TVRINews – New Jersey, Amerika Serikat

La Roja mematikan pergerakan dan membuat Argentina frustrasi saat mereka memastikan kemenangan di New Jersey untuk meraih gelar juara Piala Dunia kedua mereka.

Tiga puluh lima hari yang lalu, Spanyol mengawali kiprah mereka di Piala Dunia 2026 dengan hasil imbang tanpa gol yang mengecewakan saat menghadapi tim debutan turnamen, Tanjung Hijau, di laga pertama Grup H. 

Pada hari Minggu (19/7/2026), La Roja menutup perjalanan tersebut dengan mengangkat trofi Piala Dunia, setelah mengalahkan juara bertahan Argentina di partai final yang berlangsung di New Jersey, Amerika Serikat.

Skuad muda asuhan Luis de la Fuente menunjukkan peningkatan pesat seiring berjalannya turnamen. Mereka perlahan meningkatkan performa saat melewati fase gugur hingga akhirnya keluar sebagai pemenang dalam laga puncak tersebut.

Spanyol hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen dan mempertahankan rekor tidak terkalahkan, yang kini telah mencapai angka luar biasa, yakni 38 pertandingan.

Puncaknya adalah penampilan dominan La Roja di laga final. Rodri dan kawan-kawan menguasai jalannya pertandingan sekaligus mematikan ancaman serangan dari kubu Argentina.

Berikut ulasan mengenai bagaimana Spanyol berhasil merebut gelar juara Piala Dunia untuk kedua kalinya, setelah 2010.

Percaya Pemain Muda sebagai Masa Depan Tim

Spanyol berada di posisi keenam daftar skuad termuda dari 48 tim yang berkompetisi di Piala Dunia 2026 dengan usia rata-rata 26,19 tahun. Hanya enam pemain yang berusia di atas 30 tahun di skuad De la Fuente.

Bandingkan dengan Brasil, misalnya, yang memiliki 11 pemain berusia di atas 30 tahun dan usia rata-rata 28,65 tahun.

La Roja jelas lebih memilih pemain muda dibandingkan pemain berpengalaman, dan itu terbukti keputusan yang tepat. Beberapa pemain terbaik mereka masih remaja. Bek tengah Pau Cubarsi dan winger Lamine Yamal, misalnya, sama-sama berusia 19 tahun.

Nico Williams, yang memberikan assist untuk gol kemenangan di partai final, berusia 24 tahun. Sementara gelandang FC Barcelona, Pedri, berusia 23 tahun.

Awal yang Lambat Jadi Pelajaran Berharga

Spanyol memulai kampanye Piala Dunia mereka di Atlanta, menghadapi tim debutan Tanjung Hijau pada 15 Juni lalu.

Namun, juara Eropa itu gagal menembus pertahanan tim debutan asal Afrika itu menyusul performa impresif kiper Vozinha. Kedua tim pun mengakhiri laga tanpa gol. 

Itu adalah salah satu hasil paling mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia, dan membuat banyak orang mempertanyakan peluang Spanyol di turnamen ini.

Terlepas dari semua perbincangan, Spanyol kemudian dengan mudah melewati Arab Saudi di pertandingan grup berikutnya sebelum mengalahkan Uruguai 1-0 di Guadalajara, Meksiko.

Sang juara akhirnya dengan mudah melewati Austria di pertandingan babak 32 besar, tetapi kemudian membutuhkan ketangguhan dan tekad yang nyata untuk melewati dua pertandingan babak gugur berikutnya.

Pemain pengganti super, Mikel Merino, masuk dari bangku cadangan melawan Portugal dan Belgia untuk mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir bagi La Roja dan mengamankan tempat mereka di semifinal.

Pelajaran dan analisis hasil La Roja dari fase grup hingga semifinal salah satunya adalah munculnya Merino sebagai striker alternatif jika penyerang utama Mikel Oyarzabal mengalami kebuntuan. 

