TVRINews - Buenos Aires, Argentina

Isu cuaca panas dan jarak menurut Scaloni adalah faktor yang layak dibicarakan. Namun, ia tidak punya pilihan selain beradaptasi karena semua tim akan menghadapi tantangan yang sama di Piala Dunia 2026.

Setelah menorehkan sejarah pada Piala Dunia 2022 di Qatar, pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, kini menatap tantangan baru: mempertahankan identitas juara dunia di Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim dan digelar di tiga negara: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Dalam wawancara bagian kedua yang merupakan akhir dari serial wawancara ini, Scaloni berbicara lebih dalam tentang kenangan emosional di Qatar, tantangan teknis menuju 2026, serta perkembangan para pemain kunci selain Lionel Messi seperti Enzo Fernandez, Cristian Romero, hingga talenta muda seperti Franco Mastantuono. Berikut wawancaranya, dikutip dari Flashscore.com:

Jika Anda merangkum Piala Dunia 2022 dari sudut pandang ruang ganti dan momen setelah Argentina menjadi juara, gambaran apa yang paling kuat tertanam di benak Anda? Dengan berjalannya waktu, apa yang paling Anda kenang dari pencapaian sebesar itu?

Ruang ganti selalu menyisakan momen-momen yang tidak akan pernah hilang. Ada momen yang mungkin akan Anda ceritakan kembali 30 atau 40 tahun mendatang. Bagi saya, salah satu yang paling membekas justru bukan di ruang ganti, tetapi di lapangan.

Saya duduk di bangku cadangan dan melihat semua orang yang menjadi bagian dari perjalanan di Qatar berlari ke sana kemari, saling berpelukan, tanpa tahu harus menuju ke mana. 

Selama sekitar 30 atau 40 detik saya hanya duduk dan memperhatikan. Saya menyadari bahwa kami sedang mengalami sesuatu yang sangat langka dalam hidup.

Hal yang sama saya rasakan ketika kami menjuarai Copa America 2021. Momen ketika semua orang berlari tanpa arah, hanya mengikuti emosi. Itu adalah detik-detik yang akan tinggal bersama saya selamanya.


Selanjutnya kita bicara soal Piala Dunia 2026 yang akan diikuti 48 tim dan digelar di tiga negara berbeda. Dari sudut pandang teknis dan logistik, bagaimana Anda melihat tantangan ini dibanding edisi sebelumnya?

Pertama-tama, jumlah tim yang lebih banyak tentu mengubah dinamika kompetisi. Selain itu, turnamen ini akan dimainkan di tiga negara dengan perbedaan waktu yang signifikan, serta kondisi cuaca yang kemungkinan cukup ekstrem di beberapa kota.

Isu cuaca panas dan jarak perjalanan adalah faktor yang menurut saya layak dibicarakan. Namun, pada akhirnya kita mungkin tidak punya banyak pilihan selain beradaptasi. Semua tim akan menghadapi tantangan yang sama.

Piala Dunia selalu sulit. Apalagi kali ini ada tambahan faktor eksternal seperti perjalanan panjang dan perubahan zona waktu. Kami harus merencanakan semuanya secara detail.

Banyak yang berpendapat bahwa Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah akan memanfaatkan turnamen ini secara maksimal dari sisi organisasi dan komersial. Bagaimana pandangan Anda?

Piala Dunia 2022 Qatar memberikan pengalaman unik karena hampir semua pertandingan berada di satu area yang relatif dekat. Bagi suporter, itu sangat memudahkan mobilitas. Sedangkan di Piala Dunia 2026, dengan jarak yang jauh dan perbedaan waktu yang besar, saya rasa tantangan terbesar justru ada pada para suporter. 

Namun, Amerika Serikat memiliki pengalaman luar biasa dalam menyelenggarakan event besar. Mereka selalu mampu mengambil sisi positif dari situasi apa pun. Yang terpenting adalah para suporter bisa menikmati turnamen ini, karena tanpa mereka, sepak bola kehilangan maknanya.

Beralih ke skuat Argentina. Selain Messi, Anda juga memiliki banyak pemain potensial. Bagaimana Anda melihat perkembangan Enzo Fernandez di Liga Inggris, terutama dalam konteks menuju Piala Dunia 2026?

