TVRINews - New York, Amerika Serikat

FIFA dianggap telah membingungkan para penggemar mengenai penjualan tiket.

Kurang dari tiga pekan lagi Piala Dunia 2026 akan mulai bergulir, tiket pertandingan masih menjadi persoalan. Kali ini FIFA yang menjadi sorotan dan harus memberikan penjelasan menyusul dugaan "membengkakkan harga secara mengada-ada" dan "menyesatkan para fan" dalam penjualan tiket Piala Dunia 2026.

Dugaan itu muncul setelah dua Jaksa Agung dari negara bagian New York-New Jersey secara resmi meluncurkan penyelidikan terhadap praktik-praktik yang dilakukan FIFA. Jaksa Agung New Jersey, Jennifer Davenport, menyatakan bahwa praktik FIFA tampak telah menghasilkan serangkaian kebingungan, kelangkaan palsu, dan harga yang sangat tinggi.

FIFA akan dimintai keterangan mengenai penjualan tiket sejak awal tahun. Otoritas sepak bola dunia itu akan diharuskan menyediakan dokumen-dokumen internal atau informasi tertentu.

Jennifer Davenport mengeluarkan pernyataan bersama dengan Jaksa Agung New York, Letitia James, dan Departemen Perlindungan Konsumen dan Pekerja (DWCP) New York City. Komisaris DWCP, Samuel A.A. Levine mengatakan bahwa lembaganya akan menyelidiki secara mendalam terhadap dugaan tindakan yang mengecoh secara mencolok dan terhadap dugaan harga tinggi yang mengada-ada. Harga yang jauh melebihi tiket Qatar 2022 akan menjadi pokok perhatian.

Para penggemar dikabarkan mengaku telah terkecoh mengenai lokasi tempat duduk. Yang mengherankan adalah pembuat kategori tiket untuk tempat duduk yang lebih depan dengan banderol yang lebih tinggi. Kategori tersebut baru muncul setelah penjualan awal.

Praktik FIFA yang mengundang pertanyaan adalah penentuan harga yang berubah-ubah untuk berbagai ronde kompetisi. FIFA disinyalir membuat keputusan yang memungkinkan mereka menaikkan harga tiket 90 dari 104 laga. Rata-rata kenaikan sebesar 34 persen.

Penyelidikan akan mempertimbangkan jadwal peluncuran tiket dan sejumlah pernyataan atau pengumuman dari FIFA yang mungkin memengaruhi banderol karcis pertandingan Piala Dunia 2026.


Bukan Undangan Pemerasan

FIFA beberapa kali membahas permintaan tinggi untuk tiket pertandingan Piala Dunia 2026 yang akan diadakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Presidennya, Gianni Infantino, menilai bahwa harga mencerminkan hasrat penggemar global yang sangat tinggi untuk menyaksikan secara langsung Piala Dunia 2026.

Namun, pada Rabu (27/5/2026), tersedia lagi tiket-tiket dengan harga awal untuk 86 dari 104 partai, sepuluh di antaranya laga fase grup yang jadwalnya sudah diketahui jauh-jauh hari. Jaksa-jaksa Agung secara khusus mencermati delapan pertandingan di New York New Jersey Stadium atau MetLife Stadium di New Jersey, termasuk partai puncak.

"Jujur soal penjualan tiket tidak rumit. Merupakan kebanggaan menjadi tuan rumah Piala Dunia, tapi ajang ini bukanlah undangan untuk memeras penduduk dan pengunjung," kata Jennifer Davenport seperti dikutip dari BBC.

"Tidak ada orang yang seharusnya dimanipulasi untuk membayar tiket dengan harga selangit, dan para fan seharusnya dapat memercayai bahwa tiket yang mereka beli adalah yang akan mereka dapatkan," tutur Letitia James.

Investigasi digelar setelah Jaksa Agung California, Rob Bonta, mengirimkan surat kepada FIFA pada awal bulan. Surat berisi keprihatinannya soal kemungkinan praktik-praktik terkait penjualan tiket Piala Dunia 2026 yang tampak mengecoh.

Sampai Kamis (28/5/2026) siang, FIFA belum memberikan pernyataan terkait tudingan terhadap mereka ini.