TVRINews - Jakarta

Didier Deschamps berhasil membentuk kembali kekuatan Timnas Prancis hingga menjuarai Piala Dunia 2018.

Timnas Prancis datang ke Piala Dunia 2018 dengan kekuatan terbaiknya. Skuad asuhan Didier Deschamps bertekad menebus luka setelah gagal mengangkat trofi di EURO 2016 yang digelar di kandang sendiri.

Banyak yang percaya Deschamps adalah sosok yang tepat untuk menghidupkan kembali kejayaan Prancis. Setelah era generasi emas mereka runtuh usai kalah di final Piala Dunia 2006 dari Italia, performa tim berjuluk Les Bleus sempat terpuruk, mulai dari EURO 2008, Piala Dunia 2010, hingga EURO 2012.

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) menunjuk Deschamps sebagai pelatih pada 2012. Dua tahun berselang, ia mampu memberi harapan kepada para penggemar karena membawa tim asuhannya melangkah hingga ke perempat final Piala Dunia 2014.

Setelah kalah dari Portugal di final EURO 2016, target Deschamps berikutnya adalah Piala Dunia 2018 yang dihelat di Rusia. Sejak dari kualifikasi, Les Bleus menunjukkan penampilan yang bagus. Mereka memuncaki klasemen Grup A dengan raihan 23 poin hasil dari tujuh kemenangan, dua imbang, dan sekali kalah.

Deschamps mengambil keputusan berani saat menetapkan nama pemain yang dibawa ke Rusia. Ia menyatukan Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Nabil Fekir yang masih berusia muda dengan nama-nama berpengalaman seperti Hugo Lloris, N'Golo Kante, Paul Pogba, dan Antoine Griezmann.

Keputusan kapten Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998 itu tepat. Tergabung ke dalam Grup C Piala Dunia 2018, Les Bleus sudah bisa memastikan tiket ke babak 16 besar dengan memenangkan dua pertandingan awal melawan Australia dan Peru. Pada laga terakhir menghadapi Denmark, Deschamps melakukan rotasi dan hasilnya imbang tanpa gol.

Prancis menjadi mimpi buruk bagi dua wakil Conmebol, Argentina dan Urugai. Argentina mereka kalahkan di babak 16 besar dengan skor 4-3, sementara Uruguai dipulangkan setelah kalah 2-0 di perempat final.

Melaju ke semifinal, Prancis ditantang oleh Belgia. Kedua tim sama-sama memiliki generasi emas. Gol Samuel Umtiti pada menit ke-51 yang memastikan Les Bleus melangkah ke final menghadapi Kroasia.

Pada partai final, Prancis mampu mengalahkan Kroasia dengan skor 4-2. Kemenangan tersebut memastikan Prancis meraih gelar juara dunia untuk kedua kalinya sekaligus menjadi pembuktian Deschamps mampu membawa Les Bleus bangkit.

Pujian untuk Deschamps

Keberhasilan Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 membuat Deschamps masuk ke dalam buku sejarah sepak bola dunia. Ia menjadi orang ketiga yang mampu memenangi turnamen bergengsi ini sebagai pemain dan pelatih setelah Mario Zagallo (Brasil) dan Franz Beckenbauer (Jerman).

Gelandang Prancis di Piala Dunia 2018, Steven Nzonzi, mengatakan Deschamps tak membentuk tim untuk bermain indah dan mendominasi sepanjang laga agar para penonton terhibur. Yang terpenting baginya adalah bagaimana merebut kemenangan meski hanya mencetak satu gol.

"Salah satu kekuatan terbesarnya adalah sisi kompetitifnya. Itu sesuatu yang bisa dirasakan semua orang. Dengan kata lain, kami memiliki seorang pelatih yang ada di sana untuk menang, bukan untuk menyenangkan siapa pun," tutur Nzonzi, dikutip dari laman resmi FIFA.

"Ia benar-benar ingin menang. Saya belum pernah bertemu banyak orang dalam karier saya yang memiliki tingkat daya saing sepertinya. Itu ada dalam DNA-nya dan merupakan sesuatu yang hanya dimiliki sedikit orang," imbuhnya.

Keberhasilan Les Bleus di Rusia menjadi puncak dari proses yang dibangun Deschamps sejak 2012. Ia tidak hanya membangun tim yang bertalenta, tetapi juga tim yang solid, disiplin, dan memiliki mental juara.

"Ia tahu cara mengelola tim dengan sangat baik, yang merupakan salah satu kekuatannya yang lain. Ia dekat dengan para pemain dan bisa bercanda, tapi ia juga tahu cara mendapatkan rasa hormat. Kami tahu kapan waktunya untuk bekerja, serius, dan menang," ujar Nzonzi.