Adaptasinya sudah selesai. Dia sekarang pemain yang matang. Dia bermain di liga paling kompetitif di dunia dan mempertahankan level tinggi secara konsisten.

Dia memiliki pelatih yang memahami karakter permainannya dan memberi kebebasan untuk berkembang. Kami menghargai fakta bahwa dia menjadi pemain penting di klub besar seperti Chelsea. Itu menunjukkan kapasitasnya.

Apakah tekanan di klub besar membantu perannya di tim nasional?

Tentu. Menjadi juara dunia dan bahkan dipercaya mengenakan ban kapten menunjukkan dia mampu menghadapi tekanan.

Pemain seperti Enzo sudah terbiasa dengan tekanan sejak usia sangat muda. Tekanan bukan sesuatu yang menakutkan bagi mereka. Justru saya melihat dia semakin nyaman dalam situasi seperti itu.

Bagaimana Anda menilai evolusi Nico Paz yang bermain di Italia bersama Como, di bawah arahan Cesc Fabregas?

Kami mengikuti perkembangannya secara cermat. Fabregas memainkan sepak bola yang sejalan dengan filosofi kami. Nico memiliki peran sentral dalam skema timnya. 

Dia pemain yang sangat lengkap: kuat secara fisik, disiplin dalam bertahan, dan punya visi menyerang yang jelas. Namun, kita harus bersabar. Dia baru memulai karier profesionalnya dan masih punya ruang besar untuk berkembang.

Franco Mastantuono mengambil langkah besar dengan bergabung ke Real Madrid di usia sangat muda. Bagaimana Anda melihat prosesnya?

Dia sangat muda, bahkan lebih muda dari Nico. Pindah ke klub sebesar Real Madrid adalah lompatan luar biasa. Yang penting adalah prosesnya dijaga dengan benar. Klub menyadari usianya dan akan membimbingnya secara bertahap.

Kami percaya pada potensinya. Tetapi, kami juga tidak ingin membebani pemain muda terlalu cepat. Semuanya harus sesuai waktu.

Tentang Cristian Romero yang memperpanjang kontraknya di Tottenham Hostpur, bagaimana Anda menilai keputusan itu?

Perpanjangan kontrak memberinya stabilitas. Dia sempat mengalami masalah fisik, tetapi kini kembali ke performa terbaiknya. Kepercayaan klub terhadapnya sangat penting bagi mentalitas dan kontinuitas permainannya.

Kepindahan Rodrigo De Paul ke MLS (Inter Miami) memunculkan perdebatan. Apakah Anda terlibat dalam keputusan itu?

Kami tidak pernah mencampuri keputusan transfer pemain. Itu menyangkut keluarga, emosi, dan banyak aspek pribadi. Yang kami nilai adalah performanya. Selama dia mempertahankan levelnya, dia tetap menjadi bagian penting tim ini.

Apakah Anda tergoda memanggil kembali kiper senior Franco Armani?

Saya sangat menghargai Franco. Apa yang dia berikan untuk tim ini luar biasa. Namun, dia sudah menyatakan sikapnya bahwa waktunya di timnas telah selesai, dan kami menghormati itu. Ketika pemain membuat keputusan sebesar itu, sulit untuk mengubahnya.

Terakhir, setelah kualifikasi selesai dan Argentina kembali menunjukkan statusnya sebagai juara dunia, pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada rakyat Argentina dan pencinta sepak bola dunia menjelang Piala Dunia 2026?

Banyak yang mungkin berpikir babak kualifikasi Zona CONMEBOL itu mudah karena kami finis pertama. Tapi, saya bisa memastikan, itu tidak mudah sama sekali. Ada momen-momen yang sangat sulit, pertandingan yang rumit, tekanan yang besar. Kami lolos dengan cara yang beberapa tahun lalu mungkin sulit dibayangkan.

Pesan saya sederhana: kami akan terus berjuang dan bersaing. Hasil kadang bisa berbeda, tapi semangat untuk berkompetisi dan membawa kebahagiaan bagi negara akan selalu ada.