Tidak Bergantung pada Lamine Yamal

Kemenangan Spanyol 2-1 atas Belgia di perempat final adalah pertandingan lain di turnamen ini dengan Yamal gagal mencetak gol.

Saat ditanya tentang hal ini setelah pertandingan, ia dengan tenang mengatakan bahwa tidak akan ada yang akan mengingat apakah dirinya mencetak gol atau tidak, jika Spanyol mengangkat trofi. Yamal benar.

Oyarzabal memimpin dengan lima gol untuk Spanyol di Amerika Utara, dengan anggota skuad lainnya juga berkontribusi. Merino dan Pedro Porro masing-masing mencetak dua gol, sedangkan Ferran Torres mencetak gol penting yang membawa Spanyol memenangi Piala Dunia.

Meskipun hanya mencetak satu gol dan tanpa assist, Yamal tetap menjadi pemain kunci bagi La Roja pada turnamen di Amerika Utara.

Dia tampil di setiap pertandingan dan dianugerahi pemain terbaik pertandingan atas penampilannya melawan Belgia di perempat final. Kemudian dia memenangi penalti saat Spanyol membuka skor melawan Prancis di semifinal di Dallas.

La Roja Meledak di Semifinal

Setelah melaju mulus di tiga pertandingan babak gugur pertama, Prancis menjadi favorit kuat untuk melaju hingga final di turnamen ini. Namun, Spanyol memiliki rencana lain.

Pelatih De la Fuente menampilkan taktik brilian di semifinal melawan Les Bleus, menetralisasi ancaman salah satu tim penyerang terkuat di dunia sepak bola dalam kemenangan 2-0 yang gemilang.

Tiga gelandang Spanyol: Dani Olmo, Rodri, dan Fabian Ruiz, mampu mendominasi penguasaan bola dan mengendalikan tempo permainan sejak awal. Ketiganya berhasil membuat gelandang Prancis, Aurelien Tchouameni dan Adrien Rabiot sangat kesulitan.

Dominasi La Roja di lini tengah memastikan Prancis tidak mampu menyalurkan umpan-umpan matang kepada para penyerang bintang Les Bleus yang begitu ditakuti yakni, Ousmane Dembele, Kylian Mbappe, dan Michael Olise.

La Roja berhasil menggempur lawan mereka dengan unggul di pertengahan babak pertama dan terus menekan untuk mencetak gol kedua.

Mereka tidak pernah membiarkan Prancis mendapatkan pijakan dalam permainan, membatasi mereka hanya pada tembakan-tembakan dari luar kotak penalti.

Mendominasi Pertandingan Final

Seusai menyingkirkan Prancis, Spanyol tetap mempertahankan susunan pemain inti yang sama untuk laga final hari Minggu menghadapi Argentina. Siapa yang bisa menyalahkan keputusan mereka? 

Spanyol ternyata menerapkan strategi yang sama seperti saat semifinal, yakni menguasai bola dan membuat Argentina—lawan yang di atas kertas tidak semengerikan Prancis dalam hal serangan—frustrasi. 

Dipaksa bermain dengan garis pertahanan sangat dalam, Argentina hanya mampu melepaskan dua tembakan sepanjang 120 menit pertandingan, tanpa satu pun yang mengarah tepat ke gawang.

Spanyol mencatatkan penguasaan bola sebesar 65 persen dan menguras tenaga serta mental lawan mereka yang berasal dari Amerika Selatan tersebut.

Frustrasi Argentina memuncak pada masa tambahan waktu babak kedua ketika Enzo Fernandez melakukan tekel terlambat terhadap Cubarsi; tindakan itu membuat lawannya terpelanting ke udara dan berujung pada kartu kuning kedua baginya.

Spanyol, yang telah memasukkan pemain-pemain seperti Pedri, Williams, dan Torres dari bangku cadangan, terus mendominasi permainan dan akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-106 lewat tembakan keras Torres yang menghujam bagian atas jaring gawang.