TVRINews - New York, Amerika Serikat

FIFA memiliki aturan ketat soal siapa saja yang boleh menyentuh trofi Piala Dunia asli tanpa sarung tangan. Berikut sejarah dan alasan di balik protokol tersebut.

Trofi Piala Dunia FIFA menjadi salah satu benda paling berharga dalam dunia sepak bola. Namun, di balik kemegahan trofi emas tersebut, terdapat aturan ketat yang membuat tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menyentuhnya, bahkan pemain dan pelatih sekalipun.

FIFA menerapkan protokol khusus mengenai siapa saja yang boleh memegang trofi Piala Dunia asli tanpa menggunakan sarung tangan. Aturan tersebut dibuat untuk menjaga keamanan, kondisi fisik, serta nilai sejarah dari trofi yang tidak tergantikan itu. 

Berikut lima penjelasannya, dikutip dari AS jelang final Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Spanyol:

1. Hanya Juara Dunia dan Pejabat Tertentu yang Boleh Menyentuh

Menurut aturan FIFA, hanya pemain dan staf pelatih dari tim juara dunia, kepala negara, serta sejumlah pejabat tinggi FIFA yang memiliki hak untuk memegang trofi asli tanpa sarung tangan.

Setelah pertandingan final berakhir, para pemain, pelatih, dan staf kepelatihan dari negara pemenang memang diperbolehkan mengangkat serta merayakan kemenangan bersama trofi tersebut. Namun, kesempatan itu hanya berlangsung dalam momen perayaan resmi di stadion.

Selain sang juara, presiden atau kepala pemerintahan dari negara pemenang juga memiliki hak untuk menyentuh trofi karena alasan protokol diplomatik. Aturan ini mulai diterapkan setelah Piala Dunia 1974 di Jerman.

2. Trofi Asli Tidak Diserahkan kepada Juara

Meski berhasil menjadi juara dunia, sebuah negara tidak akan membawa pulang Trofi Piala Dunia asli secara permanen. FIFA tetap menyimpan trofi tersebut dalam koleksinya dan memberikan replika berlapis emas kepada sang juara.

Trofi asli hanya diberikan kepada pemenang pada saat seremoni penyerahan medali setelah final. Setelah pesta kemenangan di stadion selesai, FIFA akan kembali mengambil trofi tersebut dan menyerahkannya kepada juara dalam bentuk replika.

Sejak 2005, aturan FIFA semakin diperketat. Trofi asli hanya boleh berada di tangan juara dunia dalam momen resmi penyerahan gelar, sementara seluruh kegiatan promosi, perjalanan, dan acara lainnya menggunakan replika.

3. Mengapa Harus Memakai Sarung Tangan?

Bagi orang-orang di luar kelompok yang memiliki hak khusus, menyentuh trofi Piala Dunia asli wajib dilakukan menggunakan sarung tangan. Aturan ini berlaku dalam berbagai kegiatan, termasuk saat trofi dibawa dalam tur dunia, dipamerkan, maupun digunakan dalam acara pembukaan dan final turnamen.

FIFA menerapkan aturan tersebut karena trofi merupakan benda bersejarah yang sangat sulit digantikan. Perlindungan terhadap trofi juga berkaitan dengan faktor keamanan setelah sejarah kelam yang pernah terjadi pada trofi lama Piala Dunia.

Trofi Jules Rimet, pendahulu trofi Piala Dunia saat ini, pernah mengalami pencurian sebanyak dua kali. Kasus terakhir terjadi pada 1983 ketika trofi tersebut hilang di Brasil dan tidak pernah ditemukan kembali. Peristiwa itu membuat FIFA memperketat sistem keamanan terhadap trofi baru.

4. Juara Bertahan Pun Tidak Selalu Bisa Menyentuh Trofi

Bahkan status sebagai juara dunia sebelumnya tidak otomatis memberikan seseorang hak untuk menyentuh trofi asli kapan saja.

Hal itu pernah dialami pelatih Argentina, Lionel Scaloni, yang membawa negaranya menjadi juara Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat menghadiri undian Piala Dunia 2026 bersama Presiden FIFA Gianni Infantino, Scaloni harus mengenakan sarung tangan ketika membantu menempatkan trofi dalam acara tersebut.

Infantino bahkan sempat meminta maaf kepada Scaloni karena aturan FIFA tetap berlaku meskipun dirinya adalah pelatih yang baru saja mengangkat trofi tersebut.

5. Mitos Sial Menyentuh Trofi Sebelum Final

Selain aturan resmi FIFA, terdapat pula kepercayaan populer di dunia sepak bola bahwa menyentuh trofi Piala Dunia sebelum pertandingan final dapat membawa kesialan.

Menurut mitos tersebut, pemain atau tim yang menyentuh trofi sebelum memastikan gelar juara berisiko gagal memenangkan pertandingan puncak. Meski beberapa pemain pernah melanggar kepercayaan ini dan tetap menjadi juara, banyak pula contoh yang membuat mitos tersebut terus dipercaya oleh para penggemar.

Bagi banyak pemain, trofi Piala Dunia bukan hanya sekadar simbol kemenangan, tetapi juga lambang perjuangan selama bertahun-tahun. Karena itu, FIFA menjaga trofi tersebut dengan aturan yang sangat ketat agar nilai sejarahnya tetap terjaga untuk generasi berikutnya.