Johan Cruyff memimpin taktik Total Football Belanda di Piala Dunia 1974. Foto: Grafis: Yusuf
TVRINews – Zurich, Swis
Piala Dunia menjadi saksi tim-tim dengan materi pemain hebat yang mampu menyuguhkan teknik dan gaya permainan terbaik, namun gagal merebut gelar.
Tim terbaik ternyata tidak selalu mampu memenangi trofi turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia, Piala Dunia.
Sejumlah negara dengan tim sepak bola kuat seperti Italia, Brasil, Jerman, hingga Belanda, pernah merasakan pahitnya memiliki skuad dengan kualitas tinggi namun tidak mampu merebut Piala Dunia.
Berikut enam negara dengan tim inti (starting lineup) bermaterikan sekelompok pemain elite tetapi gagal memenangi Piala Dunia, versi TVRInews.com.
Belanda 1974
Starting Lineup: Jan Jongbloed; Wim Suurbier, Wim Rijsbergen, Arie Haan, Ruud Krol; Johan Neeskens, Wim Jansen, Willem van Hanegem; Johnny Rep, Johan Cruyff, Rob Resenbrink
Tim Nasional Belanda menghentak dunia dengan gaya "total football" (cikal bakal gaya sepak bola menyerang dengan basis penguasaan bola kuat, di era modern saat ini) pada Piala Dunia 1974.
Hal itu disebabkan sebagian besar pemain Tim Oranye berasal dari klub AFC Ajax, pionir "total football". Dimotori Johan Cruyff, Belanda bermain sangat mengalir dan stylish pada turnamen di Jerman itu.
Dengan tim inti sekuat itu, Belanda menghantam sejumlah tim tangguh Amerika Selatan. Sebut saja Uruguai (2-0) di fase grup pertama, serta Argentina (4-0), Brasil (2-0), dan Jerman Timur (2-0) di babak grup kedua.
Karena memenangi Grup A di fase kedua grup, Belanda pun melaju ke final menghadapi Jerman (saat itu masih Jerman Barat). Sempat unggul cepat melalui penalti Neeskens usai Cruyff dijatuhkan di kotak penalti, Belanda akhirnya menyerah 1-2 dari Jerman Barat.
Saat itu, Belanda memang gagal memenangi Piala Dunia pada 1974. Namun, gaya bermain mereka yang stylish dan sangat menarik, menginspirasi banyak tim hingga kini.
Jerman Barat 1986
Starting Lineup: Harald Schumacher; Karlheinz Forster, Ditmar Jakobs, Hans-Pieter Briegel; Thomas Berthold, Norbert Eder, Lothar Matthaus, Felix Magath, Andreas Brehme; Klaus Allofs, Karl-Heinz Rummenigge
Jerman Barat (baru memakai nama Jerman sejak kualifikasi Euro 1992) datang ke Piala Dunia 1986 di Meksiko sebagai salah satu unggulan, karena menjadi runner-up di edisi sebelumnya. Namun, permainan Jerman Barat di fase grup kurang meyakinkan.
Jerman Barat tertatih di fase grup kendati tetap lolos di bawah Denmark yang saat itu mulai dijuluki Tim Dinamit karena penampilannya yang meledak-ledak. Di 16 besar, Jerman Barat masih belum meyakinkan karena hanya menang 1-0 atas Maroko.
Barulah di perempat final gaya khas “staying power” Jerman mulai terlihat, dengan melibas Meksiko 4-1 lewat adu penalti. Di semifinal, Jerman Barat menjinakkan Prancis yang dimotori Michel Platini, 2-0, untuk menghadapi Argentina di final.
Argentina sudah unggul 2-0 sampai menit 70-an lewat gol-gol yang dicetak bek Jose Luis Brown (23’) dan striker Jorge Valdano (56’). Namun, Jerman mengejar lewat gol-gol yang dicetak Rummenige (74’) dan Rudi Voeller (81’).
Jeman Barat akhirnya memang harus mengakui keunggulan Argentina setelah Jorge Burruchaga lolos dari perhatian untuk mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-84.
Namun, skuad Jerman Barat di Piala Dunia 1986 menjadi landasan untuk membangun tim yang lebih matang dan kuat untuk edisi berikutnya. Hasilnya, Jerman Barat mampu menunjukkan konsistensi permainan hingga kembali ke final dan juara empat tahun berselang (1990) dengan lawan yang sama.
Brasil 1998
Starting Lineup: Claudio Taffarel; Cafu, Junior Baiano, Aldair, Roberto Carlos; Cesar Sampaio, Dunga, Leonardo Araujo, Bebeto; Rivaldo, Ronaldo Luis Nazario
Brasil datang ke Piala Dunia 1998 di Prancis dengan status juara bertahan. Skuad inti mereka pun tidak banyak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan saat menjadi yang terbaik di Amerika Serikat, empat tahun sebelumnya.
Menempati unggulan kedua di bawah Jerman, Brasil melaju mulus dari fase grup (menang) hingga menggilas Cile (4-1) di 16 besar dan meredam Denmark (3-2) di perempat final.
Tim elite ini baru menemukan ujian berat saat menghadapi Belanda di semifinal. Bertanding sengit melawan skuad yang saat itu disebut-sebut Belanda dengan gaya "total football" paling mendekati 1974, Brasil hanya mampu menang lewat adu penalti (4-2) usai bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.
