TVRINews - Los Angeles, Amerika Serikat

Ghalenoei menjamin tidak ada tim lain di dunia yang sanggup bertahan dan bermain apik dalam kondisi sesulit Iran.

Keberhasilan tim nasional Iran mencatatkan start tak terkalahkan dalam Piala Dunia 2026 diyakini bakal tertulis dengan tinta emas dalam sejarah olahraga mereka. Pelatih Amir Ghalenoei, menegaskan pencapaian tersebut terasa luar biasa karena diraih di tengah badai konflik perang, karut-marut masalah perjalanan, hingga minimnya waktu persiapan.

Setelah sukses menahan 2-2 Selandia Baru pada laga perdana Grup G, Iran kembali memetik satu poin krusial. Kali ini Team Melli bermain imbang tanpa gol dengan Belgia di Los Angeles Stadium, Senin (22/6/2026) dini hari WIB.

Belgia yang bermain dengan 10 orang karena Nathan Ngoy menerima kartu merah pada menit ke-66, tetap mendominasi jalannya pertandingan. Namun, Setan Merah tidak mampu mencetak gol karena rapatnya lini pertahanan Iran dan aksi heroik kiper Alireza Beiranvand yang melakukan sejumlah penyelamatan.

Ghalenoei mengingatkan hasil imbang tersebut tidak boleh dilihat sebelah mata tanpa berkaca pada besarnya penderitaan skuadnya. Faktor luar lapangan yang penuh tekanan diakui sangat menguras kondisi fisik dan mental anak asuhnya sebelum mentas di Piala Dunia 2026.

"Saya ingin mengajak Anda semua untuk melihat kembali kondisi kami pada enam bulan yang lalu. Kami berada dalam situasi perang selama enam bulan, bahkan kompetisi liga domestik kami sampai tidak bisa berjalan sama sekali," ujar Ghalenoei usai laga dikutip dari Reuters.

Masalah Iran tidak berhenti di sana karena keterlambatan visa, pembatasan ketat rute perjalanan, hingga pembatalan sepihak laga uji coba ikut mengacaukan program latihan. Persiapan tim juga kian rumit lantaran kondisi skuad yang terbelah antara pemain liga lokal dan mereka yang merumput di luar negeri.

"Banyak tim nasional negara lain yang membatalkan pertandingan uji coba yang seharusnya mereka mainkan melawan kami. Kami benar-benar datang ke Piala Dunia ini dengan kondisi terburuk yang mungkin dihadapi oleh sebuah tim," ucapnya.

Bahkan, Iran tercatat hanya memiliki waktu kurang dari 16 jam untuk berlatih taktikal bersama sebelum turun menantang kekuatan besar sekelas Belgia. Stamina mereka kini kembali diuji lewat jadwal transit yang menguras tenaga, di mana tim harus terbang ke Tijuana, Meksiko, sebelum bertolak ke Seattle untuk menghadapi Mesir pada laga terakhir grup 27 Juni mendatang.

Namun, rentetan ujian berat tersebut justru berhasil dibayar tuntas oleh semangat juang para pemain yang meledak-ledak di lapangan. Ghalenoei menilai keberhasilan terhindar dari kekalahan di dua laga awal adalah sebuah torehan yang sangat monumental bagi Iran.

"Saya pribadi tidak berpikir ada tim lain di dunia ini yang sanggup bertahan dalam kondisi sesulit kami dan tetap mampu bermain apik seperti ini," ungkapnya.

Secara khusus, Ghalenoei melayangkan apresiasi setinggi langit untuk performa luar biasa Beiranvand di bawah mistar gawang. Ia tanpa ragu menobatkan kiper berusia 33 tahun tersebut sebagai salah satu pilar terbaik yang pernah dimiliki Iran setelah sukses membukukan tujuh penyelamatan sepanjang laga.

"Semua pemain yang ada di dalam tim ini telah memberikan segalanya dan bermain dengan seluruh jiwa raga mereka di lapangan. Sejarah dan generasi masa depan sepak bola Iran dipastikan akan selalu mengingat perjuangan keras yang mereka tunjukkan hari ini," tuturnya.