TVRINews – Morrisville, Amerika Serikat

Di Piala Dunia 2026, teknologi AI tidak hanya akan membantu petugas pertandingan, tapi juga para pelatih dalam menganalisis tim maupun calon lawan.

Piala Dunia 2026 tidak hanya mencatat rekor terbesar dari sisi jumlah peserta (48) dan negara penyelenggara (tiga, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko) dalam sejarah, tapi juga tercanggih dari sisi teknologi. 

Jika teknologi garis gawang pertama kali diterapkan di Piala Dunia 2014 di Brasil dan asisten wasit video (VAR) mulai digunakan di Rusia 2018, kini pada 2026 giliran kecerdasan buatan (AI) akan melakukan debutnya di turnamen sepak bola terbesar sejagat tersebut. 

AI akan membuat turnamen sepak bola yang paling banyak ditonton ini beralih ke model data waktu nyata (real-time) dan simulasi 3D langsung untuk membentuk kembali strategi pertandingan dan operasional acara.

Dengan teknologi ini, setiap tim akan memiliki akses ke model AI mereka sendiri, memungkinkan analis untuk membandingkan pola permainan melalui klip video dan avatar (representasi grafis atau digital dari seseorang di dunia maya) 3D. 

Alhasil, pelatih akan dapat menilai bagaimana perubahan taktik dapat bekerja menghadapi lawan mereka berikutnya. Sementara, pemain akan menerima analisis pertandingan yang dipersonalisasi.

Sistem teknologi baru yang dinamai Football AI Pro ini mampu menganalisis ratusan juta titik data FIFA dan memproses lebih dari 2.000 metrik terkait sepak bola, termasuk tekanan, pergerakan, taktik, dan transisi. 

Dikembangkan oleh Lenovo yang menjadi mitra teknologi FIFA untuk Piala Dunia, sistem ini mampu memberikan wawasan berupa penjelasan teks, grafik, atau klip video pendek.

Berkat dukungan teknologi Hybrid AI, sistem ini menjanjikan kecepatan, reliabilitas, serta perlindungan privasi dan keamanan data. 

“Jika di masa lalu tim-tim kaya memiliki keuntungan, pada tahun 2026 ini AI akan mendemokratisasi data dan memberi semua orang kesempatan yang sama,” demikian tulis Bank of America (BofA) Global Research dalam catatan tanggal 6 Mei lalu.

Digelar bersama oleh tiga negara di Amerika Utara dengan 16 kota (masing-masing satu stadion) dan diikuti 48 tim dengan total pertandingan 104, Piala Dunia 2026 akan dimulai pada 11 Juni mendatang.

Sebelum turnamen digelar, para pemain akan dipindai secara digital dalam waktu sekitar satu detik untuk membuat versi 3D tubuh mereka yang akurat. 

Dengan data bentuk tubuh pemain ini diharapkan dapat membuat keputusan offside lebih akurat dan lebih mudah dijelaskan, memberikan informasi yang lebih baik kepada wasit dan membantu penggemar lebih memahami panggilan VAR.

Football AI Pro juga menduplikasi seluruh 16 stadion sehingga mereka memiliki “kembaran digital” alias salinan virtual langsung dari tempat tersebut. 

Dengan begitu, para petugas bakal dapat menggunakan sistem ini untuk memantau pergerakan penonton, risiko keamanan, dan data kesehatan pemain dari perangkat yang dapat dikenakan secara real-time.

SanDisk – merek global untuk perangkat penyimpanan data berbasis flash memory, asal Milpitas, California, AS – memperkirakan bahwa turnamen pada musim panas ini akan menghasilkan lebih dari 90 petabyte data, sekitar 45 kali lipat jumlah yang dihasilkan selama Piala Dunia 2022 di Qatar. 

Itu sudah termasuk unggahan media sosial, swafoto, interaksi seluler, dan aktivitas digital lainnya, yang totalnya dapat mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Sementara itu, BofA memperkirakan volume data akan mencapai rekor 2 exabyte, atau kira-kira setara dengan 45.000 tahun video 4K.

Tim riset BofA mengungkapkan, Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen pertama saat data itu sendiri merupakan produk utama. 

“Publik sedang menyaksikan simulasi besar-besaran secara real-time di mana dunia fisik dicerminkan oleh data ke dalam data dengan kecepatan beberapa petabyte per pekan,” ujar tim riset BofA.