Meskipun saat ini hooligan dalam sepak bola masih ada, khususnya Inggris, risiko keributan antarsuporter saat melawan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 tampaknya sudah diantisipasi. Foto: TVRI/Grafis/Yusuf
TVRINews – Atlanta, Amerika Serikat
Menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris melawan Argentina, tidak ada salahnya melihat kembali kiprah kelompok suporter fanatik Three Lions, hooligan.
Istilah “hooligan” pertama kali muncul dalam laporan Kepolisian Metropolitan London pada tahun 1898. Istilah ini muncul menyusul perkelahian jalanan antara dua geng yang bermusuhan.
Konon, beberapa anggota keluarga Irlandia bernama Hoolihan (atau Hooligan)—yang dikenal memiliki reputasi buruk dan perilaku yang kerap menimbulkan masalah—terlibat dalam bentrokan tersebut.
Setahun kemudian, seorang penulis bernama Clarence Rook menerbitkan buku berjudul The Hooligan Nights. Buku ini mengisahkan sosok Alf Hooligan, seorang penjahat muda dari kawasan kumuh London, yang sekaligus mengukuhkan nama keluarga tersebut sebagai sinonim bagi kejahatan jalanan.
Bentrokan pertama antarsuporter sepak bola Inggris terjadi pada tahun 1912 (dalam pertandingan antara Liverpool dan Manchester). Namun baru pada tahun 1960-an aksi hooligan mulai mendominasi laporan kepolisian di berbagai tabloid Inggris setiap akhir pekan. Bahkan, pada tahun 1980-an, mereka hampir sepenuhnya menguasai dunia sepak bola Inggris.
Maraknya geng-geng pemuda ini—yang biasa berkumpul untuk minum bir di bar sebelum melakukan perusakan stadion dan terlibat perkelahian dengan geng lawan—berlangsung hampir bersamaan dengan masa pemerintahan Perdana Menteri Margaret Thatcher di Inggris (1979–1990).
Sebagian pihak berpendapat bahwa salah satu penyebab muncul dan meluasnya budaya hooliganisme adalah tingginya angka pengangguran di Inggris pada masa itu, ketika tingkat pengangguran melampaui 13%, angka yang belum pernah tercatat lagi sejak masa Depresi Besar tahun 1929.
“Bagi kami, kekerasan adalah jalan hidup. Kehidupan geng menjadi satu-satunya pilihan bagi anak-anak muda karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan,” ujar Cass Pennant, pemimpin kelompok suporter West Ham pada masa itu sekaligus hooligan pertama yang dijatuhi hukuman pidana.
Tragedi Heysel dan Bentrok dengan Barra Brava di Piala Dunia 1986
Pada tanggal 29 Mei 1985, beberapa jam sebelum laga final Liga Champions (yang saat itu bernama Piala Champions) digelar di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, serangan yang dilakukan oleh hooligan Liverpool memicu aksi saling injak yang menewaskan 39 orang (sebagian besar pendukung Juventus) dan melukai lebih dari 600 orang.
Pertandingan final tetap berlangsung sesuai rencana, dengan kemenangan 1-0 bagi Juventus berkat tendangan penalti Michel Platini. UEFA menjatuhkan sanksi larangan berkompetisi di Eropa bagi Liverpool selama 10 tahun dan bagi klub-klub Inggris lainnya selama lima tahun.
Seusai kejadian tragis tersebut, PM Margaret Thatcher dengan tegas menyatakan bahwa sepak bola Inggris harus dibersihkan dari hooligan.
Di tengah kekhawatiran dunia terhadap hooligan usai peristiwa mengerikan yang tercatat dalam sejarah sebagai Tragedi Heysel tersebut, Piala Dunia di Meksiko pun tiba setahun kemudian.
Lalu sampailah pada salah satu pertandingan paling legendaris dalam sejarah sepak bola: Argentina melawan Inggris di perempat final pada tanggal 22 Juni 1986 di Stadion Azteca, Meksiko, yang diwarnai oleh dua gol ikonik Diego Maradona.
