Ilustrasi laga Amerika Serikat vs Iran di Piala Dunia 1998 Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda
TVRINews - Lyon, Prancis
Jika pada 1998 bola bisa menghentikan kebencian sejenak, hari ini dentuman meriam memastikan bahwa tidak ada lagi ruang untuk bersalaman di tengah lapangan.
Fajar di Teheran tak lagi membawa ketenangan, melainkan bau mesiu dan kepulan asap hitam yang membubung tinggi. Langit Iran koyak oleh serangan udara masif yang dilancarkan koalisi Amerika Serikat dan Israel, sebuah operasi militer kilat yang mengubah peta geopolitik dunia.
Kabar duka itu menjalar cepat ke seluruh penjuru bumi. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Di tengah dentuman rudal yang meruntuhkan beton-beton kekuasaan, ingatan kolektif kemanusiaan seolah dipaksa memutar kembali pita rekaman lama yang berdebu.
Dunia mendadak teringat pada sebuah malam di Stade de Gerland, Lyon, 21 Juni 1998. Saat itu, bukan jet tempur yang melintas di langit, melainkan harapan tipis tentang perdamaian yang disatukan oleh sebuah bola sepak di atas rumput hijau Prancis.
Piala Dunia 1998 mempertemukan dua musuh bebuyutan dalam sebuah drama yang dijuluki sebagai "pertandingan paling bermuatan politik dalam sejarah." Sejak Revolusi Islam 1979, hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran telah membeku layaknya tundra di kutub utara.
Ketegangan mencapai puncaknya sesaat sebelum sepak mula. Banyak pihak khawatir tribune stadion akan berubah menjadi ring tinju ideologi, atau bahkan sasaran terorisme. Namun, apa yang terjadi di lorong pemain justru membalikkan semua prediksi gelap para analis politik.
Sesuai protokol FIFA, tim B seharusnya berjalan menghampiri tim A untuk bersalaman. Namun, karena regulasi tersebut dianggap sensitif secara politik bagi Iran, para pemain Amerika Serikat dengan besar hati setuju untuk melangkah lebih dulu menghampiri lawan mereka.
Di tengah lapangan, para pemain Iran tidak menggenggam senjata, melainkan buket mawar putih. Bunga-bunga itu diberikan kepada para pemain Amerika Serikat sebagai simbol persahabatan, sebuah gestur yang seketika mencairkan kekakuan di hadapan jutaan pasang mata penonton dunia.
Mereka kemudian berbaur, berdiri berdampingan dalam satu bingkai foto skuad yang ikonik. Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Malam itu, Lyon sejenak menjadi wilayah netral di mana ideologi tunduk pada aturan main sepak bola yang universal.
Pertandingan pun dimulai dengan intensitas yang luar biasa. Iran tampil dengan determinasi tinggi, sementara Amerika Serikat menggempur lewat serangan balik yang cepat. Stadion bergemuruh setiap kali bola mendekati area penalti, menciptakan atmosfer yang mencekam sekaligus magis.
Hamid Estili memecah kebuntuan lewat sundulan kepala yang membuat jala gawang Amerika Serikat bergetar pada menit ke-40. Tangis haru pecah di bangku cadangan Iran. Gol itu bukan sekadar angka di papan skor, melainkan katarsis bagi sebuah bangsa yang merasa terisolasi selama berdekade-dekade.
Memasuki babak kedua tepatnya menit ke-84, Mehdi Mahdavikia menggandakan keunggulan lewat skema serangan balik yang mematikan. Ia berlari kencang, meninggalkan para bek Amerika Serikat, untuk menaklukkan kiper Kasey Keller dengan ketenangan seorang eksekutor ulung.
Amerika Serikat sempat memperkecil ketertinggalan melalui Brian McBride pada menit ke-89, namun hingga peluit panjang berbunyi, skor 2-1 tetap bertahan untuk kemenangan Iran. Di jalanan Teheran kala itu, rakyat tumpah ruah merayakan kemenangan yang mereka anggap sebagai mukjizat.
Namun, yang paling dikenang bukanlah skor akhir, melainkan apa yang terjadi setelah laga usai. Para pemain kedua tim saling bertukar jersei, berpelukan, dan berbincang kecil seolah-olah perang dingin di tingkat elite tidak pernah ada di antara mereka.
Jeff Agoos, bek Amerika saat itu, pernah berkata bahwa mereka melakukan lebih banyak hal untuk perdamaian dalam 90 menit daripada yang dilakukan para politisi selama 20 tahun. Sepak bola telah menjadi bahasa perantara yang paling jujur.
Kini, 28 tahun berlalu sejak malam bersejarah di Lyon, mawar putih itu telah layu dan hangus terbakar. Realitas hari ini jauh lebih pahit daripada kekalahan di lapangan hijau; rudal-rudal koalisi telah menggantikan buket bunga yang dulu dibawa Hamid Estili dan kawan-kawan.
Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara Amerika dan Israel menandai berakhirnya era diplomasi lunak. Langit yang dulu tenang di atas stadion-stadion Prancis kini digantikan oleh zona larangan terbang yang mencekam di atas wilayah Timur Tengah.
Stade de Gerland mungkin masih berdiri tegak sebagai monumen sejarah, tapi semangat yang dipahat oleh para pemain di sana terasa kian menjauh. Kemanusiaan yang pernah mekar di Lyon kini terkubur di bawah puing-puing bangunan yang hancur di Teheran.
Dunia menyaksikan dengan ngeri bagaimana olahraga tak lagi mampu membendung nafsu peperangan. Jika pada 1998 bola bisa menghentikan kebencian sejenak, hari ini dentuman meriam memastikan bahwa tidak ada lagi ruang untuk bersalaman di tengah lapangan.
Tragedi ini menjadi pengingat perdamaian adalah sesuatu yang sangat rapuh. Ia bisa dibangun dengan susah payah lewat simbol mawar dan sepak bola, namun bisa dihancurkan dalam hitungan detik lewat perintah serangan udara dari ruang komando yang dingin.
Malam ini, di saat api masih menjilat sisa-sisa markas besar di Iran, kemenangan 2-1 di Lyon 1998 hanyalah sebuah memoar pedih. Sebuah catatan tentang satu masa ketika manusia sempat mencoba untuk saling mencintai sebelum akhirnya memutuskan untuk saling membinasakan.