Namun, di final menghadapi Prancis menjadi antiklimaks bagi Brasil. Dimulai dengan Ronaldo yang mengalami sakit misterius, Brasil pun menyerah 0-3 dari Prancis. Hingga kini masih banyak yang penasaran, bagaimana hasil final Piala Dunia 1998 itu jika Ronaldo turun dalam kondisi fit.
Italia 2002
Starting Lineup: Gianluigi Buffon; Paolo Maldini, Christian Panucci, Fabio Cannavaro, Alessandro Nesta; Gianluca Zambrotta, Damiano Tomassi, Cristiano Zanetti, Francesco Totti; Christian Vieri, Alessandro Del Piero
Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang mungkin menjadi salah satu yang paling tragis dalam sejarah Tim Nasional Italia.
Bagaimana Italia dengan starting lineup yang impresif bisa terhenti di babak kedua? Mengapa pelatih Gli Azzurri saat itu, Giovanni Trapattoni, tidak mampu memaksimalkan potensi skuadnya yang brilian?
Jika Italia tidak terseok di fase grup, bukan tidak mungkin sejarah mereka di Piala Dunia 2002 akan mencatat kisah berbeda. Italia terseok di fase grup dengan hanya mampu sekali menang (2-0 atas Ekuador), imbang (1-1 dengan Meksiko), dan kalah (1-2 dari Kroasia).
Hasil itu membuat Italia hanya berada di posisi kedua grup di bawah Meksiko sehingga harus bertemu tuan rumah Korea Selatan di 16 besar.
Terlepas dari absennya dua bek, Nesta dan Cannavaro – masing-masing karena cedera dan hukuman – kepemimpinan wasit Ekuador Byron Moreno yang buruk dan kontroversial, faktanya Italia menyerah 1-2 dari Korsel berkat "golden goal" Ahn Jung-hwan.
Usai tersingkir, sejumlah kabar tidak sedap soal Italia muncul, dari perselisihan antara Totti dengan Trapattoni karena beberapa keputusan pelatih yang kontroversial, hingga tudingan Trapattoni kepada FIFA yang ia tuding memerintahkan perangkat pertandingan untuk menyingkirkan Italia.
Prancis 2006
Starting Lineup: Fabien Barthez; William Gallas, Willy Sagnol, Eric Abidal, Lilian Thuram; Patrick Vieira, Claude Makelele, Florent Malouda; Franck Ribery, Thierry Henry, Zinedine Zidane
Piala Dunia 2006 seharusnya menjadi penutup indah buat karier cemerlang Zinedine Zidane. Turnamen di Jerman itu memang menjadi peralihan dari bintang-bintang era Zidane, Ronaldo Nazario (Brasil), hingga Oliver Kahn (kiper Jerman) ke calon bintang masa depan yang diwakili Cristiano Ronaldo (Portugal), Lionel Messi (Argentina), sampai Wayne Rooney (Inggris).
Prancis dengan materi pemain inti kelas dunia harus takluk dari Italia di final lewat adu penalti, karena sang bintang dan kapten terprovokasi oleh lawan.
Dikeluarannya Zidane pada menit ke-110 – saat skor 1-1 – akibat menanduk bek Italia Marco Materazzi setelah adu mulut dan adu dada, membuat Prancis kehilangan ritme bermain di sisa waktu, serta berkurangnya penendang penalti top di babak adu penalti.
Kegagalan Prancis memenangi Piala Dunia 2006 ini sangat disayangkan mengingat kualitas skuad yang mereka miliki saat itu, yang mampu mengalahkan tim-tim kuat seperti Spanyol, Brasil, hingga Portugal, dalam upaya menuju final.
Belgia 2018
Starting Lineup: Thibaut Courtois; Toby Alderweireld, Jan Vertonghen, Vincent Kompany; Axel Witsel, Nacer Chadli, Marouane Fellaini, Mousa Dembele, Kevin de Bruyne; Eden Hazard, Romelu Lukaku
Rasanya, tidak ada yang tak memfavoritkan Tim Nasional Belgia sebagai calon juara saat turun di Piala Dunia 2018. Pasalnya, saat itu mereka diperkuat generasi emas yang tengah dalam usia puncak.
Lihat saja komposisi skuad inti tim yang saat itu ditangani Roberto Martinez. Apalagi ditambah keberhasilan mereka menyingkirkan Brasil di perempat final.
Namun, langkah Eden Hazard dan kawan-kawan terpaksa terhenti di semifinal oleh Prancis – yang kemudian juara. Prancis berhasil menerapkan pendekatan taktik bertahan yang efektif, meminimalisasi ruang untuk mencegah gelandang kreatif Kevin de Bruyne atau Eden Hazard mendapatkan celah untuk bermanuver.
Keduanya tidak mampu melepaskan operan akurat karena sejak di lini tengah mampu diredam duet gelandang Prancis, N’Golo Kante dan Blaise Matuidi. Prancis juga menerapkan sistem "low block" yang memaksa Belgia hanya bisa memainkan bola yang bukan gaya mereka sama sekali.
Namun, belakangan terungkap problem terbesar Belgia saat itu adalah ego setiap pemain. Mereka seolah berusaha menonjolkan kemampuan individu dan bukan bermain sebagai kesatuan dalam tim. Konflik internal di antara pemain maupun dengan pelatih juga menambah buruk kondisi tim.