Namun, pada laga itu pun terjadi bentrokan antara barra brava Argentina dengan hooligan Inggris, sebuah pertandingan yang telah menjadi bagian dari mitologi tribune pendukung Argentina.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi hari itu di Mexico City? Aksi berlarian, lemparan botol dan batu, serta pencurian bendera—semua itu merupakan bagian dari bentrokan tersebut, namun kejadian itu bukanlah satu pertempuran tunggal. Konfrontasi itu melibatkan setidaknya tiga titik konflik.
Untuk pertandingan perempat final tersebut, yang dilangsungkan saat ingatan akan Perang Falklands masih sangat membekas, sebuah operasi khusus dikerahkan dengan melibatkan 2.500 petugas kepolisian—jumlah yang 25% lebih banyak dibanding pengamanan untuk pertandingan lain di Piala Dunia tersebut.
Di antara kelompok pendukung Argentina yang hadir di Meksiko, kelompok yang paling terkenal dan memiliki jumlah anggota terbanyak adalah pendukung Boca Juniors yang dipimpin oleh Jose Barritta alias “El Abuelo” (Sang Kakek), dengan total 14 anggota. Hadir pula pendukung dari klub Chacarita Juniors, Estudiantes, Vélez Sarsfield, Racing Club, Talleres, dan Nueva Chicago.
Perkelahian pertama antara pendukung Argentina dan suporter Inggris pecah di salah satu tribune Stadion Azteca.
Dalam bukunya yang luar biasa, El Partido (Pertandingan Itu), jurnalis Andres Burgo memuat kesaksian Claudio Varela—anggota barra brava (kelompok suporter garis keras yang terorganisasi) Boca Juniors.
Ia menceritakan bahwa segalanya bermula ketika seorang penata rambut bernama Roberto Giordano (yang meninggal dunia pada tahun 2024) melihat seorang jurnalis dari majalah Gente dan berkata, “Foto saya, saya akan mencuri bendera milik orang Inggris.”
Reaksi orang-orang Inggris tersebut dengan cepat memicu aksi saling dorong. Salah satu orang Argentina yang terlihat dalam foto-foto itu adalah Raul Gamez, sosok yang bertahun-tahun kemudian menjabat sebagai presiden klub Velez Sarsfield. Gamez mengatakan bahwa ia pergi ke Meksiko seorang diri.
“Saya memiliki hubungan yang baik dengan Bilardo (Carlos Bilardo, pelatih Timnas Argentina saat itu) dan para pemain,” ujar Gamez kepada harian Argentina, Clarin, beberapa tahun silam.
“Memang benar saya sempat berebut bendera dan melompat dari tribune, tetapi saya tidak ingat banyak detail lainnya. Saya juga bisa katakan bahwa perkelahian besar justru terjadi belakangan, di luar Stadion Azteca.
“Hari itu suasana terus-menerus kacau. Kami masuk ke stadion dua jam lebih awal dan memasang bendera-bendera kami di pagar pembatas. Salah satunya adalah bendera Argentina, yang lain bertuliskan ‘Cafiero for Governor’, dan satu lagi untuk Chacarita,” ucap seorang pendukung Chacarita dalam buku El Partido.
“Sejam kemudian, kami sadar bendera Argentina itu hilang. Orang-orang Inggris telah mencurinya. Kami lalu turun ke bawah, mengambil beberapa bendera Inggris, lalu kembali ke tempat kami semula.”
Sebagaimana dituturkan Gamez, bentrokan paling keras terjadi setelah pertandingan, sekitar 100 meter dari Stadion Azteca. Tidak ada dokumentasi foto. Namun menurut para saksi mata, insiden ini melibatkan anggota kelompok suporter Boca Juniors dan dua orang dari kelompok suporter Union de Santa Fe, serta sekelompok hooligan.
