisa dipelajari satu sama lain. Tapi, saya rasa kekuatan utama Indonesia adalah masyarakatnya yang selalu tersenyum dan rendah hati," ia melanjutkan.