TVRINews - Casablanca, Maroko

Kombinasi kreativitas, pengalaman di Eropa, dan kepercayaan diri setelah sukses di AFCON membuat Brahim Diaz menjadi tumpuan utama Maroko di Piala Dunia 2026.

Nama Brahim Diaz menjelma sebagai simbol kebangkitan Maroko dalam beberapa tahun terakhir. Lahir di Spanyol dan sempat membela timnas muda La Roja, keputusannya beralih ke Maroko pada 2024 menjadi titik balik besar, baik bagi kariernya maupun bagi Tim Singa Atlas.

Pada level internasional, dampaknya langsung terasa. Dalam ajang Piala Afrika (AFCON) 2025 yang akhirnya dijuarai Maroko lewat keputusan kontroversial CAF, Diaz tampil luar biasa dengan mencetak 5 gol.

Jumlah gol itu menjadikannya top-scorer turnamen sekaligus pemain paling berpengaruh di tim. Ia juga mencatat 13 gol dalam 22 caps internasional, angka yang menegaskan efektivitasnya sejak debut bersama Timnas Maroko.

Performa Diaz juga luar biasa. Ia mencetak gol dalam tiap laga fase grup Piala Afrika 2026 dan menjadi motor serangan utama, menghubungkan lini tengah dan depan dengan kreativitas tinggi. Dalam fase gugur, kontribusinya tetap krusial dan membantu Maroko melangkah hingga akhirnya keluar sebagai juara.

Pelatih Maroko terdahulu (sebelum digantikan Mohamed Ouahbi), Walid Regragui, pun tidak ragu memberikan pujian besar terhadap mantan pemain AC Milan itu. “Mentalitasnya benar-benar tangguh, dia tahu bahwa dia harus membuat perbedaan,” ujar Regragui, dikutip dari The New Arab.

Bahkan, Regragui menyebut potensi Diaz sangat tinggi, “Dia bisa menjadi pemain terbaik dunia," ucapnya.

Pada level klub bersama Real Madrid, pemain berposisi sayap kanan ini memang tidak selalu menjadi starter utama, tetapi kontribusinya tetap signifikan. Secara keseluruhan, ia telah mencatat sekitar 151 penampilan, 21 gol, dan 27 asis untuk Real Madrid dalam semua kompetisi.

Khusus di La Liga, ia mengoleksi 13 gol dan 13 asis dalam 96 pertandingan, menunjukkan peran sebagai gelandang serang yang produktif meski sering tampil sebagai pemain rotasi.

Pada musim 2025/2026 hingga pekan lalu, kontribusinya lebih terlihat dalam aspek kreatif, yakni 5 asis di La Liga, 602 menit bermain, dan rata-rata rating performa di kisaran 6,6.

Dalam ajang Liga Champions, ia juga menyumbang 1 gol dan 1 asis dari 9 penampilan, dengan akurasi umpan mencapai 90,89%, menunjukkan efisiensi tinggi saat diberi kesempatan.

Meski bukan bintang utama di klub, pengalaman bermain di level elite bersama Real Madrid memberikan Diaz ketenangan dan kualitas teknik yang sangat berguna di timnas. Hal ini terlihat jelas saat AFCON, di mana ia menjadi pusat permainan Maroko.

Kini, setelah Maroko memastikan gelar AFCON 2025, fokus beralih ke Piala Dunia 2026. Dalam usia 26 tahun, di mana menjadi fase emas bagi seorang pemain, Diaz diproyeksikan menjadi wajah utama Maroko di panggung global. 

Kombinasi kreativitas, pengalaman di Eropa, dan kepercayaan diri setelah sukses di AFCON membuatnya menjadi tumpuan utama.

Jika Maroko ingin kembali membuat kejutan seperti di Piala Dunia sebelumnya, satu hal tampak pasti: mereka akan sangat mengandalkan Brahim Diaz, pemain yang kini bukan hanya bintang, tetapi juga fondasi ambisi besar sebuah negara.