Dari keterangan Varela (dari kelompok suporter Boca Juniors) maupun Luis “Luchi” Flores (dari kelompok suporter Union), para penggemar Inggris itu bertarung dengan tangan kosong. Keduanya mengatakan, suporter Argentina melumpuhkan hooligan menggunakan botol.
“Belakangan, saat kami menyusuri jalan lebih jauh, mereka kembali dan menunggu kami. Saat itulah mereka mulai melempari kami dengan batu,” kata Varela.
“Kaki El Abuelo terkena lemparan batu. Kami kehilangan sebuah snare drum (drum samping), tetapi kami berhasil merampas dua bendera milik mereka—satu milik Chelsea dan satu lagi milik West Ham. Kami memenangi perkelahian itu!”
Tragedi Hillsborough
Tiga tahun kemudian (tepatnya pada 1989), dalam laga semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest, sepak bola Inggris mengalami hari paling kelam: 96 penonton tewas terhimpit dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai tragedi Hillsborough.
Pemerintah Inggris lantas memberlakukan serangkaian langkah tegas: peningkatan wewenang kepolisian, hukuman yang lebih berat, serta renovasi stadion.
Stadion diwajibkan menggunakan kursi penonton, kamera pengawas dipasang, pagar pembatas disingkirkan, dan akses masuk diperbaiki.
Negara memberikan pinjaman kepada klub-klub—yang kemudian melipatgandakan harga tiket—sementara jaringan satelit Sky muncul dengan membeli hak siar televisi dan menyuntikkan dana ke dalam olahraga ini. Dari situlah aksi hooliganisme pun perlahan mereda.
Bagaimana di Piala Dunia 2026?
Pengamanan yang lebih ketat, praktik kepolisian berbasis intelijen, dan pembatasan hukum membuat aksi kekerasan terorganisasi menjadi jauh lebih sulit dilakukan.
Pada saat yang sama, komersialisasi pertandingan mempersempit ruang bagi budaya tribune lama yang cenderung menyuburkan kelompok-kelompok hooligan.
Meskipun insiden-insiden sporadis masih terjadi, kekerasan terorganisasi berskala besar yang sempat menjadi ciri khas sepak bola Inggris pada era tahun 1970-an, 1980-an, dan awal 1990-an kini sebagian besar telah mereda.
Warisan dari transformasi ini mungkin memiliki implikasi bagi Piala Dunia FIFA 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko. Suporter Inggris masa kini umumnya jauh dari budaya hooligan yang pernah membentuk reputasi negara tersebut di mata dunia.
Banyak penggemar yang bepergian untuk menonton pertandingan berusia lebih tua, lebih mapan secara finansial (terutama mengingat harga tiket turnamen ini jauh lebih tinggi dibandingkan Piala Dunia sebelumnya), serta terbiasa dengan lingkungan stadion yang tertib dan memiliki aturan ketat.
Hooligan sepak bola memang masih ada, seperti saat Kejuaraan Eropa (Euro) 2024 di Gelsenkirchen, Jerman.
Saat itu, Kepolisian Jerman menyatakan bahwa sekelompok pendukung Serbia sedang bersantap di dalam restoran ketika sekelompok besar pendukung Inggris mencoba masuk stadion. Delapan orang ditangkap dan seorang penggemar dilarikan ke rumah sakit akibat cedera kepala.
Namun demikian, yang pasti kehadiran hooligan di Piala Dunia FIFA 2026 telah berkurang drastis, kendati bentrokan dan aksi protes berskala lokal masih terjadi di luar stadion tuan rumah.
Langkah-langkah tegas—seperti penerapan larangan menonton pertandingan bagi lebih dari 2.300 penggemar asal Inggris, peningkatan pengawasan di stadion, serta tingginya biaya perjalanan dan tiket—telah mencegah terjadinya kekerasan terorganisasi berskala besar.