Kaus keluaran Nike yang dikenakan Kylian Mbappe (Prancis), Fede Valverde (Uruguai), dan Michael Olise (Prancis) memiliki satu kesamaan, yaitu bagian bahu yang menonjol. (TVRI/Grafis/Dede Mauladi) Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi
TVRINews – London, Inggris
Nike menyadari adanya jahitan aneh pada beberapa kaus baru tim-tim Piala Dunia 2026 tersebut dan sedang mencari cara untuk mengatasinya.
Ketika Nike meluncurkan koleksi seragam Piala Dunia pada Maret lalu, para penggemar sepak bola dan pengamat sama-sama antusias serta tidak meragukan hasil desain perusahaan olahraga asal Oregon, Amerika Serikat (AS) itu.
Tim nasional pria AS mendapatkan seragam yang bisa dibilang paling khas dalam beberapa dekade. Sementara, tim nasional beberapa negara lain yang memakai Nike – di antaranya Prancis, Inggris, Kanada, dan Uruguai – juga mendapatkan ulasan yang bagus.
Kesempatan untuk melihat jersei terbaru tim-tim untuk Piala Dunia 2026 akhirnya ada selama jeda internasional terakhir, 27 sampai 31 Maret lalu, ketika para pemain turun ke lapangan dengan seragam tersebut untuk pertama kalinya.
Namun, saat itu pula banyak penggemar terpaku pada satu detail unik dari seragam baru tim-tim tersebut, yakni tonjolan yang agak tidak sedap dipandang di sepanjang jahitan bahu.
Pada beberapa jersei – seperti seragam kandang yang bergaris milik AS – tonjolan tersebut hampir tidak terlihat. Namun hal berbeda terlihat di kaus tim-tim lainnya.
Jersei elegan dan sederhana yang dikenakan oleh megabintang Prancis Kylian Mbappe jadi terlihat lucu sekaligus aneh akibat tonjolan di bagian bahu tersebut.
Beberapa pemain Uruguai dalam pertandingan persahabatan melawan Inggris, termasuk sang kapten Federico Valverde, mungkin yang paling jelas di antara semuanya. Membuat mereka terlihat sedikit seperti Shredder, sosok penjahat dalam film dan komik Teenage Mutant Ninja Turtles.
Di media sosial dan internet, para penggemar yang sudah membeli jersei juga melaporkan masalah serupa. Beberapa mengatakan mereka berhasil mengatasi masalah itu dengan menggunakan setrika uap, atau mencuci jersei sebelum memakainya.
Yang lain, seperti seorang penggemar Kanada, jauh lebih marah. Menurutnya, cara jahitan bahu membuat bagian tersebut menggumpal seperti ini.
“Saya pikir mungkin akan berhasil jika bahu Anda sempit. Tetapi bahu saya lebih lebar dan tidak ada cara untuk mencegah garis bahu ini menggumpal. Ini desain yang sangat bodoh,” kata sang penggemar.
Bagi penggemar yang sudah membayar antara 100 dolar AS hingga 200 dolar AS (sekitar Rp1,7 juta sampai Rp3,4 juta) untuk salah satu kaus tersebut, ini jelas masalah yang signifikan.
Begitu juga bagi federasi dan atlet yang ingin tampil terbaik di acara olahraga paling populer di dunia. Beberapa bertanya-tanya apakah ada yang memperhatikan hal ini di Nike? Ternyata mereka memperhatikan.
Nike mengakui masalah pada bagian bahu, dan mengatakan mereka sedang menyelidiki apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya – jika ada.
“Selama jeda internasional baru-baru ini, kami mengamati masalah kecil pada seragam tim nasional Nike kami, yang paling terlihat di sekitar jahitan bahu,” kata perusahaan tersebut melalui juru bicara.
“Performa tidak terpengaruh, tetapi estetika keseluruhan tidak sesuai harapan,” kata sang juru bicara kepada media Inggris, Guardian.
Piala Dunia yang dimainkan di AS, Kanada, dan Meksiko, pada musim panas nanti mungkin termasuk yang terpanas dalam sejarah turnamen. Itulah mengapa Nike merilis jersei dengan desain berteknologi tinggi yang disebut Aero-FIT.
“Aero-FIT memanfaatkan desain komputasional dan proses rajutan khusus yang sangat terspesialisasi untuk membantu atlet tetap sejuk,” demikian bunyi materi pemasaran perusahaan tersebut.
Sebuah sumber yang mengetahui proses desain tersebut mengungkapkan bahwa desain komputasional Nike didorong oleh data kinerja, dan menggabungkan elemen kecerdasan buatan (AI) untuk bekerja bersama para desainer perusahaan saat mereka membuat produk.
Sebuah sumber yang mengetahui peluncuran Nike mengatakan bahwa perusahaan tersebut sekarang sedang berdiskusi dengan federasi dan vendor mitra saat mereka mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Masih harus dilihat apakah seragam tersebut akan didesain ulang dengan cara tertentu, dan apa – jika ada – solusi yang akan diberikan kepada penggemar yang tidak puas dengan kaus tersebut.
Dalam kedua kasus tersebut, memperbaiki masalah akan membutuhkan upaya logistik yang sangat besar, baik karena waktu yang singkat menjelang Piala Dunia yang akan dimulai dalam waktu kurang lebih dua bulan, dan karena jumlah jersei yang telah terjual.
“Kami selalu menetapkan standar tertinggi untuk diri kami sendiri dan produk kami, dan ini mengecewakan,” kata perusahaan tersebut dalam pernyataannya.
“Kami sedang bekerja cepat untuk memperbaikinya demi para pemain dan penggemar, karena setiap seragam harus mencerminkan perhatian, ketelitian, dan kebanggaan yang pantas diterima oleh olahraga ini.”
Nike telah memproduksi perlengkapan sepak bola sejak tahun 1979, ketika mereka menyediakan perlengkapan untuk tim Portland Timbers dari Liga Sepak Bola Amerika Utara (NASL) yang sekarang sudah bubar.
Nike lantas memasuki pasar Eropa pada tahun 1983, ketika bermitra dengan Sunderland dan meluncurkan seragam tim nasional pertama pada tahun 1994 untuk Nigeria yang hanya digunakan sekali, dalam pertandingan persahabatan melawan Inggris.
Pada tahun 1995, Nike telah memperluas operasi tersebut untuk mencakup banyak tim nasional lainnya termasuk AS, yang telah menggunakan Nike sejak saat itu, dan akan tetap bersama mereka setidaknya hingga 2033, ketika perjanjian jangka panjang mereka saat ini berakhir.